Penampilan Buruk Orang Asing dalam Film Indonesia Zaman Orde Baru

Ilustrasi Clapperboard. FOTO/iStockphoto
Oleh: Indira Ardanareswari - 4 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dunia perfilman Indonesia pernah dibanjiri bintang film asing, namun hanya menghasilkan film-film buruk.
tirto.id - Beberapa tahun ke depan, kehadiran bintang film asing dalam film-film Indonesia mungkin akan kembali marak. Belakangan, industri perfilman tanah air memang tengah ramai lagi. Hal ini berpotensi terjadi peningkatan peluang kerjasama dengan pihak asing, yang salah satunya menarik minat para pekerja seni dari negara tetangga untuk turut bermain dalam film-film buatan orang Indonesia.

Nasrul Suhaimin bin Saifuddin atau lebih dikenal dengan sebutan Bront Palarae adalah salah satu aktor asing dalam film Indonesia kiwari. Ia pertama kali dikenal publik tanah air pada tahun 2015 melalui serial televisi Halfworlds yang tayang di HBO Asia. Nama aktor asal Malaysia ini semakin terkenal setelah memerankan tokoh villain Pengkor dalam film Gundala besutan Joko Anwar.

Berkat film produksi gabungan Indonesia-Thailand tersebut, Bront Palarae mengaku kecanduan berkarier di Indonesia. Menurutnya, perfilman Indonesia memberinya lebih banyak tantangan dibandingkan dengan berakting untuk film-film Malaysia yang sudah dilakoninya selama hampir 15 tahun.

“Terus main di Indonesia itu semuanya terasa berbeda. Mulai dari dialog dan interpretasi juga berbeda jadi aku ngerasanya seru banget,” ujarnya.

Kehadiran bintang film asing di perfilman Indonesia bukan hal baru. Sepanjang periode 1980-an, industri film Indonesia banyak mengimpor bintang film asing dari negara-negara Barat, khususnya Amerika.

Berbeda dengan Bront Palarae yang dituntut beradaptasi dengan gaya penuturan film Indonesia, saat itu bintang film asing justru direkrut dengan segala keistimewaan sebagai pemeran utama. Kehadiran mereka seolah menjadi harapan terakhir agar film-film Indonesia yang kesulitan mendapat izin dari Badan Sensor Film Orde Baru tetap laku dijual ke bursa film internasional.


Kelahiran Film Kelas B

Pada tahun 1950-an, Djamaluddin Malik, pengusaha asal Minang, pernah merintis kerjasama antara perfilman Indonesia dengan perusahaan asal Filipina dan India. Lewat kerjasama itu, ia yakin dapat memperbaiki mutu film Indonesia.

Alasan perbaikan mutu kembali menjadi motif produser film Indonesia tahun 1970-an dengan mencari mitra sampai ke Eropa. Pada 1971, tercatat ada dua produksi gabungan dengan dua perusahaan film Italia. Salah satunya berjudul The Virgin of Bali yang berkisah tentang aksi heroik turis Inggris melawan kelompok penjahat pemburu harta karun di Pulau Dewata.

Berkat masifnya pengaruh asing dalam bidang produksi, unsur kekerasan dan seksualitas tak ayal menjadi tema umum dalam perfilman tanah air sepanjang dekade 1970-an. Menurut Garin Nugroho dan Dyna Herlina dalam Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2013: hlm.177), kondisi serupa juga terjadi di ranah televisi. Tercatat sejak tahun 1969 hingga 1981, TVRI menyiarkan tidak kurang dari 87 film serial asal Amerika bertema kriminalitas.

Data tersebut bisa juga berarti bahwa jumlah film impor bertema seks dan kriminalitas yang dapat ditonton di bioskop seluruh Indonesia begitu melimpah. Menurut manuskrip koleksi Sinematek Indonesia berjudul 90 Tahun Bioskop di Indonesia (1990: hlm.72) yang disusun SM Ardan, film Amerika yang bertutur tentang cinta dan kriminalitas menjadi jenis cerita yang paling disukai penonton Indonesia berdasarkan hasil survei nasional tahun 1971.

Alih-alih meningkatkan mutu produksi dalam negeri, kecenderungan ini malah melahirkan lebih banyak film kategori Kelas B yang memiliki mutu seadanya. Beberapa perusahaan film lokal seperti Rapi Film bahkan tidak segan bereksperimen terhadap unsur kebudayaan lokal dan bentuk-bentuk kekerasan yang mengekspos banyak darah. Hasil dari percobaan ini melahirkan film Jaka Sembung Sang Penakluk (1981) yang diadaptasi dari komik kepahlawanan karya Djair Warni.


Melalui makalah “Mondo Macabro as Trashy/Cult Film Archive: The Case of Classic Indonesian Exploitation Cinema,” Ekky Imanjaya menjelaskan bahwa film-film sepeerti itu umumnya sangat dibenci kritikus film dan otoritas sensor. Bahkan, sejak kemunculannya di pengujung 1970-an, pemerintah Orde Baru sudah berusaha menyingkirkan film-film tersebut karena dianggap tidak mewakili suara film nasional.

“Film-film ini, yang sering mengandung fantasi dan eksploitasi besar-besaran kekerasan dan seksualitas, tidak dianggap oleh rezim Orde Baru sebagai karya yang mewakili Indonesia,” tulisnya.

Meski demikian, film seperti Jaka Sembung mampu mendatangkan keuntungan komersial yang besar. Hikmat Darmawan dalam artikel “Indonesian Cinema as Part of The World Cultural Heritage,” mengemukakan bahwa film yang dibintangi Barry Prima itu laku di pasar film Cannes tahun 1982 dengan keuntungan mencapai 67 ribu dolar AS.


Menggaet Penonton Internasional

Kesuksesan Jaka Sembung membuat beberapa produser mengirimkan film-filmnya ke pasar film Cannes dan American Film Market khusus film-film kelas B. Sepanjang 1980-an, setidaknya ada tiga produser yang aktif menempuh jalur distribusi ini. Mereka adalah Gope T. Samtani (Rapi Films), Raam Punjabi (Parkit Film), dan Raam Soraya (Soraya Intercine Film).

Penonton di Eropa Barat dan Amerika Serikat antusias terhadap film yang sering dicela kritikus sebagai trash film atau film sampah. Menurut Ekky Imanjaya dalam makalahnya yang lain “The Other Side of Indonesia: New Order’s Indonesian Exploitation Cinema as Cult Films”, Sejumlah film yang dibintangi Barry Prima seperti Primitif dan Pasukan Berani Mati sangat populer di Australia pada awal 1980-an. Informasi ini ia dapatkan dari wawancaranya dengan sejumlah distributor film-film Kelas B.

Pemaparan mendalam tentang distribusi film-film ringsek dari Indonesia yang diterbitkan dalam jurnal Colloquy (2009: hlm.146) itu, juga menyinggung betapa besarnya keinginan produser untuk memotong jarak antara penonton dari negara Barat dengan tema-tema lokal. Demi tujuan ini, beberapa film bahkan rela membayar mahal bintang film dari negara-negara Barat meskipun mereka bukan pemain film profesional.

Kepada The Jakarta Post, Ekky membeberkan bahwa orang asing sangat menyukai keganjilan dalam film-film Indonesia. Selain Jaka Sembung, film lain berjudul Leak (1981) yang disutradarai oleh Tjut Djalil sempat menjadi salah satu film Kelas B paling laris. Film ini mempertontonkan tokoh perempuan asal Amerika bernama Cathy Kean yang tinggal dan belajar ilmu gaib di Bali.

“Karakter utama wanita, yang adalah orang asing, sedang belajar sihir hitam mistis Bali yang disebut ‘Leak’. Dalam satu adegan, kepala wanita itu meninggalkan tubuhnya melalui leher dan penonton dapat melihat dengan jelas ususnya,” tutur Ekky.


Tujuh tahun kemudian, Tjut Djalil kembali membuat film yang diproduksi oleh Soraya Intercine Film. Ia mendatangkan Barbara Anne Constable, bintang film asal Australia untuk bermain dalam film Pembalasan Ratu Laut Selatan (1988). Constable hingga saat ini masih dielu-elukan oleh penggemar cult-film di Amerika sebagai Lady Terminator.

Aktris ini menuturkan dalam wawancara dengan peneliti dan kurator film Andrew Leavold bahwa ia sebenarnya bukan pemain film terlatih. Kariernya di dunia akting bermula dengan menjadi penari dan model di Hong Kong. Dari sana ia mendapat beberapa kontrak film internasional, termasuk Lady Terminator yang merupakan judul internasional untuk Pembalasan Ratu Laut Selatan.

“Tidak lama sebelum saya kembali ke Hong Kong, saya mendapatkan casting untuk Lady Terminator. Mereka mengatakan akan mengambil gambar di Indonesia, Jakarta, dan pada dasarnya itu adalah versi jiplakan dari The Terminator,” kata Constable.

Sampai awal tahun 1990-an, strategi menggaet penonton internasional lewat wajah-wajah bule masih terus berlangsung. Malah popularitas film kelas B di Amerika Serikat turut menarik produser-produser dari negeri itu untuk turut bergabung.

Produksi gabungan dengan perusahaan Amerika Serikat berhasil memperkenalkan ahli bela diri Cynthia Rothrock kepada penonton Indonesia. Bintang film aksi yang lebih dulu populer dalam film silat Hong Kong itu pernah membintangi beberapa produksi film aksi kriminal berlatar Indonesia, seperti Pertempuran Segitiga (1990), Tiada Titik Balik (1991), dan Bidadari Berambut Emas (1992).

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Irfan Teguh
DarkLight