Pemprov DKI Bantah Tambah Saham Delta Djakarta

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 13 November 2020
Sekretaris Badan Pembinaan BUMD Provinsi DKI Riyadi sebut data yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia (BEI) itu tidak benar.
tirto.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membantah telah menambah kepemilikan saham emiten PT Delta Djakarta (DLTA). Menurut Sekretaris Badan Pembinaan Badan Usaha Milik Daerah Provinsi DKI Jakarta Riyadi data yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia (BEI) itu tidak benar.

"Kalau menurut saya ini hoaks. Bagaimana mungkin, APBD sedang terkontraksi kok malah beli saham, di tempat saham Pemprov DKI Jakarta justru mau dijual,” ucap Riyadi kepada repoeter Tirto dalam pesan singkat, Jumat (13/11/2020).

Riyadi memastikan Pemprov DKI Jakarta sama sekali tidak memiliki rencana untuk itu. Sebaliknya rencana Pemprov DKI tetap sejalan dengan janji Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sejak awal kampanye untuk melepasnya.

“Setahu saya tidak ada rencana Pemprov DKI Jakarta menambah saham di PT Delta Jakarta. Terkait rencana menjual saham Pemprov DKI Jakarta di PT Delta, tetap berjalan dan saat ini dalam proses,” ucap Riyadi.

Informasi penambahan saham ini dipublikasikan pada Rabu (9/11/2020). Dalam pengumuman BEI, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menambah kepemilikan saham PT Delta Djakarta (DLTA) per Oktober 2020 dari 26,25 persen menjadi 58,33 persen. Naik 32,08 persen poin.

Di saat yang sama kepemilikan saham perusahaan San Miguel Malaysia (L) PTE.LTD justru turun dengan jumlah yang sama dengan naiknya kepemilikan saham Pemprov yaitu 32,08 persen poin. Jumlah saham San Miguel kemudian menjadi 26,25 persen atau posisi awal Pemprov DKI Jakarta.

Pihak DLTA saat dikonfirmasi tidak memberikan jawaban. Pesan singkat yang dikirim Tirto dan panggilan telepon tidak direspons.

===

Adendum:

Naskah ini mengalami pembaruan pada bagian judul pada Jumat, 13 November 2020, pukul 20.10 WIB.




Baca juga artikel terkait DELTA DJAKARTA atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Abdul Aziz
DarkLight