Peneliti Jelaskan Bagaimana Agama Mempengaruhi Perkembangan Anak

Oleh: Febriansyah - 12 Februari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Studi menemukan agama dikaitkan dengan peningkatan penyesuaian psikologis dan kompetensi sosial di antara anak-anak usia sekolah dasar
tirto.id - Apakah anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang beragama memiliki perkembangan sosial dan psikologis yang lebih baik daripada yang dibesarkan di rumah yang tidak beragama?

Dalam sebuah studi baru, para peneliti menemukan bahwa agama dapat menjadi "berkah campuran" bagi anak-anak ketika mereka bertambah tua.

Berkah campuran yang dimaksud adalah seorang anak yang menghasilkan keuntungan yang signifikan dalam perkembangan psikologis sosial mereka karena agama yang diajarkan. Tetapi, peneliti juga menemukan, agama bisa berpotensi menurunkan kinerja akademik, terutama dalam mengerjakan matematika dan sains.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Religions ini menganalisis data dari Studi Longitudinal Anak Usia Dini (ECLS). Mereka memeriksa efek kehadiran orang tua yang beragama dan bagaimana lingkungan keagamaan di rumah tangga memengaruhi anak mereka yang kelas 3.

Lingkungan beragama itu bisa berupa frekuensi diskusi tentang agama antara orang tua-anak dan konflik suami-istri terhadap agama. Para peneliti meninjau penyesuaian psikologis anak-anak, keterampilan interpersonal, perilaku masalah, dan kinerja pada tes standar seperti membaca, mengerjakan matematika, dan sains.

Penelitian yang dilakukan oleh John Bartkowski dan rekan-rekannya ini menemukan, kemampuan psikologis siswa kelas tiga dan kompetensi sosial berkorelasi positif dengan agama. Namun, kinerja siswa dalam membaca, mengerjakan matematika, dan tes sains memiliki dampak negatif yang dikaitkan dengan beberapa bentuk religiusitas orang tua mereka.

"Agama menekankan kode moral yang dirancang untuk menanamkan nilai-nilai seperti kontrol diri dan kompetensi sosial. Prioritas kelompok-kelompok keagamaan terhadap soft skill mungkin telah muncul dengan mengorbankan kinerja akademik, yang umumnya berkurang untuk anak-anak yang dibesarkan di rumah-rumah yang beragamaan jika dibandingkan dengan teman-teman non-religius mereka," kata Bartkowski.

Penelitian ini didasarkan pada studi sebelumnya yang dilakukan oleh Bartkowski dan rekannya. Studi tersebut adalah yang paling awal menggunakan data nasional untuk menganalisis dampak agama terhadap perkembangan anak.

Studi itu menemukan bahwa agama dikaitkan dengan peningkatan penyesuaian psikologis dan kompetensi sosial di antara anak-anak usia sekolah dasar (TK).

Bartkowski juga menemukan bahwa solidaritas agama di antara pasangan dan komunikasi antara orang tua dan anak terkait dengan karakteristik perkembangan positif sementara konflik agama di antara pasangan terkait dengan hasil negatif.

"Jika dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan anak, agama menempati tempat yang penting di desa itu. Bahkan, agama mungkin paling baik dipasangkan dengan sumber daya masyarakat lainnya seperti sebagai klub dan kegiatan sekolah yang berorientasi akademis," pungkasnya.

Bartkowski juga menyoroti satu batasan penting dalam studi mereka yang baru-baru ini diterbitkan. Menurut Bartkowski beberapa kelompok agama mungkin lebih efektif menyeimbangkan pengembangan soft skill dan keunggulan akademik daripada yang lain. Sayangnya, kumpulan data yang mereka miliki tidak berfokus pada afiliasi kelompok keagamaan tertentu.

“Jadi kami tidak dapat mengatakan apakah anak-anak dari latar belakang agama Katolik, Protestan, Mormon, Muslim, atau denominasi lain sangat mungkin untuk mencapai keseimbangan antara perkembangan psikologis sosial dan keunggulan akademik," jelas Bartkowski seperti dikutip UTSA.

Dia mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah beberapa kelompok agama lebih baik dalam menyeimbangkan pengembangan keterampilan interpersonal dan kemampuan akademik.


Baca juga artikel terkait AGAMA atau tulisan menarik lainnya Febriansyah
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Febriansyah
Editor: Yulaika Ramadhani
DarkLight