Partikelir: Komedi-Aksi yang Anyep

infografik partikelir
Cuplikan film layar lebar berjudul Partikelir. Youtube/StarvisionPlus
Oleh: Aulia Adam - 18 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Partikelir menyiratkan insekuritas Pandji, yang takut lawakannya tak lucu.
tirto.id - Pandji Pragiwaksono boleh disebut berani, ketika mengumumkan genre buddy cop sebagai tema film pertamanya. Bukan karena genre itu berasal dari luar Indonesia, melainkan karena untuk sebuah karya perdana sebagai sutradara, tema yang dipilihnya lebih variatif daripada karya Raditya Dika dan Ernest Prakasa.

Dua komika tersebut tak muluk-muluk memilih genre komedi yang tak populer di Indonesia, alih-alih drama keluarga biasa. Raditya Dika lewat Marmut Merah Jambu (2014), sedangkan Ernest lewat Ngenest (2015). Dua film tersebut nyatanya hanya mengangkat kisah hidup sutradaranya, yang juga terlibat di dek penulisan naskah.

Formula serupa pun dipakai Soleh Solihun, komika lain yang dipercayai produser film, untuk jadi sutradara. Lewat Mau Jadi Apa? (2017), Soleh tampaknya mulai asyik di kursi barunya sebagai sutradara, dan merilis film keduanya: Reuni Z, yang juga sedang tayang di bioskop.


Tren komika jadi sutradara juga menghampiri Pandji. Tapi "formula narsis" ala para pendahulunya tak bulat-bulat diikutinya.

Partikelir—film pertama Pandji—memang terinspirasi dari kisah nyata di masa lalunya. Tapi bersama geng penulis yang ia rekrut, film itu justru bercerita tentang Adri (Pandji), seorang detektif partikelir (istilah lain dari swasta). Yang menginspirasi Pandji adalah kisah mendiang sahabat yang wafat karena narkotika.

Sebab bergenre buddy cop, maka karakter Jaka (Deva Mahendra) ditambahkan, yang dibingkai film sebagai calon rekan Adri. Jaka ini sudah beristri, tinggal di rumah mertua, dan bekerja sebagai pengacara. Ia tipikal “budak korporat” ibukota: gajinya Rp15 juta per bulan, tapi hidupnya digadaikan pada kantor.

Kontras itu sengaja diukir tebal-tebal dalam sejumlah dialog, agar penonton paham kalau karakter Jaka berbeda 180 derajat dengan Adri, yang memilih kerjaan serabutan, tak jelas, dan terlalu idealis. Mustahil poin ini dilewatkan penonton. Semua kontras karakter Adri-Jaka diukir Pandji kelewat tebal, seolah-olah penonton cuma disuapi.

Konon, dalam film-film buddy cop, macam 21 Jump Street atau Bad Boys yang terang-terangan dijadikan Pandji inspirasi filmnya dan terselip dalam dialog Adri, dua karakter utamanya harus punya sifat berbeda. Tarik-ulur karakter keduanya juga umum jadi salah satu ciri penanda genre ini. Lelucon-lelucon yang jitu harusnya menetas dari chemistry mereka. Sayangnya, Adri dan Jaka bukan duo macam itu. Selain lawakan mereka medioker, akting Pandji dan Deva gagal meninggalkan kesan kuat dari persahabatan Adri-Jaka.

Sudah gagal menyajikan dua tokoh utama yang kuat, Partikelir yang diusung dalam kredit pembuka sebagai komedi-aksi justru menelantarkan aspek ‘aksi’-nya.

Suasana komedi yang dibangun Pandji jelas bukan fantasi-utopis seperti yang dihadirkan Comic 8 (2014), film bergenre sama. Dalam Partikelir, suasana sosial-politisnya direka semirip mungkin dengan realitas. Misalnya, nama Lembaga Narkotika Nasional (LNN) yang adalah plesetan dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Namun, bukan berarti kesempatan Partikelir menyajikan aspek aksi jadi lebih terbatas ketimbang Comic 8.

Dalam realitas, kita memang jarang menemukan balap-balapan mobil yang meledak atau drifting 360 derajat. Apalagi di jalanan Jakarta yang padat-merayap. Jika mempertahankan realitas adalah alasan Pandji menghadirkan aksi yang anyep dalam Partikelir, harusnya dia tak muluk-muluk memajang label “komedi-aksi” dalam film ini. Adegan tembak-tembakan yang cemen dan sama sekali tak lucu di ujung film jelas tak cukup.

Tak ada koreografi tarung yang keren—atau lucu—antara Agung Hercules dan Deva Mahendra yang berbadan tegap. Muka bonyok Pandji di ujung film juga muncul tiba-tiba, tanpa adegan penyiksaan. Begitu juga pom bensin yang meledak di adegan terakhir. Kita cuma melihat kepulan asap, tak ada pom bensin yang benar-benar porak-poranda. Kalau semua adegan yang berpotensi kelihatan badass diedit demi bujet, harusnya ganti genre sekalian lebih baik. Ernest Prakasa bisa tetap menonjol dengan Cek Toko Sebelah (2016) yang bermain di ketelitian naskah dan kualitas komedi.


Satu-satunya yang harus diapresiasi adalah keberanian mengkritik Pandji yang tak hilang dalam film perdananya. Ada isu pemberantasan narkotika yang memang fokus dikritik Partikelir. Kritik itu juga tak berat satu sisi saja, misalnya membela pemerintah yang pola pikirnya: berantas, berantas, berantas. Atau sisi keluarga pengguna yang biasanya dieksplorasi sedih melulu lewat media dan film-film Indonesia.

Lewat Partikelir, ada diskusi yang coba dilempar Pandji tentang: keseriusan negara memusuhi narkotika, dan penanganan pecandu yang tak perlu semenyeramkan citra yang dibangun.

Sayang, semua pesan-pesan itu dipajang Pandji sebenderang-benderangnya. Seperti premis tentang hubungan Adri-Jaka, semua isi Partikelir, termasuk semua setup komedinya disalurkan lewat dialog. Mulai dari arti kata partikelir, alasan Adri jadi detektif, alasan Adri ingin Jaka jadi rekannya, alasan Raga (Cok Simbara)—si tokoh jahat—menjadi jahat, alasan Tiara (Aurelie) membenci papanya, bahkan keringat Jaka, dumolid, dan ketergantungannya pada narkotika juga kepalang terang dipertontonkan.


Saking terangnya, sering kali adegan-adegan itu terlalu dramatis. Jauh dari kesan nyata. Salah satu yang paling mengganggu adalah adegan Raga yang menjelaskan alasannya pada Tiara untuk jadi penjahat. Direkam kamera lewat high angle, Pandji tampaknya ingin membuat penonton memaklumi alasan sang bandit jadi gembong narkoba—sebuah premis yang sesungguhnya tak perlu.

Adegan itu bisa lebih kuat, tanpa dialog Cok Simbara yang panjang-lebar menjelaskan alasan itu pada putrinya. Kesan misterius yang harusnya muncul berubah jadi bertele-tele.

Sudut kamera itu pun rupanya tak berarti apa-apa, selain kendala teknis. Pandji meyorot Cok Simbara dari bawah karena di atap gedung yang jadi latar sudah dipenuhi para kru. Ia hanya menghindari kemungkinan para krunya masuk dalam bingkai.

Ada kecenderungan Pandji memaksa penonton untuk menelan pesan yang ingin disampaikannya. Para penonton cuma disuapi, seolah-olah Pandji tak ingin mereka capek—seolah-olah para penonton adalah orang berkebutuhan khusus yang tak bisa mandiri. Cara penyutradaraan seperti ini cuma berawal dari dua keadaan: pertama, karena sang sutradara meremehkan nalar penontonnya; kedua, ia insecure karyanya disalahpahami.

Sebagai sutradara baru, lebih baik berbaik sangka pada Pandji yang mungkin diserang keadaan nomor dua.



Jika saja Pandji menyiapkan naskah yang lebih rapi, serta memoles penyampaian pesan dan adegan-adegannya dengan lebih mulus, Partikelir mungkin saja berpotensi lucu. Mungkin bahkan bisa saja jadi komedi cerdas. Satu-satunya lelucon yang bikin saya ketawa lumayan lebar adalah ironi Tio Pakusadewo yang memerankan Kepala LNN. Keputusan lempar-peran itu betul-betul komedi ironi yang lucu kalau Pandji memang cenayang, dan tahu kalau Tio akan ditahan karena narkotika.

Panji Tak Perlu Insecure

John Krasinski, seorang aktor drama-komedi, yang juga menulis sketsa adalah contoh baik buat Pandji jika ingin memperbaiki insekuritasnya tentang pesan yang disalahpahami. Krasinski, dalam A Quiet Place berhasil membuat penontonnya merasakan horor yang diinginkannya, bahkan nyaris tanpa menggunakan perangkat dialog. Semua dibangun lewat setup latar yang kuat, dan lakon aktor yang baik. Itu semua tak terlepas dari naskah yang juga dipersiapkan matang.


Krasinski juga menulis, jadi aktor utama, sekaligus duduk di kursi sutradara, seperti Pandji. Harusnya, pekerjaan Pandji bukan jadi lebih sulit karena visinya sebagai pembuat film akan lebih mudah diarahkan. Sebagaimana yang juga dilakukan Ernest Prakasa dalam film-filmnya.

Yang bikin John Krasinsiki makin hebat adalah latar belakangnya yang jauh dari dunia horor. Ia adalah aktor drama-komedi. Tulis saja namanya di kotak pencarian Youtube, niscaya tayangan interview suami aktris Emily Blunt ini selalu mengundang tawa. Jika A Quiet Place adalah film lawak, tak heran kalau Krasinski menuai puja-puji. Tapi siapa sangka, komedian bisa bikin film horor secerdas A Quiet Place—yang juga dipuji Raja Horor Stephen King.

Tak bermaksud membandingkan Pandji dengan Krasinski—tapi, jika aktor komedi saja bisa bikin film horor, bukankah seorang komika sudah biasa melucu?

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Windu Jusuf
DarkLight