Paula Modersohn-Becker Wanita Pertama Pelukis Gambar Diri Telanjang

Oleh: Maya Saputri - 8 Februari 2018
Dibaca Normal 1 menit
Paula Modersohn-Becker terkenal sebagai perempuan pertama yang melukis gambar diri tanpa busana alias telanjang.
tirto.id - Hari ini Google Doodle menampilkan Paula Modersohn-Becker yang lekat dengan objek sederhana dan bersifat domestik, namun memiliki nilai seni tinggi. Ia diabadikan dalam doodle hari ini memperingati hari ulang tahunnya yang ke-142.

Google hari ini merilis doodle dengan ilustrasi seorang perempuan memegang kuas dengan latar belakang beberapa lukisan di atas kanvas.


Dialah Paula Modersohn-Becker seorang pelukis asal Jerman dikenal sebagai perempuan pertama yang melukis gambar diri tanpa busana alias telanjang. Ia juga mempelopori awal munculnya aliran ekspresionisme.

Pada 1898, saat berusia 22 tahun, Paula bergabung dengan komunitas seniman di Worpswede dimana seniman seperti Fritz Mackensen dan Heinrich Vogeler memprotes dominasi akademi seni dan kehidupan kota besar. Dia dibimbing di bawah asuhan Mackensen yang melukis dekat permukiman petani dan lanskap Jermabn bagian utara. Di masa inilah ia menjalin persahabatan dengan pematung Clara Westhoff dan sastrawan Rainer Maria Rilke.

Hingga masa Paula memulai lukisan gambar diri telanjangnya, pelukis perempuan saat itu belum ada yang menjadikan wanita sebagai subjek karyanya.

Paula yang berasal dari latar belakang keluarga borjuis Jerman, dia terbiasa tinggal di lingkungan pengajar dan seniman dan belajar di London dan Paris. Bercermin dari latar belakangnya itu, karya lukisan telanjang Paula dinilai tak lazim dan mengeskpresikan ambivalen dari dirinya sebagai subjek karya dan metode sebagai representasinya.

Ia dilatih untuk menggunakan metode realisme dan naturalisme yang sejalan dengan kesederhanaan bentuk. Karya Paula sedikit banyak juga terpengaruh pada teknik Fauvism dan juga dipengaruhi lukisan Picasso.

Paula membuat lukisan dirinya tanpa busana di usia 30 tahun pada 25 Mei 1906. Ia meninggalkan suaminya yang tinggal di Jerman dan bekerja di Paris. Keputusan ini dinilai cukup tidak lazim saat itu karena ia masih menikah dengan Otto Modersohn, seorang pelukis sekaligus akademisi yang terpaut usia 10 tahun.

Pasangan ini bertemu saat Paula tinggal di Worpswede, di dekat Bremen. Masa-masa inilah yang memperkenalkan Paula dengan rekan sesama pelukis akan buku Julius Langbehn yang cukup eksentrik, “Rembrandt as Educator”. Ketertarikan mereka pada Nietzsche, Zola dan Drer yang memotret kemurnian kaum muda, kesederhanaan dan kehidupan para petani.

Paula Modersohn-Becker dalam lukisan tanpa busana ini tak hanya sekedar membuat gambar diri telanjang melainkan suatu wujud ekspresi pembebasan, dikutip dari Independent. Sebagai seorang perempuan dan istri, ia mengekspresikan apa yang dirasakan saat itu. Lukisan itu tidak hanya bentuk kebebasan dari ikatan dan tugas-tugas perkawinan, melainkan bebas dari pembatasan dan ekspektasi kelas dan waktu Paula.

Dalam surat yang dia tulis untuk Rilke sebelum meninggalkan Paris: “Saya adalah diri saya sendiri…” Lalu ia menjelaskan ketika sampai di Paris, bahwa ia telah meninggalkan Otto, “saya berdiri di antara hidup saya yang lama dan baru. Apa yang akan terjadi? Bagaimana saya menghidupi hidup saya? Semuanya harus terjadi sekarang.”

Lukisan ini juga disebut Independent sebagai metafora untuk dirinya sendiri sebagai seniman muda. Yang untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia bisa menciptakan dan melukis secara bebas sesuai dengan keinginannya.

Menurut pandangan beberapa orang, lukisan itu menggambarkan Paula Modersohn-Becker seperti sedang hamil. Beberapa bulan sebelumnya, dia menegaskan dirinya belum mau memiliki anak, terutama dengan Otto.

Puncak karir Paula di tahun 1906 dimana ia produktif melukis lebih dari 80 lukisan. Namun ia tak lama berkarya, di tahun yang sama ia kembali ke suaminya di Worpswede dan melahirkan putri pertama mereka, Mathilde.

Ia meninggal pada usia 31 tahun karena menderita postpartum embolis, setelah melahirkan putrinya.

Pada 1908, Rainer Maria Rilke menulis puisi "Requiem for a Friend" untuk mengenang persahabatannya dengan Paula Modersohn-Becker.


Baca juga artikel terkait PAULA MODERSOHN-BECKER atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri