Sejarah Indonesia

Pemberontakan DI-TII Kahar Muzakkar: Sejarah, Kronologi, Penumpasan

Oleh: Yuda Prinada - 4 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Kahar Muzakkar pernah memimpin pemberontakan DI/TII pada 1950-1965 dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
tirto.id - Sejarah pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar pernah berlangsung mulai 1950 sampai 1965. Peristiwa yang terjadi di Sulawesi Selatan ini dilakukan oleh pasukan Kahar dalam dua sesi, yakni 1951-193 dan 1953-1965.

Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, muncul beberapa pemberontakan dengan latar belakang berbeda. Sebelum muncul DI-TII Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, terdapat kasus aksi pergerakan Negara Islam Indonesia (NII) Kartosuwiryo di Jawa Barat pada Agustus 1949.

Berdasarkan tulisan Petrik Matanasi bertajuk “Sejarah Usang Khalifah Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan”, terungkap, Kahar dan Kartosuwiryo ingin menjadi kepala umat Islam. Kendati berbeda wilayah, mereka sama-sama berusaha untuk membentuk negara Islam yang aturannya sesuai syariat Islam.


Latar Belakang Pemberontakan

Nurul Azizah melalui artikel “Corry Van Stenus, Perempuan dalam perjuangan Abdul Qahhar Mudzakkar” dalam jurnal Rihlah (volume 8, No. 1, 2020) mengungkapkan, pada 1950, Sulawesi sedang dilanda konflik internal, yakni pihak gerilyawan dengan angkatan darat.

Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) ketika itu ingin mendapatkan kedudukan dalam Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). KGSS merasa bahwa perjuangan mereka mempertahankan kemerdekaan harus diberikan penghargaan.


Menurut Harvey dalam Tragedi Kahar Muzakkar dari tradisi ke DI/TII (1989:174), pada Juni 1950, Kahar Muzakkar, mantan pemimpin pasukan juang KGSS, datang ke Makassar untuk menyelesaikan konflik.

Lalu, tepat 1 Juli 1950, ia mengutarakan maksud KGSS agar bisa menjadi Resimen Hasanuddin di dalam organisasi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Namun, usul tersebut ditolak mentah-mentah.

Pada 7 Agustus 1953, Kahar Muzakkar bersama pasukan KGSS memutuskan untuk bergabung dalam satu panji NII Kartosuwiryo dan menjalankannya di wilayah Sulawesi Selatan.


Kronologi dan Penumpasan

Dalam Abdul Qohhar Mudzakar: Dari Patriot Hingga Pemberontak (1992) Anhar Gonggong menerangkan, pemberontakan terjadi dengan dua periode, yaitu 1951-1953 dan 1953-1965.

Ia membangun negara yang disebut beragama Islam, namun hanya bisa bergerak dengan cara bergerilya di hutan. Saat itu, kelompoknya disebut Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) dan bermarkas di Gunung Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan.

Mereka bersembunyi di balik rimbunnya hutan-hutan hingga sulit ditemukan oleh pasukan yang ingin menumpasnya. Tidak jarang, malah masyarakat sipil yang sering melihat lalu lalang Kahar Muzakkar dan pasukannya ketika hendak ke sungai.


Pada awal Februari 1965, keberadaan tempat persembunyian Kahar Muzakkar mulai terendus oleh Tentara Divisi Siliwangi yang dipimpin oleh Pembantu Letnan Satu Umar Sumarsana.

Berdasarkan tulisan Kodam Siliwangi dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa (1979), terungkap bahwa saat itu di seberang Sungai Lasalo, terdapat beberapa orang yang mandi. Para pasukan Umar mengamini bahwa ada pemukiman gerombolan di sekitar sungai tersebut.

Tanggal 3 Februari 1965 pukul 03.00 WITA, Umar memimpin pasukannya hingga menemukan beberapa buah gubuk. Siliwangi dari Masa ke Masa (1979) menjelaskan juga bahwa ketika itu seseorang yang tidak lain adalah Kahar Muzakkar keluar dari sebuah gubuk dan memegang granat di tangannya.

Sontak, Ili Sadeli, Kopral Dua Siliwangi, menembakkan peluru panasnya tepat ke arah dada Kahar Muzakkar. Di waktu itu juga, pemimpin RPII tersebut tumbang, bahkan hingga menemui ajalnya.


Baca juga artikel terkait PEMBERONTAKAN DI-TII atau tulisan menarik lainnya Yuda Prinada
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight