Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran & Pasang Surut Washington-Teheran

Oleh: Ahmad Zaenudin - 8 Desember 2020
Dibaca Normal 5 menit
Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir sekaligus kepala program nuklir Iran, AMAD, tewas dibunuh.
tirto.id - Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan sekaligus kepala program nuklir Iran AMAD, tewas dibunuh pada Jumat (27/11) lalu. Sebagaimana dilaporkan Sune Engel Rasmussen untuk Wall Street Journal, media-media di Iran yang berafiliasi dengan pemerintah mengungkap bahwa Fakhrizadeh dibunuh usai iring-iringan empat mobil yang mengantarkannya pergi ke kota Absard--kota wisata di Iran--bersama sang istri terhenti tatkala terjadi ledakan mobil di depan mereka. Tak berselang lama, dari mobil yang muncul secara mengejutkan, empat orang menembaki iring-iringan tersebut. Tubuh bagian samping dan belakang Fakhrizadeh tertembak.

Fakhrizadeh segera dilarikan ke rumah sakit. Karena lukanya terlalu parah, ia tak dapat diselamatkan.

Tiga hari berselang, sebagaimana dilaporkan Nasser Karimi untuk Associated Press, pemerintah Iran menuduh Israel sebagai aktor pembunuhan Fakhrizadeh. Ali Shamkhani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, menyebut Fakhrizadeh tewas akibat serangan "perangkat elektronik" jarak jauh oleh Israel, "tanpa ada pelaku yang muncul di lokasi kejadian". Press TV, stasiun televisi berbahasa Inggris milik pemerintah, memperkuat klaim ini dengan melaporkan bahwa senjata yang ditemukan di TKP memiliki "logo dan spesifikasi industri militer Israel". Serangan jarak jauh itu, menurut Shamkhani, sukses berkat bantuan Mujahid-e-Khalq, kelompok pemberontak asal Iran yang disebutnya sering membantu operasi-operasi Israel.

Jika klaim itu terbukti benar, maka Fakhrizadeh adalah ilmuwan nuklir Iran kelima yang dibunuh Israel. Sejak 2010 hingga 2012, terdapat empat ilmuwan nuklir Iran yang dibunuh Israel, yakni Masoud Alimohammadi, Majid Shahriari, Darioush Rezaeinejad, dan Mostafa Ahmadi Roshan. Dari empat pembunuhan tersebut, Roshan dan Shahriari tewas melalui serangan bom magnetik yang dipasang di mobil. Rezaeinejad terbunuh oleh tembakan jarak jauh. Alimohammadi terbunuh melalui ledakan bom yang dipasang pada sepeda motor.

Secara resmi Israel belum mengkonfirmasi atau membantah tuduhan pembunuhan Fakhrizadeh. Namun, Yuval Steinitz, Menteri Energi Israel yang separtai dengan Netanyahu, menyebut tewasnya Fakhrizadeh, "tidak hanya menguntungkan Israel, tetapi seluruh dunia."

Uni Emirat Arab menyatakan kejadian yang menimpa Fakhrizadeh sebagai "pembunuhan keji" yang bisa memancing "konflik lebih lanjut" di kawasan Timur Tengah. Adapun Bahrain meminta pelbagai pihak di Timur Tengah "menahan diri agar tidak terjadinya ketidakstabilan baru".

Stabilitas Timur Tengah memang sangat rapuh.

Iran: Pusat Timur Tengah yang Diatur Inggris Lalu Diacak-Acak Paman Sam

Memasuki abad ke-20, Timur Tengah--termasuk Iran--, khususnya Iran, hanya menjadi arena adu kuat negeri-negeri imperialis Eropa. Akbar E. Torbat, dalam Politics of Oil and Nuclear Technology in Iran (2020) menyebutkan bahwa kala itu Iran, di bawah kekuasaan Dinasti Qajar yang lemah, bukanlah koloni negara Eropa mana pun. Posisi Iran adalah jalur distribusi barang-barang komoditas dari Eropa, khususnya tembakau.

Awalnya, Inggris memonopoli jalur distribusi Iran untuk berdagang tembakau. Jelang pergantian abad, monopoli ini mulai dilawan. Rusia, yang ingin merebut jalur ini, mendekati ulama-ulama Iran. Sejak itulah Iran menjadi arena pertarungan antara Inggris dan Rusia. Ketegangan dua kekuatan ini melemah setelah Rusia keok oleh Jepang pada 1905. Antara 1905 dan 1911, Iran mengalami "revolusi konstitusional" yang dipimpin oleh Mozaffar al-Din Shah.

Selain revolusi konstitusional, sebuah peristiwa lain ikut mengubah wajah Iran dan kawasan Timur Tengah pada umumnya: penemuan minyak. Sebagaimana ditulis Dilip Hiro dalam Cold War in the Islamic World: Saudi Arabia, Iran and the Struggle for Supremacy (2018) Timur Tengah bersalin rupa usai geolog Inggris George Bernard Reynold sukses menemukan minyak di wilayah bernama Shushtar, di pengunungan Meidan-e Naft, Iran, pada akhir dekade 1900-an.

Tak lama berselang, lahirlah Anglo-Persian Oil Company (APOC), perusahaan minyak swasta asal Inggris. Tatkala Angkatan Laut Britania Raya memutuskan beralih dari batu bara ke minyak pada Maret 1913, APOC diakuisisi oleh pemerintah Inggris. APOC, tulis Torbat, merupakan "perusahaan paling penting" bagi Inggris. Alasannya sederhana, minyak adalah sumber kekuatan mesin-mesin tempur.


Bagai kisah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Nusantara, Inggris hanya peduli sumber daya alam Iran alih-alih masyarakatnya. Sejak 1913 hingga 1914, 1.385.000 ton minyak dari tanah Iran sukses digondol Inggris. Saban tahun, Inggris memperoleh untung hingga 200 juta poundsterling, setara dengan 13 miliar poundsterling saat ini.

Penguasaan minyak Iran oleh Inggris membuat marah Rusia dan Amerika Serikat. Namun, kemarahan Paman Sam sejak Standard Oil Co. of California menemukan ladang minyak di Dhahran, Arab Saudi. Kini Standard Oil berubah menjadi Chevron, dan perusahaan minyak yang mengelola ladang di Arab Saudi menjadi ARAMCO. Pada 3 Maret 1938, AS resmi menjalin kerjasama minyak dengan Arab Saudi. Tak tanggung-tanggung, untuk mengamankan ladang minyak, AS mendirikan pangkalan militer atas izin Saudi. Keduanya pun menjadi "oil bromance".

Inggris dan AS akhirnya menjadi dua kekuatan besar di Timur Tengah, dengan Rusia (kelak Uni Soviet setelah 1917) mengawasi dari kejauhan. Iran yang ingin lebih leluasa bergerak menjalin hubungan dengan Turki Usmani dan Jerman. Singkat kata, hampir semua kekuatan besar awal abad ke-20 hadir di Timur Tengah.

Setelah Perang Dunia II, muncul banyak negara merdeka di Timur Tengah. Sialnya, merujuk Athina Tzemprin dalam The Middle East Cold War: Iran-Saudi Arabia and the Way Ahead (2015), wilayah-wilayah di Timur Tengah itu terbagi-bagi secara manasuka. Kelompok-kelompok agama dan etnis yang saling bersitegang kemudian disatukan dalam batas-batas negara. Arab Saudi misalnya, "dibentuk sebagai negara modern atas penaklukan empat wilayah geografis yang sebelumnya jarang bersatu [...] wilayah-wilayah ini mempertahankan rasa identitas daerah mereka yang kuat." Tak ketinggalan, kekuatan Barat pun melahirkan negara bernama Israel pada 1948, yang berdiri di antara negara-negara Arab itu.

Ketegangan dunia mulai sedikit mereda setelah Perang Dunia II berakhir. Pada Desember 1953, Presiden Dwight Eisenhower mencetuskan ide pembentukan organisasi internasional yang memungkinkan banyak negara menggunakan nuklir sebagai sumber energi baru. Pakistan, Indonesia, dan 52 negara berkembang lainnya kepincut. Iran juga menginginkannya. Berkat dukungan AS, Iran bergabung dalam program Atoms for Peace, pada Maret 1957. Setahun kemudian, Atomic Research Center pada Tehran University berdiri.

Pada 1960, Iran membeli reaktor berkekuatan 5 megawatt electricity (MWe). American Machine and Foundry (AMF) bertindak sebagai pengelolanya.

Berdirinya negara Israel lewat pencaplokan wilayah bak bom waktu, yang akhirnya meledak pada 6 Oktober 1973. Guna mengambil alih kembali wilayah di Semenanjung Sinai, Mesin dan Suriah melakukan serangan terhadap Israel. Saat itu kaum Yahudi tengah merayakan Yom Kippur dan kaum muslim menjalankan puasa Ramadan.

Meski memiliki kilang minyak di Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah lainnya, AS berpihak pada Israel. Bahkan, Presiden Richard Nixon mengirimkan persenjataan lengkap nan canggih ke Israel. Sikap Paman Sam dibalas oleh negara-negara Timur Tengah dengan menghentikan pasokan minyak ke AS dan negara-negara pro-Israel lainnya. Harga minyak melonjak dari USD 3 ke USD 12 per barel.

Enam tahun berselang, kejutan muncul dari Iran. Di tengah kondisi ekonomi yang kian memburuk dan pemerintahan yang semakin berkiblat ke Washington, masyarakat turun ke jalanan. Revolusi Iran pun pecah. Mohammed Reza Pahlevi, Shah Iran yang naik tahta berkat sokongan CIA, digulingkan. Ayatollah Khomeini akhirnya menjadi pemimpin Iran.


Infografik Program Nuklir Iran
Infografik Program Nuklir Iran. tirto.id/Fuadi


Iran bersalin rupa di bawah Khomeini, dari Shah (kerajaan) menjadi "Republik Islam Iran", sesuai dengan pemikiran Khomeini dalam buku berjudul The Secrets Revealed (1942) yang ditulisnya secara anonim. "Pemerintah harus dijalankan sesuai dengan hukum Tuhan untuk kesejahteraan negara dan para penganutnya [...] Kesejahteraan ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan pengawasan dari para pemuka agama. Faktanya, prinsip ini telah disetujui dan diratifikasi dalam konstitusi Iran dan sama sekali tidak bertentangan dengan ketertiban umum, stabilitas pemerintah, atau kepentingan negara," tulis Khomeini.

Bagi negara-negara Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, deklarasi Iran sebagai "Republik Islam" tidak dapat diterima. Athina Tzemprin mencatat dalam The Middle East Cold War: Iran-Saudi Arabia and the Way Ahead (2015), sebagai pemilik Mekah dan Madinah, dua kota suci dalam Islam, Arab Saudi merasa paling berhak menyandang gelar "Republik Islam" kendati Saudi dikepalai oleh monarki. Sikap tidak terima pun muncul karena Iran, yang mendaku sebagai "Republik Islam", memiliki aliran berbeda dengan Islam yang berkembang di Arab Saudi. Iran adalah Syiah, sementara Arab Saudi adalah Sunni. Penggunaan frasa "Republik Islam" dianggap memiliki maksud terselubung. "Kedua negara yang telah menjadi sekutu di orbit yang sama karena kepentingan dan ancaman bersama ini akhirnya pecah," tulis Tzemprin. Di mata Arab Saudi, Iran adalah "ancaman kawasan Timur Tengah".

Kembali ke program nuklir. Sebelum revolusi, Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger mengizinkan pembangunan reaktor nuklir di Iran. Pada 1976, Jimmy Carter terpilih sebagai presiden AS. Kissinger pun hengkang. Di bawah Carter dan di tengah revolusi Iran, kebijakan AS terkait nuklir Iran berganti. Kembali merujuk buku yang ditulis Torbat, Iran kini dicurigai membangun reaktor nuklir bukan untuk pengadaan energi alih-alih untuk pengembangan senjata. Kabar burung Iran hendak menciptakan senjata nuklir juga digaungkan oleh Israel, yang menganggap Iran sebagai ancaman besar di kawasan Timur Tengah.

Iran akhirnya beralih ke Perancis dan Jerman untuk melanjutkan program nuklirnya. Iran bahkan telah menyalurkan dana sebesar $6 miliar untuk perusahaan Jerman bernama Kraftwerk Union AG, anak usaha Siemens. Tak tanggung-tanggung, Teheran menggelontorkan beasiswa bagi putra-putri terbaiknya agar bersedia sekolah di luar negeri agar menjadi ilmuwan nuklir. Massachusetts Institute of Technology, sekolah teknik paling beken di dunia, bahkan kecipratan dana senilai $10 juta agar mau menerima pelajar Iran.

Namun, aksi-aksi Iran merealisasikan program nuklir terus dihambat oleh lobi-lobi politik AS. Bahkan, semenjak Mohammad Khatami menjadi presiden pada 1997, realisasi nuklir Iran jalan di tempat dan baru kembali bergulir ketika Mahmoud Ahmadinejad naik tahta pada 2005. Bagi Ahmadinejad, Iran memiliki hak untuk mengembangkan nuklir tanpa persetujuan AS.

Pada era Obama, Iran meneken perjanjian dengan AS untuk melanjutkan proyek nuklirnya. Perjanjian ini dibatalkan oleh Trump, yang pada 3 Januari lalu membunuh komandan Garda Revolusi Iran Qasem Soleimani.

Baca juga artikel terkait NUKLIR IRAN atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Politik)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight