Penari Balet Pria, Dari Stereotip Banci Hingga Ancaman Mati

Ahmad Joudeh sedang melakukan memperagakan balet bersama seorang wanita. Foto/Marc Driessen
Oleh: Aulia Adam - 18 Maret 2017
Dibaca Normal 4 menit
Di Timur Tengah, menjadi penari balet pria lebih dekat dengan kutukan ketimbang keberuntungan.
Louis XIV alias Raja Maha Agung Louis adalah Raja Perancis paling lama menjabat pada masa Renaissance. Ia dilantik jadi Raja ketika berumur lima karena sang ayah, raja sebelumnya, wafat. Louis dikenal berkarakter periang dan suka menari sejak kecil. Sebagai bocah, kegemarannya menari didukung oleh Kardinal Mazarin, petinggi Vatikan keturunan Italia.

Masa itu, dukungan dari pemuka agama sangat penting bagi apa pun, termasuk seorang bocah pria yang suka menari. Kata-kata pemuka agama dianggap sebagai perpanjangan sabda Tuhan, yang bahkan mengalahkan titah raja-raja.

Dukungan itu yang membuat Louis kelak tak hanya dikenal sebagai Raja Perancis, tapi juga salah satu seniman paling berpengaruh dalam sejarah tarian balet. Pertunjukan pertama yang jadi debut Louis terjadi saat usianya baru 13 tahun. Kala itu ia menampilkan “Ballet de Cassandre” pada 1651. Dua tahun kemudian, sang raja yang beranjak remaja memerankan Apollo, Dewa Matahari, dalam pertunjukan “The Ballet of the Night” atau “Le Ballet de la Nuit” dalam bahasa Perancis.

Balet sendiri berarti sendratari, seni pertunjukan drama dan tari. Berasal dari kata “Ballet”, terminologi ini digunakan untuk menggambarkan sebuah pertunjukan drama yang ditarikan tanpa menggunakan dialog sama sekali.

Istilah ini dikenalkan oleh Catherine de Medici, Ratu Perancis keturunan Italia, seratus tahun sebelum Louis mengeksplorasi jenis tarian ini. de Medici kala itu menyambut duta besar Polandia dengan sebuah pertunjukan yang dinamainya “Ballet des Polonais”. Ia mengutip ballet dari kata balleto dalam bahasa Italia yang berarti tarian. Balleto berasal dari kata ballare yang artinya ‘menari’.

Dalam buku Dance, karya Jack Anderson (1974), Louis tak hanya diceritakan sebagai raja yang gemar menari dan bikin pertunjukan. Ia juga dinilai sebagai orang yang pertama kali mempromosikan balet melalui sanggar pertunjukannya, Academie Royal de Danse yang dibuat pada 1661. Sanggar ini yang kemudian menginspirasi sanggar-sanggar pertunjukan lainnya di dunia, sekaligus jadi jembatan balet dikenal di tanah Eropa lainnya.

Namun pada masa itu, tarian yang kini justru identik dengan wanita tersebut malah dilarang untuk ditarikan oleh selain pria. Selama dua puluh tahun sejak sanggar Louis dibikin, menurut Pensylvania Ballet—sebuah sanggar pertunjukan di Amerika Serikat yang berdiri sejak 1963—para penari balet pria harus memakai topeng dan pakaian perempuan untuk memerankan karakter-karakter perempuan dalam pertunjukannya. Larangan itu ada karena isu pro-kreasi yang nyalang gaungnya pada zaman tersebut. Perempuan dilarang melakukan banyak hal karena takut mengganggu fungsi reproduksi mereka sebagai "mesin pencetak manusia"—sebuah fakta yang menjadi asal-usul penindasan hak-hak asasi perempuan.

Baru pada 1681, perempuan diperbolehkan ikut dalam pertunjukan balet.

Louis XIV pasti tak menyangka kalau lima ratus tahun kemudian, justru pria yang dilarang menarikan tarian yang dikembangkannya itu. Tidak di seluruh dunia—setidaknya, di negara-negara yang keras terhadap stereotip pada penari pria.

Salah satunya seperti yang dialami Ahmad Joudeh, seorang keturunan Palestina yang tinggal di Suriah. Pria berumur 26 tahun ini adalah korban perang saudara di sana. Ia dan keluarganya terpaksa harus mengungsi dari rumahnya yang terkena bom, dan hidup mengontrak rumah kecil. Demi menghidupi dirinya, sang Ibu dan dua orang adik, Joudeh bekerja sebagai guru balet. Di waktu senggang, ia juga mengajari anak-anak panti asuhan dan down-syndrome untuk menari.

Tapi jadi penari bukan pekerjaan terpandang bagi pria di negerinya. Ada stigma feminin yang melekat pada tarian, sehingga di negeri Timur Tengah yang menjunjung tinggi patriarki, jadi penari balet pria lebih dekat dengan kutukan ketimbang keberuntungan.

“Kakiku pernah diancam akan ditembak oleh tentara ISIS,” kata Joudeh pada Nieuwsuur, media televisi di Belanda. Tentara-tentara itu tak suka pada Joudeh yang senang mengajari anak-anak di lingkungannya menari secara cuma-cuma. “Mereka terus mengirimkan pesan-pesan untuk membunuhku jika aku masih tinggal di sini, jika aku masih mengajari anak-anak. Mereka menganggap aku merusak anak-anak, (juga) merusak agama (Islam),” tambah Joudeh.

Sejak kecil, keinginannya jadi penari sudah ditentang ayahnya. “Ayahku melarang keras,” kata Joudeh. Ia ingat betapa sering ayahnya memukuli ia untuk menegaskan keengganan sang ayah punya anak laki-laki yang suka menari. Pernah sekali, ayahnya memukul kaki Joudeh hingga luka parah. Berhari-hari ia tak bisa menari.

“Dalam budaya kami, menjadi penari balet adalah hal terburuk yang anak laki-lakimu pilih untuk mencari nafkah.” dalam budaya kami, menjadi penari balet adalah hal terburuk yang anak laki-lakimu pilih untuk mencari nafkah,” kata Joudeh.

Saat berumur 17, akhirnya sang ayah mengusirnya dari rumah. Sang ibu yang lebih memilih membelanya akhirnya bercerai dengan sang ayah. Akibat perang, Ibunya yang seorang guru juga berhenti mengajar, membuat kondisi ekonomi mereka makin sulit. Itu sebabnya, Joudeh mengajar balet—satu-satunya yang ia bisa dan ketahui—sambil menyelesaikan kuliahnya di Enana Dance Theatre and The Higher Institute for Dramatic Arts di Damaskus.

Tekanan pada penari balet pria tak hanya dialami Joudeh. Dan kisah mereka tak terlalu sulit ditemui, sebab stigma-stigma yang keras membuat penari balet pria dari negeri-negeri Arab berjumlah sangat sedikit. Salah satunya yang juga sempat jadi sorotan media internasional pada 2012 lalu adalah Ayman Safiah.

Pria keturunan Palestina yang tinggal di Israel ini berkata pada BBC, “Aku satu-satunya murid pria dalam kelas balet di pusat budaya lokal di Kafr Yassif.” Kafr Yassif sendiri adalah nama daerah di Galilee, salah satu kota di Israel yang relasi Arab dan Yahudinya berjalan baik.

Tentangan-tentangan yang paling keras dirasakan Safiah datang dari kawan-kawannya yang Arab. Tentu saja tentangan itu berdasarkan agama. “Mereka bilang, pertunjukan balet itu melawan Islam. Mereka mengklaim kalau pria yang berpakaian ketat dan menari telanjang dada di panggung itu haram,” tambah Safiah.

Lebih beruntung sedikit dari Joudeh, ayah dan kakek Safiah malah mendukung keputusannya untuk berkarier di dunia sendratari, balet.



Sampai tiga puluh lima tahun yang lalu, menari sebenarnya salah satu budaya yang lekat di kampung-kampung Muslim di Timur Tengah. Dalam tulisannya di Huffington Post, reporter seni mereka Mallika Rao, menjelaskan bahwa negeri-negeri ini setidaknya punya satu jenis tarian yang selalu ada di setiap pernikahan. Misalnya attan di Afganistan; Razfa yang juga adalah sendratari seperti balet—di Uni Emirat Arab; atau muradah, tarian tradisional khusus perempuan di Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi.

Sentimen anti-menari baru mulai menyebar di Timur Tengah sekitar pada 1980-an, ketika elite Arab Saudi mulai mengekspor paham Wahabisme. Tapi dalam paham tersebut, masih ada perdebatan di kalangan ulama tentang apakah menari benar-benar haram bagi umat Islam. Paham yang lebih radikal seperti yang dianut ISIS atau kini yang mengklaim diri sebagai Islamic State alias Negara Islam, bahkan melarang tarian sama sekali. Sebab dianggap tak sejalan dengan hukum syariah.

Larangan-larangan tersebut tentu saja membuat hidup para pria yang gemar menari makin runyam. Tak banyak yang berani mengekspresikan dirinya seperti Joudeh dan Safiah. Tapi, sesungguhnya stereotip serupa tak hanya dialami penari-penari pria di negeri-negeri Arab, melainkan di seluruh dunia. Penari pria terutama balet, menurut penelitian Jennifer Fisher dari Universitas California, selalu distereotipkan dengan kata-kata: feminin, homoseksual, mucikari, manja, gay, ngondek, lemah, rapuh, halus, jontik, terlalu manis, berseni, dan banci.

Tentu ini jadi kontradiktif dengan sejarah balet yang padahal diciptakan oleh pria sendiri. Apalagi mengingat kalau Louis XIV didukung oleh Kardinal Mazarin, sebagai lambang agama pada masa itu. Sementara pria-pria lain di generasi ini seperti Joudeh dan Safiah malah dikerdilkan cita-citanya oleh agama pula.

Tapi, perjuangan merontokkan stereotip pada penari balet pria di zaman ini tak hanya dilakukan oleh dua pria Timur Tengah tersebut. Ialah Mikhail Baryshnikov, sang legenda balet dunia, keturunan Rusia-Amerika yang sudah dikenal sebagai penerobos stigma 'lembek' pada penari balet pria. Baryshnikov yang akrab dipanggil Misha, dikenal dengan banyak julukan termasuk ‘a man’s dancer’ karena citra kharismatiknya di kalangan penari wanita. Misha memang lebih dikenal dengan sikap-sikap apolitisnya, namun prestasinya di dunia sebagai penari balet pria seolah menegaskan kalau hasratnya dalam dunia tari tak berkaitan sama sekali dengan orientasi seksualnya.

Ia punya empat orang anak dari dua wanita yang pernah dekat dengannya. Salah satunya Jessica Lange, aktor kawakan Hollywood tiga generasi, yang kini dikenal milenial sebagai ratu drama dari seri American Horror Story.

Semangat yang sama pula ditunjukkan oleh Joudeh dan Safiah. Keduanya, ingin membuktikan pada dunia bahwa hasrat menari mereka—yang direpresi oleh lingkungannya—bukanlah ancaman. Bagi Joudeh, tariannya justru bentuk perjuangan melawan tindak kekerasan yang terjadi di tanah kelahirannya.

Serupa itu, Safiah juga senang keputusannya menjadi seorang penari balet pria telah ikut mendobrak stigma di lingkungan sekitarnya. Kini, di pusat kebudayaan tempat Safiah dulu berlatih sudah ada delapan atau sembilan pria murid baru. “Mereka berterima kasih padaku, dan bilang mereka bersyukur karena aku menunjukkan mereka jalan sekaligus membuka pintu,” katanya.

Baca juga artikel terkait BALET atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight