Menuju konten utama

Peminat Baju Bekas, Dari Kere Hingga Parlente

Bisnis pakaian bekas di Indonesia sudah berlangsung sejak bertahun-tahun yang lalu. Ada permintaan, ada penawaran. Bisnis ini tak hanya menyasar kelas menengah ke bawah, tapi juga kalangan atas.

Peminat Baju Bekas, Dari Kere Hingga Parlente
Sejumlah calon pembeli melihat pakaian bekas impor di Pasar Senen, Jakarta, Minggu (1/2). Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak membeli pakaian bekas impor karena dari hasil uji laboratorium pada sampel pakaian bekas impor tersebut terdapat berbagai bakteri yang bisa membuat kulit gatal-gatal sampai terkena penyakit saluran kelamin. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/mes/15.

tirto.id - Di Indonesia sendiri, penjualan pakaian bekas sudah marak sejak puluhan tahun silam. Sebelum bisnis pakaian bekas ramai di Jakarta, beberapa daerah terlebih dahulu membisniskan pakaian bekas sebagai ladang mencari pundi-pundi rupiah. Semua terjadi karena ada kebutuhan pembeli. Sumatera, Batam, Kalimantan serta Sulawesi bisa dibilang lebih dulu memulai bisnis rombengan ini dibanding dengan Jakarta.

Dulu pedagang baju bekas ini melabeli toko mereka dengan embel-embel baju impor. Tujuannya biar kesan kumuh tak tersemat di toko mereka, pembeli pun tak perlu malu jika berbelanja di toko ini. Namun seiring perkembangan zaman dan banjir merek-merek ternama, pasar bekas pun menjadi incaran. Sebut saja seperti di Jakarta, Pasar Senen belakangan orang lebih sering menyebutnya dengan Poncol. Penyematan ini pun identik dengan barang-barang bermerek dengan harga terjangkau.

Munculnya pelabelan nama pakaian impor dikarenakan memang pakaian-pakaian itu datang dari luar negeri menggunakan karung-karung dan masuk melalui pelabuhan. Dalam data Analisa Impor Pakaian Bekas Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan Tahun 2015 menyebutkan, Amerika Serikat adalah negara eksportir terbesar pakaian bekas dunia dengan pangsa pasar mencapai 15,6 persen.

Urutan kedua dipegang oleh Inggris, dengan pangsa pasar 13,9 persen dan diikuti oleh Jerman sebesar 11,5 persen. Eksportir ketiga negara itu mengalami peningkatan sepanjang 2009 hingga 2003. Pengiriman pakaian bekas itu juga yang masuk ke Indonesia. Pada tahun 2013, Indonesia menjadi negara importir pakaian bekas terbesar ke 152 dengan nilai $0,2 juta.

Deretan Pasar Pakaian Bekas

Di Indonesia maraknya serbuan baju bekas sebetulnya mulai jadi perbincangan ketika Kementerian Perdagangan melakukan penelitian pada 2015 lalu. Hasilnya, ditemukan 216.000 bakteri terdapat dalam pakaian bekas dan kemudian keberadaan bisnis ini pun menjadi sorotan. Namun jauh sebelum itu, pasar pakaian bekas sudah menjamur terlebih dahulu di Indonesia.

Misalnya Pasar Senen di Jakarta Pusat, merupakan sentra perdagangan pakaian bekas di Jakarta. Pembelinya mayoritas anak-anak muda dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar sekolah menengah atas hingga kalangan mahasiswa. Kedatangan mereka adalah mencari pakaian bermerek dengan harga yang tentunya jauh lebih murah ketimbang aslinya.

Harga paling kentara yaitu kemeja Tommy Hilfiger dengan kondisi 80 persen masih bagus cuma dihargai Rp30 ribu. Seperti juga jacket Outdoor merek The North Face, harganya bisa dinegosiasi, paling bisa diperoleh dengan membayar Rp80 ribu. Padahal jika beli di tempat aslinya, harganya bisa mencapai jutaan. Tentunya harga itu bukan barang baru melainkan barang bekas pakai tetapi kondisinya masih layak pakai.

Selain Pasar Senen, Pasar pakaian bekas tersohor juga terdapat di daerah Bandung, Jawa Barat. Pasar itu adalah Cimol Gedebage. Di pasar itu juga banyak para pengunjung mencari buruan barang barang bermerek dengan kondisi layak pakai. Harganya pun bisa disesuaikan dengan kocek pembeli. Salah seorang pedagang di Pasar Gedebage bernama Willy mengatakan jika pasar Cimol Gedebage memang tersohor sebagai sentra pakaian bekas di Bandung, Jawa Barat. Pembelinya pun bukan hanya warga Bandung, melainkan dari berbagai daerah yang sengaja menyambangi pasar Gedebage untuk memburu pakaian bekas bermerek.

“Mereka cari barang-barang yang branded,” ujar Willy.

Jika di Bandung ada Pasar Cimol Gedebage, di Yogyakarta buat memburu pakaian bekas bisa datang ke Pasar Senthir. Pasar loakan di Kota Pelajar ini juga menjual pakaian bekas. Konsumennya bisa di tebak, kebanyakan yang datang buat memburu pakaian bekas di Pasar Senthir adalah para mahasiswa. Harganya cocok sesuai dengan kantong anak kos.

Di Medan, buat sentra pakaian bekas terdapat di Pasar Pajak Melati. Tempat ini merupakan pasar tradisional yang juga menjual bahan-bahan kebutuhan pokok. Namun yang membuat Pasar Pajak Melati berbeda dengan pasar tradisional lainnya di kota medan, ada kios-kios menjual barang bekas impor dengan harga murah. Yang unik kios-kios barang bekas itu hanya dibuka pada hari Selasa, Jumat dan Minggu. Kalau datang diluar tiga hari itu, hanya beberapa pedagang saja yang membuka kios mereka.

Di Jawa Timur, sebetulnya sentra pakaian bekas terdapat dibeberapa daerah. Salah satu namanya tak asing adalah Pasar Gembong terletak di Kota Surabaya. Di pasar ini, segala jenis barang-barang bekas mulai dari kaos, baju dan tas bisa diperoleh dengan harga miring. Sementar di Bali, penjualan barang bekas berupa pakaian juga tersedia di Pasar Kodok. Di pasar ini, semua barang bekas tersusun rapih dan sama sekali tak terlihat seperti barang bekas pakai. Harga jual barang-barang bekas itupun terkenal murah, saking murahnya pasar ini juga sering didatangi turis bule.

Demi Gaya Hidup

Bisnis baju bekas tidak hanya ada di Indonesia. Di sejumlah negara, bisnis baju bekas juga berkembang dengan baik. Ini dikarenakan ada permintaan. Baju Bekas Bos, begitu istilah lazim didengar bagi para pemburu pakaian bekas. Pemburunya pun tak hanya dari kelas bawah, tapi juga kelas atas..

Ingvar Kamprad salah satunya, sosok miliader pediri perabot kelas dunia IKEA ini rupanya hobi belanja pakaian bekas. Di balik harta kekayaannya mencapai Rp951 triliun, Kamprad rupanya seorang bos yang hobi memakai baju bekas bos (Babebo). Orang kaya nomor empat didapuk majalah Forbes ini tak malu-malu membeli pakaian bekas dan menggunakannya. Kepada The Guardian, Kamprad hanya bilang tidak ada larangan untuk membeli pakaian bekas, meski untuk orang kaya sekalipun.

"Saya tidak berpikir apa yang saya kenakan tidak boleh dibeli di pasar barang bekas. Itu berarti barang bekas tersebut adalah bagus," kata Kamprad.

Di Indonesia, orang-orang seperti Kamprad sebenarnya juga banyak. Mereka menjaga gengsi dengan tetap mengenakan pakaian bermerek tapi seken alias bekas. Toh kalau dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak akan ada yang tahu.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, Daisy Indira Yasmine mengatakan, kalangan menegah ke atas sebenarnya juga ikut menikmati berburu pakaian bekas. Mereka biasanya memburu pakaian bekas ini ketika ada Great Sale, bukan tempat-tempat ala Pasar Senen. Pendeknya, memburu barang bekas di tempat elit.

“Itu sebenarnya semata-mata hanya gaya hidup," ujar Daisy melalui sambungan telepon kepada tirto.id.

Bisnis pakaian bekas bukan semata-mata muncul karena ada permintaan dari si miskin yang tak mampu membeli pakaian baru. Bisnis ini juga muncul karena ada kebutuhan terhadap gengsi. Atau karena si kaya ingin berhemat, seperti halnya Kamprad.

Baca juga artikel terkait BISNIS BAJU BEKAS atau tulisan lainnya dari Arbi Sumandoyo

tirto.id - Mild report
Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Arbi Sumandoyo
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti