PDIP Tak Gunakan Rekomendasi DPC Demi Muluskan Gibran di Solo?

Oleh: Andrian Pratama Taher - 23 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Dosen Komunikasi Universitas Padjajaran Kunto A. Wibowo berpendapat langkah PDIP belum mengumumkan cawalkot Solo karena faktor Gibran.
tirto.id - Dewan Pengurus Pusat (DPP) PDIP mengumumkan satu calon gubernur dan calon wakil gubernur serta 48 pasangan kandidat pasangan wali kota dan bupati, Rabu (19/2/2020). Dari ke-49 nama yang diumumkan, PDIP tak mengumumkan pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Solo.

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto berdalih, PDIP akan mengumumkan kandidat wali kota dan wakil wali kota Solo bersama dengan daerah Bali sebagai daerah basis massa moncong putih.

“Solo sebenarnya sudah siap, tapi karena akan diumumkan bersama-sama dengan Bali, di mana masyarakat Bali hari ini merayakan galungan, maka nanti akan bersama-sama. Dengan Makasar,” kata Hasto usai konferensi pers, Rabu (19/2/2020).

Hasto mengatakan, pengumuman kandidat yang diusung PDIP akan dilakukan secara bergelombang. Ia pun mengklaim, elektabilitas Gibran Rakabuming sebagai kandidat wali kota Solo dan Bobby Nasution (calon wali kota Medan) meningkat.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDIP Bambang 'Pacul' Wuryanto membenarkan pengumuman dilakukan secara bertahap. Setelah pengumuman tahap pertama, mereka akan mengumumkan pada tahap kedua dan ketiga.

"[Tahap] dua. Tanggal 3 Maret [pengumuman Solo]. Pasti," kata Bambang.

Jalan Istimewa Anak Presiden


Dosen Komunikasi dari Universitas Padjajaran Kunto A. Wibowo berpendapat langkah PDIP dengan tidak mengumumkan cawalkot dan cawawalkot Solo karena faktor Gibran. Ia menilai, Gibran bisa membawa dampak elektoral bagi pemilih muda maupun kader muda untuk bergerak.

Oleh karena itu, kata Kunto, PDIP tengah dilema untuk mengangkat loyalis partai seperti Achmad Purnomo atau mengangkat Gibran yang masih muda.

“Gibran adalah anak muda dan mungkin dengan mengangkat Gibran, PDIP akan lebih merejuvenasi tampilannya, membuat lebih menarik bagi anak muda untuk memilih PDIP dan terlibat di politik bersama PDIP. Jadi ini pilihan yang sulit buat PDIP terutama untuk cawalkot Solo,” kata Kunto kepada reporter Tirto.



Dalam Pilkada Solo 2020, awalnya terdapat dua nama yang lolos penjaringan internal DPC PDIP Surakarta, yaitu: Achmad Purnomo (saat ini wakil wali kota Solo) dan Teguh Prakosa (anggota DPRD Solo dan juga pengurus DPC PDIP). Namun, tiba-tiba Gibran memutuskan maju sebagai calon.

Gibran pun bermanuver dengan menggalang suara di level bawah dan menjadi kader PDIP. Anak sulung Jokowi itu bahkan sampai menemui Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri di Teuku Umar pada 24 Oktober 2019 demi mendapat rekomendasi DPP.

Pertemuan tersebut direspons positif oleh Megawati dengan ditemui langsung oleh Presiden RI ke-5 itu. Megawati bahkan memberikan buku Soekarno sebagai wejangan kepada Gibran.

Sepak terjang Gibran membuahkan hasil. Meski hasil survei Median pada Desember 2019, nama Achmad Purnomo masih berada di atas Gibran. PKB, Gerindra hingga PKS pun melirik Gibran. Mereka menyatakan siap untuk mendukung anak pertama Presiden Jokowi itu untuk maju di Pilwalkot Solo.

Prabowo Subianto selaku Ketua Umum DPP Partai Gerindra bahkan memerintahkan kader Gerindra mendukung Gibran. Namun, DPC Solo disebut sudah memberikan rekomendasi kepada Achmad Purnama dan Teguh Purnomo.

Situasi tersebut membuat DPP pun turun tangan. PDIP menggelar uji fit and proper test pada Senin (10/2/2020). Gibran pun ikut seleksi meski dengan Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa. Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat hingga anak Ketua Umum PDIP sekaligus Ketua DPP PDIP Puan Maharani ditunjuk sebagai panelis fit and proper test.



Bambang Wuryanto membantah bila fit and proper test untuk Pilwalkot Solo karena ada anak Presiden Jokowi.

“Itu sebelum Solo sudah ada gitu loh. Sebelum Solo ada. Karena dikau [media] tidak punya perhatian pada calon lain, jadi tidak paham. Ketika Solo Anda [media] menganggapnya spesial, ndak,” kata dia, Senin (10/2/2020).

Menurut Kunto, posisi Megawati saat ini memang belum memberikan lampu hijau bagi Gibran untuk maju dalam Pilkada Solo.

Akan tetapi, kata Kunto, Gibran memiliki nilai lebih dibanding Purnomo. Misalnya, Gibran dikenal sebagai pengusaha martabak, anak presiden, serta ayah dari Jan Ethes (cucu Jokowi yang kini mendapat sorotan publik).

Selain itu, kata Kunto, Gibran bergerilya dengan cara seperti Jokowi yang turun ke bawah sehingga publik berpandangan seperti peribahasa 'buah tidak jauh dari pohonnya'. Kemudian, sejumlah partai lain mendukung Gibran untuk maju sehingga menyulitkan posisi PDIP dalam Pilkada Solo.

Di sisi lain, kata Kunto, Megawati berusaha menengahi konflik internal DPC PDIP Solo yang pro maupun kontra dengan Gibran. Sebab, yang maju dalam Pilwalkot Solo adalah anak Presiden Jokowi.

Jika dikaitkan dengan kosmologi Jawa, kata Kunto, Gibran merupakan 'anak raja kecil' dari kerajaan besar yang dipimpin Megawati. Oleh sebab itu, Megawati harus menurunkan Puan Maharani untuk mengonsolidasikan barisan pro-kontra Gibran.

“Untuk meredam kekisruhan yang diabdi dalemnya, maka raja menurunkan putrinya, Puan untuk menenangkan dan mengkonsolidasikan abdi dalamnya di bawah, di Solo, apalagi kan dapilnya Mbak Puan di Solo memang,” kata Kunto.

Kunto menilai, PDIP tidak akan buru-buru dalam menentukan Gibran sebagai cawalkot Solo atau tidak. Ia melihat, partai moncong putih tengah memainkan bargaining politik agar bisa berkoalisi dengan partai-partai lain dan mengunci permainan politik di Solo.

“PDIP akan bermain disimpan sampai akhir kayaknya, sampai detik-detik terakhir kalau bisa karena ini menjadi suspense movie sendiri, skenario yang gak bisa ditebak dan itu menimbulkan kepenasaranan, orang akan ke PDIP, menaikkan elektoralnya di Solo dan macam-macam lainnya,” kata Kunto.



Hal senada diungkapkan pengamat politik Karyono Wibowo. Ia menilai keberadaan Gibran telah membuat PDIP mengalami masalah dalam penentuan sikap di Pilwalkot Solo.

"PDIP mengalami dilema karena terjadi tarik-menarik yang cukup kencang di internal partai besutan Megawati tersebut,” kata Karyono.

Karyono menganggap, Gibran telah menjadi bintang dalam Pilkada 2020. Gibran semakin populer dan menimbulkan magnet politik lewat dukungan partai di luar PDIP.

Magnet tersebut, kata Karyono, membuat moncong putih harus berkalkulasi secara matang karena partai lain memanfaatkan sikap PDIP yang belum jelas dalam Pilwalkot Solo.

Namun, kata dia, internal PDIP mulai mencair setelah beberapa kejadian terakhir seperti pertemuan Presiden Jokowi dengan FX Rudiyatmo dan pertemuan Gibran dengan Achmad Purnomo.

Ia yakin, "Pada akhirnya PDIP akan mengusung Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wali kota.”

Namun, Karyono tidak menjawab apakah ada jalur istimewa bagi Gibran dalam maju di Pilwalkot Solo pasca ditundanya pengumuman pasangan calon. Ia berpendapat, Megawati selaku ketua umum bisa memberikan rekomendasi tanpa perlu persetujuan DPC.

“Dalam konteks perebutan balon kepala daerah Kota Solo, Megawati bisa menggunakan hak prerogatifnya sebagai ketua umum untuk memberikan rekomendasi kepada Gibran,” kata Karyono.

Ia menambahkan, “Prediksi saya akan diumumkan, tinggal nunggu waktu yang tepat.”

Baca juga artikel terkait PILWALKOT SOLO 2020 atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher
(tirto.id - Hukum)

Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz
DarkLight