Pasang Surut Hak Kewarganegaraan Imigran China di AS

Kontributor: Ali Zaenal, tirto.id - 26 Jan 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Perang dan bencana alam mewarnai pasang surut hak kewarganegaraan imigran China di AS yang kiwari populasinya sekitar 5,4 juta jiwa.
tirto.id - Artikel sebelumnya: Integrasi Imigran China di Tengah Diskriminasi Amerika Serikat


Generasi awal imigran China di Amerika Serikat lambat dalam berasimilasi karena faktor internal dalam negeri. Pada masa ini, sebagian besar imigran yang datang tidak bisa lepas dengan kondisi keluarga mereka di China.

Mereka kebanyakan buta huruf sehingga kesulitan berbicara bahasa Inggris. Akibatnya pergaulan sosial hanya sebatas lingkup mereka sendiri yang akhirnya melahirkan kawasan China Town atau Pecinan.

San Francisco adalah Pecinan terbesar dan tertua di AS yang dibentuk oleh para pekerja selama “Demam Emas” dan pembangunan kereta api lintas benua.

Di Pecinan, mereka merasa nyaman dan terlindungi, layaknya berada di tengah perkumpulan keluarga di China. Berbicara Kanton, makan dan minum dengan gaya tradisional. Hal yang akhirnya membuat warga kulit putih kesulitan menerimanya.

Meskipun ada catatan buruk bagaimana serangan dan teror melanda Pecinan seperti yang terjadi di Los Angeles pada tahun 1871, mereka terus memperkuat ikatan dan persaudaraan satu sama lain.

Di New York, Pecinan dibentuk di dua kota, satu di Manhattan dan satu lagi di Flushing, Queens.

Di Manhattan, kawasan ini berkembang seiring banyaknya imigran China yang melarikan diri dari kekerasan dan intimidasi yang dilakukan di AS bagian barat sekitar tahun 1870. Saat itu Manhattan tergolong wilayah aman untuk para imigran.

Mereka kemudian membentuk struktur sosial dan lembaga pemerintahan lokal, tersebar di jalan-jalan Mott, Pell, dan Doyers. Ketiga jalan tersebut merupakan jantung Pecinan di Manhattan hingga hari ini.

Pecinan di Queens baru berkembang sekitar tahun 1970-an ketika sejumlah imigran dari Taiwan tiba. “Little Taipei”, julukan mereka saat itu, mengalami hambatan bahasa dengan orang-orang Kanton di Pecinan Manhattan, sehingga mereka memilih untuk menetap dan membangung komunitasnya wilayah ini.

Hal yang berbeda dirasakan generasi kedua di AS yang sudah beradaptasi dengan dunia baru. Mereka lahir dengan bahasa China di lingkup keluarga dan besar dengan budaya bahasa Inggris ketika di luar rumah. Asimilasi budaya seperti pernikahan antar ras juga sudah dapat diterima.

Meski demikian, bukan berarti generasi kedua China di AS mudah melalui berbagai hambatan, terutama upaya mereka dalam memperoleh hak dan pengakuan kewarganegaraan.


Imigran cina di AS
FILE - Dalam file foto 14 Agustus 1945 ini, orang Tionghoa-Amerika di Jalan Mott dan Pell di Pecinan New York merayakan penyerahan Jepang pada Hari V-J. Pada tahun 1868, AP/Tom Fitzsimmons


Upaya Wong Kim Ark Mendapatkan Kewarganegaraan

Wong Kim Ark lahir di kawasan Pecinan San Francisco tahun 1873. Kedua orang tuanya adalah imigran China generasi awal 1880-an. Ayahnya salah satu dari ribuan buruh yang turut dalam pembangunan rel kereta api lintas benua.

Pada usia 16 tahun, keluarganya kembali ke China di tengah pemberlakuan Undang-undang Pengecualian China yang mengekang para buruh untuk datang ke AS. Orang tuanya kemudian menetap di China dan tidak pernah kembali lagi ke AS.

Di penghujung 1890, Wong Kim Ark kembali ke AS dan melewati kepabeanan di pelabuhan dengan lancar. Dia menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, tempat ia tumbuh dalam bayang-bayang diskriminasi dan teror masa kecilnya di San Francisco.

Saat itu ia langsung mengurus dokumen identitas dan akta kelahiran yang disahkan pejabat setempat. Diwakili tiga orang kulit putih, dokumen itu membuktikan bahwa ia lahir di kota tersebut.

Tak lama kemudian Wong Kim Ark kembali ke China untuk mengunjungi orang tua dan melihat kelahiran putranya yang kedua.

Bulan Agustus 1895, ia kembali ke AS melalui kapal uap Koptik.

Ketika tiba di pabean San Francisco, ia berharap segalanya lancar seperti sebelumnya. Selain itu, ia cukup yakin karena sudah membawa dokumen lengkap yang diperlukan.

Namun ia malah dicegat John Wise, seorang petugas bea cukai yang kukuh berpendapat bahwa ia tak lebih sebagai buruh China yang harus dikekang untuk masuk ke wilayah AS.

Wong Kim Ark lantas ditahan di pelabuhan selama berminggu-minggu sebelum akhirnya mengajukan habeas corpus--upaya pemulihan karena dianggap penahanan yang melanggar hukum--ke pengadilan setempat.

Persidangan Distrik California pada 3 Januari 1896 memutuskan bahwa Wong Kim Ark adalah warga negara AS karena lahir di AS.

Hakim Milliam Morrow menyebut keputusannya merujuk pada Amandemen Keempat Belas Konstitusi mengenai hak-hak sipil dan perbudakan.

“Semua orang yang lahir atau dinaturalisasi di Amerika Serikat, dan tunduk pada yurisdiksinya, adalah warga negara Amerika Serikat,” demikian salah satu kalimat pembukaan amandemen tersebut.

Pemerintah AS mengajukan banding atas keputusan pengadilan distrik yang membawanya sampai ke Mahkamah Agung.

Kasus ini menyita banyak perhatian dan menjadi isu nasional selama beberapa minggu.

Maret 1897, Mahkamah Agung meminta para hakim untuk membeberkan argumennya mengenai klausul Amandemen Keempat Belas Konstitusi tentang kewarganegaraan AS, apakah berprinsip “jus sanguinis” atau hak darah orang tua, atau “jus soli” yakni hak-hak atas tanah kelahiran?

Pemerintah federal berargumen bahwa orang tua Wong Kim Ark adalah subjek China yang bisa saja mewakili kekaisaran dan bukan “tunduk pada yuridiksi” sebagaimana dimaksud dalam Amandemen Keempat Belas.

Sementara pengacaranya tetap berpegang pada putusan pengadilan distrik yang mengacu pada prinsip “jus soli” dalam mengatur kewarganegaraan.

Ketika putusan dibacakan pada 28 Maret 1898, enam orang menyetujui kewarganegaraan Wong Kim Ark dan dua orang tidak menyetujuinya.

Sebagian besar hakim yang setuju berpijak pada klausul Amandemen Keempat Belas yang berprinsip “jus soli” sebagaimana hukum-hukum Inggris.

“Selama mereka tinggal di Amerika Serikat, sebagai penduduk yang berdomisili di sana, ibu dan ayah dari Wong Kim Ark tersebut terlibat dalam penuntutan bisnis, dan tidak pernah terlibat dalam kapasitas diplomatik atau resmi apa pun di bawah kaisar Tiongkok,” demikian bunyi mayoritas hakim dalam putusannya.

Dua hakim yang tidak setuju membantah argumen mayoritas dan menyebut bahwa hukum kewarganegaraan AS telah memisahkan diri dari hukum Inggris pasca Revolusi Amerika. Mereka juga berpendapat bahwa setelah era kemerdekaan, secara umum prinsip “jus sanguinis” lebih banyak diterapkan dalam sejarah kewarganegaraan AS daripada hak “jus soli”.

Keputusan Mahkamah Agung AS secara tak langsung menjadi referensi dan preseden yang sering diajukan dalam konflik kewarganegaran dan hukum imigrasi, terutama dalam penegakan hak-hak sipil orang-orang yang lahir dari imigran yang tidak berdokumen, namun melahirkan anak-anaknya di AS.


Imigran cina di AS
Seorang tukang sepatu Cina memperbaiki sepatu di trotoar kota di Pecinan New York, 28 September 1986. (AP Photo/Rick Maiman)


Gempa San Francisco 1906

Gempa di pagi hari yang berpusat di lepas pantai San Francisco menewaskan ribuan orang, termasuk orang China yang menetap di Pecinan dan permukiman-permukiman lain di San Francisco.

Sebanyak 15.000 orang China menjadi pengungsi dan kehilangan tempat tinggal. Mereka kemudian dipindahkan ke Oakland atau wilayah lainnya yang lebih jauh dan menyisakan ratusan orang yang tetap tinggal di San Franciso.

Di antara barang berharga yang hancur akibat gempa adalah akta kelahiran dan dokumen keimigrasian. Hal yang kemudian dimanfaatkan oleh imigran ilegal untuk memasuki AS yang saat itu masih menerapkan Undang-undang Pengecualian China.

Banyak imigran ilegal yang membayar kepada orang China-AS yang sudah lama menetap agar dijadikan keluarga dengan bayaran tertentu. Semakin tua usia mereka, semakin mahal bayarannya.

Untuk mencegah hal tersebut, sebuah Biro Imigrasi AS didirikan di Angel Island di tengah Teluk San Francisco pada tahun 1910.

Populasi China di AS tahun itu sudah mendekati angka 94.000 jiwa atau satu persen lebih dari total penduduk AS yang mencapai 92,2 juta jiwa.

Sayangnya, imigran yang semula memiliki dokumen sah dan hilang akibat gempa malah menjadi korban deportasi dan penyiksaan. Pasalnya selama pengecekan, banyak pertanyaan detail diajukan petugas sehingga prosesnya cukup lama.

Pertanyaan-pertanyaan seperti berapa lama tinggal, di lantai berapa tidur, atau memiliki hewan peliharaan atau tidak, cukup menyulitkan para imigran.

Mereka yang gagal menjawab akan dikurung selama berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan ada yang tahunan.

Pecinan yang hancur akibat gempa juga kesulitan dibangun kembali karena izin dari pejabat setempat yang mempersulit untuk membangun komunitas China di wilayahnya.

Segalanya berubah ketika China dan AS bersekutu dalam Perang Dunia II melawan Jepang.

Era Perang hingga Sekarang

Tahun 1943, Kongres AS mencabut semua Undang-undang Pengecualian China yang telah berlaku lebih dari setengah abad melalui Undang-undang Magnuson. Selain itu, melalui naturalisasi, AS juga memberikan hak kepada warga China untuk mendapatkan hak kewarganegaraan dan mengizinkan 105 orang China berimigrasi ke AS setiap tahun.

Selama Perang Dunia II, Angkatan Darat AS merekrut lebih dari 20 persen pria China yang tinggal di Amerika Serikat, termasuk putra bungsu Wong Kim Ark yang bergabung ke Marinir Sipil Dagang AS.

Ketika Perang Dingin berkecamuk dan status China menjadi negara komunis, peranakan China di AS terbagi ke dalam dua kelompok: pro-komunis dan anti-komunis.

Hal ini dimanfaatkan AS yang membentuk sekumpulan mata-mata melalui “Confession Program” tahun 1955 untuk menjaring orang-orang China pro-komunis yang masuk ke wilayah AS.

Kebijakan AS terhadap imigran dan diaspora China mengalami pasang surut selama era ini menyesuaikan dengan kebijakan luar negeri. Maka itu tidak ada undang-undang imigrasi yang sifatnya membatasi, mengekang, atau melarang. Imigran China yang akan masuk ke AS tetap mengacu pada Undang-undang Magnuson 1943.


Infografik Mozaik Imigran Cina Angkatan Pertama
Infografik Mozaik Imigran Cina Angkatan Pertama. tirto.id/Tino


Tahun 1965, orang-orang Afrika-Amerika menggaungkan gerakan hak-hak sipil yang mendorong masyarakat mengutuk rasialisme dan diskriminasi. Gerakan ini berhasil melahirkan Undang-undang Keimigrasian 1965 yang ditandatangani Presiden John F. Kennedy.

Undang-udang tersebut disambut positif karena menghilangkan bias rasial bagi para imigran.

Dampaknya adalah gelombang pendatang baru dari China. Bukan hanya dari Kanton yang selama ini terkenal sebagai asal imigran China ke AS, tetapi juga dari provinsi lain yang berbicara Mandarin, seperti Hongkong dan Taiwan.

Gendernya pun tak hanya didominasi para pria.

Ronald Takaki dalam Strangers from a Different Shore: A History of Asian Americans (1998) menyebutkan bahwa selama periode 1966 sampai 1975, sekitar 52 persen imigran yang datang ke AS adalah perempuan.

Mereka melanjutkan pendidikan dan mendapatkan pekerjaan di AS.

Generasi pendatang baru ini sudah mandiri dan mampu menguasai berbagai pengetahuan dengan baik, seperti lancar berbahasa Inggris, ahli di bidang teknologi, atau mendapatkan jabatan di perusahaan.

Dari sini kemudian banyak lahir diaspora China yang berprestasi di AS. Misalnya Samuel Ting yang memenangkan Hadiah Nobel Fisika tahun 1976. Ada juga Dr. David Ho yang dinobatkan sebagai Man of the Year majalah TIME untuk penelitiannya tentang HIV/Aids.

Berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, jumlah populasi China di AS berkisar 5,4 juta jiwa atau 1,6 persen dari total jumlah penduduk AS.

Meski demikian, dalam perjalanan sejarahnya, sejak gelombang imigran awal sebagai buruh sampai kedatangan gelombang imigran kedua secara besar-besaran pasca perang, imigran China di AS tidak pernah diterima sepenuhnya terutama oleh masyarakat yang didominasi warga kulit putih.

Masih ada rasisme terhadap mereka sampai hari ini.

Baca juga artikel terkait IMIGRAN CINA atau tulisan menarik lainnya Ali Zaenal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight