Menuju konten utama

Peneliti LIPI: Remaja Mudah Terhasut karena Kurang Literasi Media

Orangtua dan sekolah seharusnya mengajarkan anak-anak tentang literasi dan logika media.

Peneliti LIPI: Remaja Mudah Terhasut karena Kurang Literasi Media
Deklarasi Gerakan Anti Hoaks. ANTARA FOTO/Suwandy

tirto.id - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Aulia Hadi, mengatakan, kurangnya literasi media menjadi penyebab kaum remaja mudah terhasut atau terprovokasi, terutama terkait isu-isu politik. Menurut Aulia, dalam membaca media seharusnya harus mengerti logikanya.

“Logika mereka bermedia masih kurang. Kenapa berita di online pendek-pendek, di koran dan majalah lebih panjang, itu ‘kan mereka harus tahu logikanya," kata Aulia Hadi di Kantor LIPI, Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2019).

Aulia menambahkan, kebanyakan kaum remaja tidak mencari tahu dulu dari mana sumber berita tersebut berasal, apakah dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Mereka mudah percaya dan langsung menelan secara mentah-mentah informasi tersebut.

Misalnya, sebut Aulia, informasi-informasi yang tersebar melalui WhatsApp, Twitter, atau sosial media lainnya, yang tidak jelas dari mana sumbernya, siapa pengirimnya, sehingga sulit dibuktikan kebenarannya.

Untuk itu, Aulia mengimbau, kepada para orangtua agar mengajarkan anak-anaknya mengenai literasi media, seperti siapa yang memproduksi informasi tersebut, juga jangan asal mendistribusikan informasi yang belum jelas. Maka tidak heran jika banyak berita bohong (hoaks) yang tersebar luas dengan mudah dan berpotensi menimbulkan perpecahan.

"Itu memang baru bisa diajarkan pas mereka remaja. Mungkin mereka yang masih anak-anak bisa, tapi menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana, ceritanya apa, seperti itu," papar Aulia.

Selain dari lingkungan keluarga, imbuh Aulia, literasi media juga bisa didapatkan melalui pendidikan sekolah. “Karena kan ketika keluarganya sibuk, berarti ‘kan harapannya sekolah bisa memberikan itu,” tutup Aulia.

Baca juga artikel terkait PENYEBARAN BERITA BOHONG atau tulisan lainnya dari Riyan Setiawan

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Iswara N Raditya