Pemerintah Segera Bangun Rumah untuk Korban Tsunami di Lamsel

Oleh: Dewi Adhitya S. Koesno - 29 Januari 2019
Dibaca Normal 1 menit
Kementerian PUPR bersama pemkab Lampung Selatan segera merealisasikan pembangunan rumah untuk warga korban terdampak tsunami Selat Sunda di Lamsel.
tirto.id - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) secepatnya akan merealisasikan membangun rumah bagi para korbaan yang terkena tsunami Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan.

Pembangunan rumah atau hunian tetap itu akan dilakukan dan disepakati KemenPUPRbersama Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.

Kepala Satgas Pembangunan Infrastruktur dan Hunian Bagi Pengungsi, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung serta perwakilan Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR Iriyadi menyatakan, data rumah rusak berat yang diterima Kementerian PUPR sebanyak 491 unit.

"Memang yang kami catat sama dengan data yang bapak (Sekda) sampaikan. Namun ketika rapat di Jakarta kemarin, yang terkunci hanya 491 unit. Angka ini yang muncul sewaktu kunjungan Pak Presiden. Nanti ini perlu kita diskusikan apakah masih bisa direvisi," kata Iriyadi saat rapat koordinasi lanjutan terkait penanganan infrastruktur di wilayah terdampak tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan, Senin (28/1/2019).

Angka itu, kata dia, berdasarkan data yang oleh disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saat kunjungan Presiden Joko Widodo pascatsunami Selat Sunda awal Januari lalu.

Karenanya, ia berharap Pemkab Lampung Selatan bisa secepatnya menentukan lokasi yang akan dijadikan hunian tetap bagi korban tsunami di Lamsel.

"Kami ingin memastikan penentuan lokasi untuk hunian tetap kapan bisa tersedia, begitu lahan ada, Kementerian PUPR langsung mengadakan lelang. Maka, sangat ditunggu kecepatan penyediaan lahan tersebut," ujarnya.

Selain itu, Iriyadi pun meminta Pemkab Lamsel untuk memastikan semua masyarakat yang terdampak tidak kembali ke lokasi semula setelah proses rehabilitasi dan rekonstruksi selesai dilakukan.

"Karena kenyataan di lapangan, ada beberapa yang rumahnya tidak terlalu mengalami kerusakan dan tetap tinggal di bibir pantai. Jangan sampai ini menjadi kecemburuan sosial, ini yang juga harus menjadi pertimbangan," jelasnya.


Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan Fredy SM menyebutkan rapat koordinasi antara Pemkab Lampung Selatan bersama pihak Kementerian PUPR merupakan upaya percepatan dalam mewujudkan hunian tetap untuk merelokasi warga yang rumahnya rusak berat akibat diterjang gelombang tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018.

Saat ini, ujar Fredy, pihaknya terus mengupayakan lahan yang bisa dijadikan sebagai lokasi pembangunan hunian tetap untuk warga yang rumahnya hancur diterjang tsunami Selat Sunda pada akhir tahun lalu.

Dia mengakui ketersediaan lahan memang menjadi kendala utama bagi pemerintah untuk membangun hunian tetap itu.

"Kalau di sekitar Kalianda, Pemkab Lampung Selatan punya banyak lahan, tapi masyarakat maunya tidak jauh-jauh dari lokasi semula," ujar Fredy.

Menurutnya, tidak banyak lahan yang tersedia di lokasi yang dekat dengan permukiman warga yang terkena dampak tsunami yang bisa dibebaskan untuk lokasi pembangunan hunian tetap.

Berdasarkan data tim di lapangan, lanjutnya, terdapat 537 unit rumah rusak berat yang sudah di SK-kan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati LampungSekatan Nanang Ermanto. Data jumlah rumah itulah yang nanti menjadi acuan untuk membangun hunian tetap.

"Sebanyak 537 unit rumah ini yang sudah kita kunci, tapi ada juga 195 warga yang punya lahan sendiri sudah mengajukan kepada pemda, nanti tetap kita bangunkan hunian tetap," ujarnya.

Lebih lanjut Fredy mengungkapkan, saat ini Pemkab Lampung Selatan tengah menjajaki pembebasan lahan seluas 1,5 hektare di Desa Way Muli Timur. Di lokasi itu, nantinya akan dibangun hunian tetap dengan tipe 36 untuk korban tsunami.

"Ini standarnya yang kita bangun, ukuran 7x14 meter persegi tipe rumah 36. Nanti luas bangunan bisa menyesuaikan dengan luas tanah 98 meter persegi," tukas Fredy.


Baca juga artikel terkait TSUNAMI SELAT SUNDA atau tulisan menarik lainnya Dewi Adhitya S. Koesno
(tirto.id - Sosial Budaya)

Sumber: Antara
Penulis: Dewi Adhitya S. Koesno
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno