Menuju konten utama

Pedagang di Tanah Abang Tak Ingin Direlokasi

Tidak sedikit pedagang yang mencari peruntungan di trotoar sekitar stasiun Tanah Abang. Maka dari pada itu, ketika selesai ditertibkan, para penjual akan kembali menjajakan barang dagangannya.

Pedagang di Tanah Abang Tak Ingin Direlokasi
Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan di trotoar di sekitar kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta, Rabu (25/10/2017). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Rudi (40), salah satu pedagang di dekat stasiun Tanah Abang mengaku tak ingin pindah dari lokasi yang sudah ditempatinya berjualan selama 5 tahun itu.

"Orang mana mau digeser ke tempat sepi? Mana ada orangnya [sepi pembeli]?" ujar Rudi (40) kepada Tirto di pinggiran Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Menurut pantauan Tirto, kondisi Jalan Jatibaru Tanah Abang, Jakarta memang normal. Pedagang tidak memenuhi sisi jalan pasar Tanah Abang menuju Monas. Petugas Satpol PP beserta mobil dinas terlihat parkir di dekat stasiun Tanah Abang. Mereka duduk dan memperhatikan sekitar jalan. Hanya segelintir pedagang berjualan tidak jauh di ruas trotoar dekat stasiun Tanah Abang.

Situasi berbeda terlihat berada di seberang jalan. Jalan trotoar yang menghubungkan Monas ke Pasar Tanah Abang Blok G itu masih terlihat ramai. Sejumlah pedagang pakaian, minuman, hingga buah masih menjajakan dagangan mereka. Namun, saat disusuri, pedagang yang berjualan di trotoar tidak banyak.

Situasi ini jauh berbeda dengan pemberitaan sejumlah media. Banyak yang mengatakan kalau daerah tersebut semrawut dan tidak teratur, bahkan macet di dekat stasiun.

Rudi, sebagai pedagang minuman yang berjualan di sisi jalan Monas-Pasar Blok G tanah Abang itu menerangkan, situasi baru akan ramai saat memasuki sore hari. Tempat yang ramai pun hanya terjadi di dekat stasiun kereta. Pria asal Tasik ini mengatakan, banyak pekerja yang pulang menggunakan kereta sehingga titik keramaian terjadi di dekat pintu masuk kereta.

"Jam 4 ke atas kan ada orang masuk ke stasiun. Jam 4 ke bawah enggak [ramai]," kata Rudi.

Rudi bercerita, kesemrawutan di Tanah Abang baru terjadi pada hari Sabtu-Minggu, itu pun hanya terjadi di depan stasiun kereta api. Rata-rata, orang-orang akan membeli barang setiap hari Sabtu Minggu. Pedagang pun berseliweran ke luar untuk menjemput pembeli. "Sabtu Minggu orang enggak ke dalam [pasar]," kata Rudi.

Pria tiga anak ini tidak memungkiri jika Satpol PP sering melakukan penertiban pedagang, bahkan penertiban juga dilakukan pada hari ini, Rabu (1/11) sejak pukul 09.00 WIB pagi. Penertiban lebih sering dilakukan pada akhir pekan.

Rudi mengatakan, tidak sedikit pedagang yang mencari peruntungan di trotoar sekitar stasiun Tanah Abang. Maka dari pada itu, ketika selesai ditertibkan, para penjual akan kembali menjajakan barang dagangannya.

"Orang mau makan semua. Orang (Satpol PP) ya tugas-tugas, silakan," kata Rudi.

Rudi mengaku sudah sangat nyaman berjualan di Tanah Abang. Meskipun tidak merinci keuntungan yang diperoleh, namun tiap hari Rudi bisa menjual setidaknya 2 kardus air mineral dan 2 kardus minuman teh manis di saat sepi. "Kalau ramai 15-an (kardus)," kata Rudi.

"Kalau kayak gini (sepi) paling satu kardus," lanjut Rudi.

Sementara pedagang lain, Degi (21) mengaku sudah merasakan pahitnya diusir Satpol PP sejak berdagang selama 2 bulan di Tanah Abang. Ia pun mengaku pindah begitu Satpol PP melakukan penertiban.

"Kalau aman ya dagang lagi, kalau dia suruh ya pergi," kata Degi kepada Tirto di pinggiran Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Pria yang berjualan kaus kaki itu mengaku senang berdagang di Tanah Abang, karena dengan bermodalkan Rp450.000 ia bisa mendapat uang hingga Rp300.000 per hari. "Kalau enggak diusir kan lancar-lancar saja," kata pria asal Solok itu.

Tak Mau Digusur

Rudi mengaku tetap ingin berjualan di kawasan Tanah Abang terkait dengan kemungkina Pemprov DKI Jakarta menertibkan kawasan itu. Namun ia akan berjualan disekitaran dalam batas kuning di dekat trotoar. Sepengetahuan Rudi, pihak Pemprov memperbolehkan mereka berdagang selama tidak melewati batas kuning yang ada di trotoar. Dengan demikian, ia tetap bisa berdagang.

"Geser ke dalam aja," tutur Rudi.

Senada dengan Rudi, Degi juga tidak mau berpikir dengan kemungkinan Gubernur dan Wakil Gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno merelokasi para pedagang.

Degi mengaku ingin melihat lokasi terlebih dahulu sebelum memutuskan pindah. "Lihat dulu," ujar Degi singkat.

Baca juga artikel terkait PENATAAN TANAH ABANG atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Alexander Haryanto