Penambangan dan Pemerintahan Korup Ancam Rimba Amazon

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 8 September 2017
Dibaca Normal 3 menit
Mulai dari pencemaran sumber air dan makanan oleh merkuri, makin masifnya deforestasi, hingga konflik berdarah antara penduduk lokal vs korporasi tambang.
tirto.id - Hakim Rolando Spanholo dari Pengadilan Federal Ibukota Brasilia pada Rabu (30/8/2017) menyampaikan keputusan penting: praktik penambangan komersil di kawasan National Reserve of Copper and Associates (Renca) di negara bagian Amapa dan Para, Amazon bagian timur, resmi ditunda. Sebuah kabar yang membuat aktivis lingkungan bernapas lega, namun membuat geram pemerintah Brazil selaku pembuat kebijakan.

Presiden Michel Temer mempublikasikan rencananya pada awal Agustus silam dan segera memancing suara penolakan karena Renca berstatus kawasan hutan lindung sejak 1984, demikian dalam catatan DW. Renca memiliki hamparan hutan perawan yang luasnya mencapai lebih dari 46.000 km2 dan menjadi rumah bagi suku asli Aparai, Wayana, dan Wajapi. Lebih dari dua pertiganya digolongkan sebagai hutan konservasi dan hutan adat. Sisa 31 persennya dipakai untuk penelitian dan eksplorasi.

Renca memiliki potensi alam berupa cadangan emas, mangan, besi dan tembaga. Penambangnya selama ini hanya dikelola oleh negara dalam tingkat rendah, bukan swasta, meski penambang liar juga beroperasi di sekitar daerah tersebut. Argumen Temer yang ingin meningkatkan ekonomi Brazil yang sedang terpuruk mendapat perlawanan keras dari banyak pihak: Greenpeace, World Wildlife Fund (WWF), Amazon Watch, selebriti, hingga tokoh Katolik berpengaruh di Brazil.

Alasannya sederhana: selain melindungi hak hidup dan sumber penghidupan orang-orang suku lokal dan kekayaan biodiversitas di dalamnya, keberadaan hutan hujan tropis Amazon amatlah penting bagi masa depan iklim global.

Baca juga: Donald Trump dan Mereka yang tak Percaya Perubahan Iklim


Hutan hujan tropis Amazon merentang sekitar 5.500.000 kilometer persegi, menjadikannya sebagai yang terluas di muka bumi serta merepresentasikan separuh hutan hujan dunia. Ada sembilan negara yang teritorinya mencangkup hutan dengan jumlah spesies terkaya dan terbentuk 55 juta tahun yang lalu itu. Paling luas adalah Brazil dengan luas 60 persen, diikuti Peru 13 persen, Kolombia 10 persen, sisanya untuk Venezuela, Ekudor, Guyana, Suriname, dan Guyana Perancis.

Ancaman paling utama bagi eksistensi Amazon adalah deforestasi. Prosesnya dimulai sejak awal 1960-an dan mulai meningkat pada 1970-an akibat munculnya proyek jalan Trans-Amazon. Antara tahun 1991-2000, total area yang di-deforestasi meningkat dari 415 ribu km2 menjadi 587 ribu km2. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang atas nama banyak kepentingan, mulai dari pembukaan lahan perkebunan hingga padang rumput untuk industri peternakan.

Pertambangan jadi ancaman terbesar kedua Amazon. Dalam catatan WWF, Amazon diketahui memiliki potensi tambang yang potensial, meliputi tembaga, timah, nikel, bauksit, mangan, bijih besi, juga emas. Selain menambang sendiri, pemerintah negara-negara di kawasan, terutama Brazil, memberikan insentif pajak untuk proyek skala besar atas nama pembangunan negara. Seiring perkembangan teknologi pertambangan yang makin maju, skala pengerukan sumber daya alam di Amazon juga kian masif.

WWF mengingatkan bahwa pertambangan menimbulkan dampak buruk bagi aliran air di area sekitar pertambangan. Sumber air jadi tercemar akibat polusi pertambangan terbuang (atau dibuang) ke hulu sungai, sehingga efek berantainya juga luas terutama bagi warga yang menggantungkan sumber airnya dari mata air sekitar tambang. Suku-suku asli kerap jadi korban pertama atas turunnya kualitas bahan pangan akibat praktik tersebut.

Baca juga: Sebait Maaf untuk Orang-orang Adat


Praktik pertambangan juga otomatis mengawali dan mengakibatkan proses deforestasi. Di Provinsi Carajas Mineral, Brazil, terdapat salah satu cadangan tembaga terbesar di dunia di mana bijih besi, mangan, dan emas sudah terlebih dahulu ditemukan di sana. Akibat eksplorasi tambang, pohon-pohon di sekitar area dibabat habis dan kayunya dijadikan arang untuk bahan bakar pengolahan besi kasar. Deforestasinya mencapai 6.100 km2 per tahun.

Polutan yang paling terkenal untuk digunakan dalam penambangan emas adalah merkuri. Konsentrasi merkuri lazim ditemukan di perairan sekitar tambang atau di area hilir sungai. Ikan serta biota perairan air tawar lain jadi turut kena polusi, dan otomatis berpengaruh pada perekonomian maupun konsumsi penduduk lokal. Faktanya berkata tegas: 90 persen ikan yang ditangkap oleh penduduk desa di selatan pertambangan emas Sungai Tapajó, Brazil, terkontaminasi oleh merkuri. Bahan kimia ini amat berbahaya bagi sistem syaraf maupun janin jika masuk ke dalam tubuh.

Tak lupa, aktivitas pertambangan yang tak terkontrol juga akan merampas lahan masyarakat adat. Bahkan kerap muncul penolakan sebelum perampasan terjadi, dan ujung-ujungnya akan meningkatkan skala konflik. Di negara bagian Roraima, masih di Brazil, menyulut konflik antara pengelola dan pekerja tambang emas dengan orang-orang Indian asli Yanomomo.

Baca juga: Hutan Masyarakat Adat Makin Terimpit Lahan Sawit

Infografik Rencana Tambang Di Amazon

Risiko Nyawa Aktivis Lingkungan

Pertambangan sebagai musuh baru perlu dilawan dengan kekuatan yang baru pula. Sayangnya, menjadi aktivis lingkungan di Brazil atau Amerika Latin pada khususnya dan secara global pada umumnya adalah pekerjaan dengan risiko tingkat tinggi. Taruhannya adalah nyawa. Sudah banyak kasus pembunuhan aktivis lingkungan, di mana pelakunya adalah orang-orang suruhan perusahaan tambang maupun kapitalis bidang ekstraksi alam lainnya.

Global Witness, lembaga swadaya yang bergerak di bidang anti-eksploitasi lingkungan, merilis data riset bahwa pada 2016 setidaknya terdapat 200 kasus pembunuhan aktivis lingkungan di terjadi di 24 negara. Data tersebut menunjukkan kenaikan kuantitas kasus jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Global Witness mendaulat Amerika Selatan sebagai kawasan dengan kasus pembunuhan aktivis pembela lingkungan tertinggi di dunia. Isu eksploitasi tambang, agrobisnis, dan penebangan liar merupakan problem utama yang memicu konflik dan berujung terbunuhnya aktivis lingkungan. Dari 24 negara, Brazil dan Kolombia di Amerika Selatan merupakan kawasan dengan kasus pembunuhan aktivis lingkungan terbanyak. Pada 2014, misalnya, 29 aktivis lingkungan Brazil dibunuh dengan cara yang mengenaskan.

Baca juga: Pembantaian Para Aktivis Lingkungan


Billy Kyte, anggota Global Witness, menjelaskan bahwa kasus pembunuhan aktivis kerap terjadi di daerah terpencil. Pembunuhan akan mengalami peningkatan, terlebih ketika kasus-kasus tersebut seringkali tidak ditindaklanjuti oleh sistem peradilan pidana setempat. Hal itu menyebabkan serangan terhadap para aktivis menjadi lebih berani.

"(Pembunuhan terjadi) terutama (pada) aktivis yang berstatus sebagai anggota komunitas adat. Karena banyak lahan adat mereka tumpang tindih dengan sumber daya mineral yang terkandung di dalamnya, ditambah juga komunitas adat seperti itu kerap tidak memiliki akses terhadap perlindungan hukum," kata Kyte.

Saat ini Brazil sedang berada di tengah skandal korupsi terbesar dalam sejarah negara itu. Sejak tahun 2014 penyelidikan federal bernama Operation Car Wash telah berhasil menangkap elit-elite pengusaha dan politisi berpangkat tinggi dan mengungkap suap senilai jutaan dolar yang ditransaksikan dalam persekongkolan jahat dengan perusahaan minyak negara Petrobas. Kini tak hanya sepertiga menteri kabinet yang sedang diselidiki karena dugaan korupsi. Temer pun masuk daftar penyelidikan.

Baca juga: Skandal Daging Brazil yang Membuat Resah Dunia


Temer diduga mengizinkan pemberian suap kepada Eduardo Cunha
, mantan ketua majelis rendah Kongres yang mendekam di balik jeruji besi karena skandal korupsi. Demonstrasi di jalanan Rio de Janeiro, Sao Paulo dan Brasilia pun muncul pada bulan Mei lalu untuk menuntut pengunduran diri Temer. Sayang, Temer yang keras kepala menolak tuntutan ribuan massa aksi.

Sejak tubuh pemerintahan Brazil berubah tak stabil, kondisi ekonominya juga turut anjlok. Tahun lalu Brasil mencatatkan kinerja terburuknya dalam 25 tahun terakhir setelah lembaga statistik negara (IBGE) melaporkan penurunan ekonomi sebesar 3,8 persen pada 2015. Temer dinilai para pengamat sedang frustasi sebab sampai perlu untuk membuat kebijakan komersialisasi tambang yang bertentangan dengan UU lingkungan di Brazil sendiri.

Sejarah pertambangan di Brazil kerap menimbulkan dampak yang serius bagi warganya sendiri. Temer barangkali perlu mempelajari perkara ini dengan lebih dalam dan bijak lagi. Bahwa pengerukan SDA di wilayah sesensitif Amazon punya risiko maha besar yang bakal mengorbankan tak hanya penduduk setempat, namun juga warga seluruh dunia.

Baca juga artikel terkait PERUSAHAAN TAMBANG atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf