Pelecehan Seksual di FISIP USU Disimpan Jadi Rahasia Jurusan

Oleh: Aulia Adam - 17 Mei 2019
Dibaca Normal 9 menit
Kasus pelecehan seksual di USU cenderung ditutupi jurusan. Penyintas masih menanti keadilan.
tirto.id - Peringatan! Cerita berikut dapat memicu pengalaman traumatis. Anda kami sarankan tidak melanjutkan membaca jika dalam keadaan tidak siap.

________________

Ini cerita dari salah satu penyintas yang mengisi survei #NamaBaikKampus. Diana, bukan nama sebenarnya, mengirimkan testimoni pada 14 Februari 2019. Sejak itu, kami terus berkorespondensi.

Kasus Diana terjadi pada awal 2018 saat masa libur ujian akhir semester di Universitas Sumatera Utara (USU). Siang itu, ia pergi ke ruang dosen FISIP USU untuk mencari salah satu dosen. Rencananya, ingin minta perbaikan nilai. Namun, ia justru bertemu Sisipus (bukan nama sebenarnya), seorang dosen yang mengampu salah satu mata kuliah yang diambil Diana semester itu.

Kecuali satu orang yang mendapatkan nilai A, mayoritas mahasiswa di kelompok Diana mendapatkan nilai D untuk mata kuliah metode penelitian partisipatif. Ia mempertanyakan hal itu kepada Sisipus. Usut punya usut, salah satu kawan Diana ternyata absen mengumpulkan tugas kelompok. Diana akhirnya minta tolong untuk bisa mendapatkan perbaikan nilai. Sisipus mengabulkan permintaan tersebut.

Di ujung percakapan, Sisipus mengajak Diana menemaninya meninjau lokasi penelitian.

Ajakan itu muncul karena saat mereka mengobrol, Diana sempat bilang asal kampungnya. Sisipus berkata kebetulan dia mau bikin penelitian di daerah dekat kampung Diana. "Jadi saya diajak untuk meninjau lokasi, karena saya dianggap lebih paham daerah sana,” ujar Diana.

Diana pikir ajakan itu kesempatan bagus, tapi ia tak langsung mengiyakan. “Saya bilang nanti saya kabarin lagi. Karena saya mau tanya ke senior-senior dulu,” cerita Diana.

Beberapa senior yang ditanyainya berkata Sisipus adalah dosen yang baik dan memang sering mengajak mahasiswa melakukan penelitian.

Diana akhirnya setuju ajakan itu. Alasannya, sekalipun bukan untuk terlibat dalam penelitian yang bisa menambah pengalamannya, ajakan itu diturutinya karena ia merasa berutang budi kepada Sisipus yang sudah "berbaik hati memperbaiki nilai".

Maka, mereka pergi pada 3 Februari 2018. Diana dijemput Sisipus di Pintu I USU dengan mobil. Jarak tujuan mereka sekitar 2-3 jam dari Medan. Pada awal perjalanan, situasinya aman.

“Kami cakap-cakap kayak obrolan dosen dan mahasiswalah,” katanya. “Enggak ada yang aneh.”

Sekitar satu jam perjalanan, mereka sempat berhenti dan bertemu teman Sisipus, seorang petani lemon. Situasi masih aman. Perjalanan berlanjut dan mulai memasuki jalanan yang agak sepi. Sisipus mulai memegang paha Diana. Diana tercekat. Sisipus mulai meraba ke bawah bokong Diana. Diana ketakutan.

Diana sangat ketakutan. Ia bingung harus melakukan apa. Ia tidak melawan karena takut sementara Sisipus "terus berulang kali melakukan itu ... di jalan yang sangat sunyi dan dikelilingi pohon kelapa sawit.”

Ketakutan Diana, jika ia melawan, membuat Sisipus marah, dan bisa-bisa nyawanya terancam, sekalipun mereka sempat berhenti di beberapa titik, termasuk di kantor camat dan masjid.

"Tapi, entah mengapa, saya tidak bisa meminta tolong. Saya takut nanti dia marah, dia bisa berbuat apa saja”

“Di pikiran saya, gimana kalau saya ditendang dari mobil, saya mati di jalanan, gimana nasib orangtua saya? Saya sedih memikirkan ibu saya jika tahu...”

Bentuk perlawanan Diana yang ia tahu saat itu adalah mendempetkan badan ke jendela dan menutupi badannya dengan jaket dan tas.

Namun, tangan Sisipus tetap menggerayangi sampai ke bawah bokong Diana ... sambil mengusap-usap kemaluan.

Peristiwa itu berjalan sekitar dua jam, sejak pukul 12 siang. Diana sempat mengetik pesan kepada salah seorang kawannya meminta pertolongan. Si kawan sempat melakukan panggilan video tapi, saking takutnya, Diana bahkan tak bisa menanggapi panggilan itu.

Sampai di daerah tujuan, Diana minta diturunkan di rumah temannya, padahal itu bukan rumah teman dia. Sisipus sempat memberhentikan mobil di tempat sunyi dan memberikan Diana uang dua ratus ribu rupiah. Alasannya, untuk ongkos pulang. Diana menolak tapi Sisipus bersikeras. Akhirnya, Diana mengambil uang itu agar bisa cepat turun dari mobil.

Dian pun pura-pura masuk ke sekolah taman kanak-kanak di sekitar situ supaya bisa cepat terbebas dari Sisipus.

Di angkot, dalam perjalanan pulang, Diana menangis.


Respons Jurusan: Berujung Menyalahkan Korban

Diana menceritakan kejadian itu ke teman kampusnya. Temannya marah karena Diana, saat kejadian, tidak segera mengabarkan supaya ia bisa menolongnya, langsung menuju ke lokasi. Diana tak berdaya.

"Itulah titik terendah saya. Di situlah saya merasa jatuh sejatuh-jatuhnya,” kenang Diana.

Diana menceritakan kasusnya ke salah satu kawan organisasi kampus pada minggu yang sama dengan kejadian, yang akhirnya dibawa ke dekanat pada bulan yang sama dengan kejadian.

Tanggapan dari Wakil Dekan I FISIP USU berkata sebaiknya Diana melaporkan ke kepala jurusan Harmona Daulay. Harmona menyemangatinya, "Kamu sangat berani, Nak. Terima kasih sudah berani."

Diana juga diajak konseling ke psikolog. Tapi ia menolak karena, pikirnya saat itu, stres akibat peristiwa kekerasan seksual bisa cepat hilang. Saat itu ia berpikir "terlalu berlebihan" bila harus ke psikolog.

Jurusan menjanjikan akan melakukan pemanggilan terhadap Sisipus. Diana menginginkan Sisipus meminta maaf terbuka dan kampus memberikan sanksi.

Berjalan beberapa bulan, Diana tak pernah dikabari kelanjutan kasusnya. Ia cuma dapat kabar dari kawan satu organisasi bahwa Sisipus telah dipanggil beberapa kali dan menghadiri pemanggilan tersebut. Pihak prodi juga sudah membentuk tim investigasi, demikian kabar yang didengar Diana.

Diana sempat menerima foto surat berisi keputusan skorsing ditulis tangan, tanpa kop dan tanda tangan dekan. Foto itu ia dapatkan dari kawan satu organisasi yang dikirim oleh Wakil Dekan I FISIP USU.

Namun, Diana masih sempat melihat Sisipus di kampus beberapa kali. Diana memutuskan bertanya kembali soal kasusnya kepada dekanat. Jawabannya, Sisipus sudah mengakui kesalahan dan mendapatkan teguran. Pada hari yang sama, Diana dipanggil Kaprodi Harmona Daulay. Diana minta ditemani seorang kawan, tapi Kaprodi hanya mengizinkan Diana memasuki ruangannya sendirian.

Di ruangan itu, cuma ada Harmona Daulay, sekretaris prodi, dan Diana. Harmona mempertanyakan keinginan Diana atas ujung kasus ini. “Apalagi yang kamu tuntut? Dia (Sisipus) sudah cukup berani untuk mengakui, harusnya kamu bersyukur,” kenang Diana, mengingat ucapan Harmona.

Diana terdiam dan menangis. Respons yang semula hangat pada saat ia melaporkan kasus ini mendadak berubah setelahnya. Kasus itu dianggap "selesai" oleh pihak jurusan berupa teguran kepada Sisipus.

Diana mengingat pernyataan Harmona yang membuatnya terpuruk.

"Kamu juga salah. Kenapa kamu mau ikut?”

Harmona menambah-nambahi, dengan berkata ke sekretarisnya, “Saya dulu, Bang, enggak mau saya ada cowok yang megang saya. Saya enggak mau. Dipegang sikit aja, saya pukul.”

Diana disarankan Harmona untuk tidak menceritakan kasus ini kepada siapa pun, termasuk ke media dan organisasi mahasiswa, dengan dalih kasus ini bisa "ditunggangi".


Pelaku: 'Saya cuma membenarkan Seatbelt'

Saat saya mengontak Harmona Daulay, ia enggan berkomentar, “Keterangan yang Anda minta bisa dikonfirmasi satu pintu kepada Dekan FISIP USU."

Saya sempat menelepon tapi Harmona berkata ia ingin lebih dulu mengonfirmasi kepada mahasiswa yang bersangkutan. Harmona justru lebih ingin tahu dari mana saya mendapatkan nomor kontaknya.

Dekan FISIP USU Muriyanto Amin saat dihubungi via telepon mengakui telah melimpahkan kasus Diana kepada prodi. “Karena (urusan) dosen ada di bawah wewenang prodi, departemen,” katanya.

Ia mengonfirmasi bahwa Sisipus telah mendapatkan sanksi berupa surat peringatan teguran. Muriyanto berkata sanksi itu diputuskan atas dasar "hasil investigasi" jurusan. Namun, ia enggan merinci isi surat peringatan karena menganggapnya "ranah privat" fakultas.

Saat saya mengonfirmasi surat skorsing jurusan untuk Sisipus, Muriyanto berkata "lupa" dengan alasan kasus Diana "sudah lama" sehingga "saya tidak ingat detailnya". Seingatnya, kasus itu berakhir di jurusan karena pelaku mengakui perbuatannya.

“Kalau enggak ngaku, baru dikasih ke dekan,” ujar Muriyanto.

Ia juga lupa-lupa ingat mengapa kampus hanya memberi teguran. Ia harus membuka berkas kasus itu untuk bisa menjawab secara terperinci dan saat saya bertanya, ia tidak berada di Medan.

Ketika saya kembali mengonfirmasi kepada Harmona, ia masih enggan menjawab dan hanya membaca pesan saya.

Pada hari yang sama, saya menghubungi Sisipus. Ia enggan nama asli dan jurusannya disebut karena asas praduga tak bersalah. Ia membenarkan telah mendapatkan surat peringatan berupa teguran dari jurusan dan dekanat. “Saya diberi arahan dan diingatkan, juga lewat chat. Bagi kami, itu sudah bentuk peringatan,” katanya.

Apakah ia mengakui perbuatannya?

Ia membenarkan ia memang mengajak Diana untuk meninjau lokasi penelitian tapi, menurutnya, ada "kesalahpahaman" soal apa yang terjadi di dalam mobil. “Waktu itu saya membenarkan seatbelt, mungkin disalahpahami. Itu juga yang saya bilang waktu dipanggil jurusan,” ungkapnya.

“Saya mau bilang, kalau saya tidak pernah melakukan apa yang namanya pelecehan atau kekerasan seksual selama mengajar, baik di kampus atau dalam penelitian di luar kampus."

Saat saya konfirmasi tentang surat skorsing, Sisipus berkata, "Saya tidak pernah merasa pernah di-skors."


Korban Lain, Modus Sama

Sayup-sayup, kisah pelecehan Diana sampai ke telinga Amana, bukan nama sebenarnya. Kabar yang didengarnya tidak utuh selain bahwa Sisipus melecehkan seorang mahasiswi yang diajak penelitian.

Amana tak tahu nama bahkan stambuk Diana, tapi ia berusaha mencari tahu. Alumnus jurusan yang sama ini rupanya punya pengalaman serupa.

Kejadiannya pada Juli 2017. Sisipus mengontak Amana lewat pesan di Facebook, mengajaknya meninjau lokasi penelitian. Amana bersedia karena Sisipus memang terkenal sering mengajak mahasiswi melakukan penelitian. Waktu itu mereka pergi bertiga bersama seorang kawan Amana. Di pengalaman pertama ikut penelitian, tak ada kejanggalan. Mereka cuma pergi sehari semalam.

Seminggu setelahnya, Sisipus kembali menghubungi Amana, mengajak penelitian di luar kota. Sebelumnya mereka berkomunikasi via WhatsApp. Sisipus menjelaskan ia mengajak sejumlah nama yang dikenal dengan baik oleh Amana. Tak ada kecurigaan, orangtua Amana juga mengizinkan. Salah satu yang membuatnya tertarik untuk kembali ikut adalah tawaran Sisipus mengajari SPSS, aplikasi pengolah data di komputer.

Singkat cerita, Amana bertemu dengan Sisipus. Ia merasa aneh karena tak melihat kehadiran nama-nama yang disebutkan Sisipus. “Dia bilang, nanti nyusul,” kenang Amana.

Kemudian mereka menuju hotel. Amana ingat semua detail lokasi dan waktu.

Sisipus berkata, “Kita check-in aja dulu biar enggak ribet, sore baru bergerak ke masyarakat.” Amana setuju. Pada saat check-in, Amana merasa aneh. “Dia bilang, ‘Sekamar aja, tapi dua bed’." Alasan Sisipus: biayanya lebih murah. "Tapi, saya tentang dengan alasan tidak akan nyaman, dan enggak enak dilihat orang."

Akhirnya, Sisipus setuju check-in beda kamar. Sisipus sempat minta izin masuk kamar Amana dengan alasan ingin diskusi. Ia meminta Amana membaca kuesioner yang dibuatnya. Amana sebenarnya enggan, apalagi pintu kamar ditutup Sisipus dengan alasan biar suhu AC tidak keluar ruangan.

Sisipus memulai obrolan mengenai kondisi tidurnya semalam. “Dia bilang tidak bisa tidur karena minum kopi. Saya masih tetap merespons obrolan sesuai batasan dosen dan mahasiswi. Sambil sibuk main HP. Saya chat dengan pacar saat itu, mengadu mengenai situasi dan perasaan enggak enak. Saya minta tolong, mau kabur.”

Pacar Amana menyarankan agar segera keluar kamar secepatnya. Pada saat yang sama, Sisipus mengambil powerbank dari atas paha Amana, menyuruhnya menge-charge. Amana menolak karena takut ponselnya mati dan tak bisa berkomunikasi dengan siapa pun. Suasana hening sejenak. Sisipus menatapi Amana.

Tiba-tiba, Sisipus beringsut mendekati Amana, “Alat kelaminnya kena ke paha saya. Saya jadi panik. Langsung lompat dari tempat tidur, setengah berlari ke arah pintu, keluar dan berlari ke lantai bawah. Saya panik"

Amana bingung apa yang harus dia lakukan.

Ia kemudian menelepon orangtuanya, minta jemput. Selisih lima menit, Sisipus menelepon Amana dan menanyakan keberadaannya. “Saya bilang, harus pulang karena Pak Tua (Uwak) saya meninggal, tapi dia sempat enggak percaya. Saya enggak peduli dan langsung ambil tas. Dia menyodorkan uang seratus ribu rupiah, katanya sebagai ganti ongkos."

“Akhirnya, saya terima, karena dia tidak memperbolehkan saya pulang sebelum menerima uang itu.”

Kisah Amana ini populer di jurusan sebagai “mitos” tentang “kisah mahasiswi yang kabur dari hotel”. Diana mendengar kasus ini tapi tak pernah tahu identitas mahasiswi itu sampai bertemu Amana dan mendengar langsung kisah tersebut.

Amana sengaja mencari tahu identitas Diana karena ingin menguatkannya. “Setelah mendengar ada kasus baru, saya memang langsung tanya-tanya teman, tentang identitas Diana. Saya ingin mengobrol dengannya dan menguatkan dia."

Amana tak ingin Diana merasa sendirian dan stres berkepanjangan usai kejadian pelecehan yang diterima dari Sisipus.

Amana sempat stres dan enggan keluar kamar untuk waktu lama. “Aku bahkan sempat merasa jijik untuk dekat bapakku sendiri padahal aku dekat banget sama bapak."

"Aku juga sempat malas makan dan di kamar terus karena takut ketemu (Sisipus) lagi di kampus,” kata Amana.

Namun, karena waktu itu ia sudah tingkat akhir, Amana berpikir satu-satunya jalan keluar adalah menyelesaikan skripsi sesegera mungkin dan keluar cepat dari USU.

Seingat Amana, ia cuma pernah bercerita kasusnya ke beberapa kawan dekat. Ia tak pernah melaporkan kasus itu ke dekanat atau jurusan. Namun, saat sidang skripsi, salah satu dosen penguji Amana menasihatinya untuk "tabah" dan "mengikhlaskan" perbuatan Sisipus.

“Katanya, biar Tuhan saja yang balas,” kenang Amana.

Kasus Lain: Dibawa ke Rumah "Sekretariat"

Selain Diana dan Amana, ada juga Iklima, bukan nama sebenarnya, alumnus dari angkatan setahun lebih tua di atas Amana, kini tidak tinggal lagi di Medan.

Kejadian terhadap Iklima sekitar dua-tiga tahun lalu. Satu waktu Sisipus mengajak Iklima membantu penelitiannya. Sebelumnya, Iklima memang pernah menawarkan diri untuk diajak melakukan penelitian.

“Bapak ini memang terkenal suka bawa mahasiswa penelitian, saya pikir itu kesempatan bagus untuk mendalami ilmu jurusan saya,” kata Iklima.

Sisipus menjemputnya dengan mobil. Awalnya, dipikir Iklima, mereka akan mengerjakan proyek itu di kafe, tapi Sisipus menyarankan mengerjakannya di “sekre”—rumah yang biasa dipakainya jadi sekretariat untuk membawa mahasiswi-mahasiswinya mengerjakan penelitian. “Di pikiran saya, sekre itu kan rame orang, karena tempat biasa ngumpul."

Ternyata, sekretariat yang disebut Sisipus itu letaknya "lumayan jauh". Iklima sempat bertanya: kenapa jauh banget?

Iklima makin gelisah saat melihat gerbang teralis "sekre" yang dimaksud Sisipus. “Teralis gerbangnya rapat-rapat, bukan yang jarang-jarang."

Di sekitar "sekre" itu memang ada rumah lain, tapi rasa takut menelan Iklima. Rumah itu ditutup. Gerbang dikunci.

Mereka duduk di sofa depan, mengeluarkan laptop. Ia melihat sekilas ada dua tilam busa. Pikirannya tambah gelisah. "Waduh, sekre atau tempat apa? Kok begini banget."

Ia berdoa supaya tak terjadi apa pun. Di tasnya, ia menyimpan gunting yang kalau ada tindakan nekat dari Sisipus, ia akan bertindak nekat juga.

Setelah mengeluarkan laptop, Sisipus pergi ke kamar mandi. Lalu keluar dengan celana pendek, mengganti celana jins dan kemeja.

Ketakutannya membesar. Pikirannya kalut dan ingin segera keluar dari rumah "sekretariat" tersebut. Ia melihat "tugas" apa yang sebetulnya akan dikerjakan oleh si dosen. Rupanya, tugas itu cuma memindahkan data dari dokumen PDF ke Microsoft Excel, yang sebetulnya bisa dikerjakan sendiri oleh si dosen. Iklima berinisiatif mengerjakan agar cepat pergi dari situ.

Iklima menangkap gerakan aneh Sisipus: tangan Sisipus masuk ke dalam celana, untuk waktu yang lama. Iklima enggan melihat. Ketakutan. Ia tak ingin melakukan apa pun karena cemas bisa memancing reaksi Sisipus.

Nyaris ia ingin menangis saat itu juga. Ia bingung mau mengontak siapa. Pikirannya kosong. Ia bahkan tak tahu siapa yang akan diteleponnya. Ia juga tak ingat ada di mana. Ia hanya ingat ia melewati Kebun Binatang Simalingkar.

Sebelum mendatangi rumah itu, Sisipus menjanjikan pertemuan itu cuma sekitar dua jam. Sekitar pukul setengah empat sore, tepat dua jam, Iklima minta pulang. Sisipus minta ditambah setengah jam lagi, tapi Iklima menolak. Iklima beralasan memegang kunci rumah dan adiknya akan segera pulang. Sisipus lalu mengganti pakaian seperti saat mereka tiba, mengantar Iklima pulang.

Di rumah, Iklima menangis.

Iklima berusaha melupakan kejadian itu, tapi gagal. Ia tertekan. Ia akhirnya bercerita ke adiknya, berbagi beban.

Ia tidak melaporkan kejadian itu ke kampus karena takut tak bisa menunjukkan bukti, takut mendapatkan bantahan "tidak diapa-apain", padahal apa yang dialaminya sudah termasuk pelecehan.

Iklima akhirnya mengetahui kasus Diana setelah dihubungi Amana. Ia bersedia bercerita pada Tirto karena tak ingin kasus ini terus terulang kepada juniornya di kampus.

Usai kejadian Diana, Amana pernah ke kampus untuk mendatangi sidang skripsi seorang kawan satu angkatan. Ia bertemu Kaprodi Harmona Daulay, yang menyampaikan keprihatinan terhadap kasus Amana.

Artinya, Kaprodi mengetahui Diana bukan satu-satunya mahasiswi yang memberikan testimoni pernah mendapatkan pelecehan seksual dari Sisipus.


Infografik HL Indepth Pelecehan Seksual di Kampus
Infografik Pelecehan Seksual di Kampus: Kasus di USU. tirto/Lugas

Dekanat: 'Kami akan tindak tegas dosen mesum'

Saat saya bertanya mengapa kampus tidak memberikan sanksi lebih berat sebab kasus berulang oleh pelaku yang sama, Dekan FISIP Muriyanto Amin berkata butuh laporan dari mahasiswi. “Susahnya kasus begini karena mereka (penyintas) mungkin takut untuk melaporkan."

“Dia (penyintas) harus ngadu, kasih surat. Harus memberi surat secara detail, baru bisa ditindak.”

Tapi, apakah memang ada tempat pengaduan yang bisa menjamin keamanan pelapor?

“Selama ini ada. Bisa langsung bikin laporan ke dekanat. Kami bisa melindungi identitasnya. Kami akan tindak tegas pelaku-pelaku mesum,” kata Muriyanto. “Kalau bisa, enggak usah dia ngajar lagi.”

Muriyanto berkata, tiap kesempatan rapat, sering mengingatkan dosen-dosen di USU untuk tidak melanggar kode etik. Ia berkomitmen serius menindak kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus.

“Kami akan tindak keras pelaku kekerasan dan pelecehan seksual, tapi harus ada laporan, untuk diusut. Supaya mahasiswa bisa dilindungi,” katanya.

Meski begitu, menurutnya, kasus Diana sudah dianggap "selesai" setelah diurus jurusan.


Saat saya mengonfirmasi kepada Sisipus, ia tidak menampik “kisah mahasiswi yang kabur dari hotel”—yang dialami Amana. Ia bahkan ingat beberapa detail, “Waktu itu siang. Dia (mahasiswinya) mau pulang karena ada yang meninggal."

Saat saya bertanya apakah ia benar sempat mengganti celana saat di rumah "sekretariat", Sisipus tak menampik—peristiwa yang dialami Iklima. “Memang itu tempat untuk melakukan penelitian yang biasa saya pakai. Jadi biasa saja, saya ganti pakaian di sana," ujarnya.

Namun, Sisipus beberapa kali menegaskan ia tidak pernah melakukan “apa yang namanya pelecehan atau kekerasan seksual selama mengajar, baik di kampus atau dalam penelitian di luar kampus.”

Diana berharap Sisipus meminta maaf secara terbuka. Saya minta tanggapan Sisipus; ia menjawab: “Mari kita hormati asas praduga tak bersalah."

Kemarin, Kamis, 16 Mei, empat kawan Diana, yang selama ini membantu mendampingi kasusnya, kembali menemui Kaprodi Harmona Daulay untuk menanyakan kelanjutan kasus tersebut. Tiga orang dari jurusan yang sama; satu lainnya bukan, meski masih dari lingkungan FISIP USU.

Harmona menolak menanggapi mereka. Harmona menganggap kasus Diana tidak perlu sampai ke luar dari jurusan yang dipimpinnya.

===========

Artikel ini adalah bagian dari seri laporan mendalam #NamaBaikKampus, proyek kolaborasi antara Tirto.id, The Jakarta Post, dan VICE Indonesia terkait pelbagai dugaan kekerasan dan pelecehan seksual di perguruan tinggi di Indonesia. Tim Tirto yang bekerja untuk proyek ini adalah Dipna Videlia Putsanra di Yogayakarta, Aulia Adam, Fahri Salam, dan Wan Ulfa Nur Zuhra di Jakarta.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan