Patompo: Payah Jadi Tentara, Sukses Jadi Wali Kota

Oleh: Petrik Matanasi - 10 Desember 2018
Dibaca Normal 3 menit
Patompo dikenal sebagai Wali Kota penting dalam sejarah Makassar di awal Orde Baru.
tirto.id - Mohammad Daeng Patompo terbilang Wali Kota penting dalam sejarah kota Makassar. Di zamannya, kota yang dulu bernama Ujung Pandang ini mengalami perluasan wilayah. Sebagian daerah kabupaten Maros masuk ke dalam daerah Makassar yang menjadi ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Di zaman Patompo pula kota Makassar, yang sedari awal jadi kota penting dan pernah menjadi ibukota Negara Indonesia Timur (NIT), terus bersolek.

Patompo dikenal sebagai Wali Kota yang suka turba (turun ke bawah) untuk bergotong-royong dengan masyarakat. Tak segan dia pegang alat bersih-bersih seperti layaknya komandan yang memimpin pasukannya. Perkembangan kota Makassar di awal Orde Baru membuat Patompo dipadankan dengan Gubernur Jakarta Ali Sadikin.

Ali Sadikin Dari Timur

Dulu, untuk membereskan DKI Jakarta, Sukarno menjadikan Brigadir Jenderal (KKO) Ali Sadikin sebagai Gubernur. Untuk kota Makassar maka seorang yang terlalu lama jadi Kapten pun dijadikan Wali Kota.

Patompo adalah Wali Kota Makassar yang “membangun kota ini dengan program pokok Kota 5 Dimensi,” tulis Tashan Burhanuddin dalam Makassar Doeloe, Makassar Kini, Makassar Nanti(2000:324). Maksud dari 5 Dimensi itu adalah upaya menjadikan Makassar sebagai kota dagang, kota budaya, kota industri, kota akademik, dan kota pariwisata. Makassar punya modal untuk menjadi kota 5 dimensi. Di zaman Sultan Hasanuddin saja, Makassar sudah jadi kota dagang. Di Makassar juga sudah ada kampus dan banyak sekolah. Makassar pun kota yang ramai, tak hanya etnis Makassar-Bugis saja di dalamnya. Kota ini termasuk yang paling cepat berkembang di Indonesia Timur. Apalagi setelah modal asing dibuka di Indonesia.

Patompo melakukan hal yang wajib dilakukan para Wali Kota di negara berkembang: perbaikan kampung. Ada Gerakan Masuk Kampung (GMK), misalkan. Patompo, seperti dicatat Makassar Doeloe, Makassar Kini, Makassar Nanti,dianggap berhasil membuka isolasi kampung-kampung, pelosok dan pinggiran yang disatukannya dengan pusat kota.

Patompo punya kemiripan dengan Ali Sadikin dalam "memanfaatkan" penyakit masyarakat yang dicap maksiat. Nuraeni Ma'mur dalam Wali Kota Makassar Legenda di Timur: Persembahan 400 Tahun Kota Makassar (2007:17) menyebut Patompo melegalkan judi lotto. Judi dan tempat hiburan menjamur adalah hal yang biasa di zaman Orde Baru.

Patompo, menurut Rum Aly dalam Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter: Gerakan Kritis Mahasiswa Bandung di Panggung Politik Indonesia, 1970-1974 (2004:222), telah “membuka judi lotto dan berhasil memperoleh dana inkonvensional untuk pembangunan fisik kota pantai itu. Argumentasi-argumentasinya tak berbeda jauh dengan argumentasi Ali Sadikin.”


Tak heran jika Patompo dijuluki Ali Sadikin-nya Ujung Pandang. Salim Said, dalam Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (2013) menyebut, suatu kali dengan penuh percaya diri, Patompo berkelakar, “Ali Sadikin adalah Patompo-nya Jakarta.” Sama seperti Ali, Patompo juga dikritik keras oleh para pemuka agama karena melegalkan judi.

Perkembangan Makassar kala itu mirip perkembangan Jakarta. Majunya perekonomian dan berkembangnya kota diikuti dengan perkembangan dunia hiburan di kota yang bersangkutan. Rum Aly (2004:222) juga menyebut “Revolusi dunia hiburan metropolitan ini, tak memakan waktu yang lama untuk menjalar ke kota-kota besar lainnya di Indonesia.” Makassar menjadi salah satunya.

Hingga saat ini, Patompo menjadi salah satu Wali Kota Makassar yang masih dikenang. Nama dan kenangan Patompo, setidaknya tercatat di gedung bekas balai kota Makassar yang bersejarah. Selain itu ada juga nama atau tempat bahkan sekolah dasar bernama Patompo di Makassar.

Konyolnya Kapten Patompo

Patompo sebenarnya bukan laki-laki kelahiran Makassar, bahkan tidak lahir di provinsi Sulawesi Selatan. Menurut buku Tokoh-tokoh Dibalik Nama-nama Jalan Kota Makassar (2008:74), Patompo lahir pada 17 Agustus 1926 di Polewali Mandar yang saat ini merupakan bagian Provinsi Sulawesi Barat. Sebelum Soeharto lengser, kawasan yang kini jadi Sulawesi Barat termasuk dalam Sulawesi Tengah.

Awal Januari 1947, menurut Mas’ud Ahmad dalam Heroik Laskar Gonggawa (2014:46-48), Letnan Patompo menuju daerah Polewali-Mandar, untuk mengambil senjata. Di ditemani seorang anggota laskar Gonggawa, Ismail Badu.

Di masa revolusi, sepengakuan Andi Mattalata dalam Meniti Siri dan Harga Diri: Catatan dan Kenangan (2014:363&395), Patompo yang sudah jadi perwira dengan pangkat letnan, dijuluki sebagai Bung Peco dan dia dianggap mudah panik tapi punya nyali untuk menyerang posisi tentara Belanda.

Setelah sebuah serangan yang menewaskan seorang tentara Belanda, Patompo dan dua kawannya menyerahkan diri karena kawannya terluka. Mereka pun jadi tawanan Belanda dan akhirnya Patompo dikirim ke Nusakambangan di Jawa Tengah. Dia tidak lama di sana. Setelah bebas dia bergabung dengan TNI. Dia kembali menjadi letnan di bawah komando Andi Mattalata.

Infografik Muhammad Daeng Patompo


Sekitar 1953, waktu gerombolan DI/TII masih merajalela di luar kota Makassar, Patompo nyaris jadi komandan batalyon Oosterling berkat rekomendasi dari Kapten Andi Abdul Lathif. Namun sebelum mengisi jabatan itu, Patompo diuji dengan cara memimpin satu kompi pasukan di sekitar Taman Nasional Bantimurung. Selama dua bulan Patompo dan pasukannya itu bertahan di Camba. Setalah dua bulan berlalu, Patompo dan pasukannya diperintahkan Mattalata memasuki kota Makassar yang berjarak sekitar 70 kilometer.

Ketika Patompo dan pasukannya belum jauh berjalan meninggalkan Camba, Patompo tercegat serombongan gadis. Gadis-gadis itu menawarkannya makan jagung bakar. “Ajakan itu tak dapat dia tolak. Selanjutnya dia perintahkan dua peletonnya meneruskan perjalanan,” kenang Andi Mattalata. Pasukan yang tersisa adalah Patompo satu peleton dan beberapa staf kompi. Rupanya di sekitar Bantimurung, gerombolan rupanya memasang perangkap.


Suara tembakan dari jauh membuat Patompo sadar dan berusaha mengejar dua peleton pasukannya yang sudah terlanjur maju yang terjebak dalam pertempuran.

“Setelah melihat anak buahnya dalam posisi yang sangat buruk, Muhamad Daeng Patompo bersama pasukannya yang tersisa, mencari jalan aman untuk menyelamatkan diri,” kata Andi Mattalata.

Bantuan kemudian datang dan kemudian mencari Patompo dan pasukannya yang tercerai-berai. Seminggu kemudian barulah Patompo ditemukan. Dia lalu dibawa ke oditur militer untuk diadili. Beruntungnya Patompo tak dipecat. Pangkatnya, yang masih Letnan Dua, harus turun satu tingkat. Baru di tahun 1960-an, dia berhasil menjadi kapten. Setelah menjadi Komandan Kodim di Polewali Mandar, daerah asalnya, dia dipanggil Kolonel M Jusuf ke Makassar. Kejayaan Patompo ternyata tak di militer, tapi setelah dikaryakan ke Departemen Dalam Negeri di lingkup Sulawesi Selatan. Pada tanggal 8 Mei 1965, dia diangkat sebagai Wali Kota Makassar di hadapan Sidang Pleno DPRD.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Nuran Wibisono