Parade Semu Kemegahan Stadion Sepakbola

Oleh: Suhendra - 13 Desember 2016
Dibaca Normal 3 menit
Jejeran stadion sepakbola baru nan megah berdiri beberapa tahun terakhir di Indonesia. Kemegahan stadion baru ini boleh saja dibanggakan, tapi bagaimana dengan kualitas dan pemeliharaannya?
tirto.id - “Saya harap final dimainkan di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Bekasi, Kapasitas penontonnya lebih besar daripada Pakansari.”

Cuitan netizen semacam ini menjelang final AFF sempat ramai di jagad twitter. Tak ada yang salah dari harapan publik yang begitu besar untuk menampilkan wajah stadion kebanggaan mereka bisa menjadi kandang ajang sepakbola dua tahunan AFF.

Stadion Pakansari di Kabupaten Bogor akhirnya tetap dipilih PSSI sebagai tempat menjamu Timnas Thailand. Stadion berkapasitas 30.000 orang ini sukses jadi tempat menjamu Timnas Vietnam pada semifinal AFF pada 3 Desember lalu. Bupati Bogor Nurhayanti mengklaim Stadion Pakansari sudah memenuhi standar FIFA. Secara kapasitas, stadion yang berlokasi di Cibinong ini memang sedikit di bawah Stadion Wibawa Mukti yang berkapasitas 35.000 orang. Kedua stadion ini termasuk jajaran stadion baru dan megah di Indonesia.

Semenjak renovasi Stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang masih berlangsung untuk keperluan Asian Games 2018, Indonesia seperti tergagap untuk menyelenggarakan pertandingan sepakbola skala internasional yang sebelumnya bisa digelar di GBK, stadion berkapasitas 88.000 orang atau terbesar di Indonesia. Kondisi ini menjadi kesempatan bagi stadion-stadion baru yang punya embel-embel berstandar internasional untuk unjuk gigi di mata dunia.

“Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, beliau takjub dengan stadion Kota Bekasi (Stadion Patriot) dan berniat menjadikannya sebagai venue untuk Asian Games," kata Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi dikutip dari Antara.

Bercokolnya stadion-stadion megah di berbagai daerah merupakan hasil dari pergelaran besar ajang pesta olahraga lokal maupun internasional. Stadion Aji Imbut di Kalimantan Timur dibangun karena kegiatan PON 2008, Stadion Utama Riu hasil PON 2012, juga Stadion Jakabaring dari kegiatan SEA Games 2011.

Menjelang sebagai tuan rumah PON 2016, Jawa Barat berhasil membangun stadion besar, termasuk Pakansari di Kabupaten Bogor, Wibawa Mukti di Kabupaten Bekasi, Stadion Patriot Chandrabhaga Kota Bekasi hingga Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Kota Bandung yang lebih dahulu berdiri sebelum ajang PON. Sebelumnya Jawa Barat sudah memiliki Stadion Jalak Harupat di Soreang, Kabupaten Bandung. Ini menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi yang banjir dengan stadion megah.

Dana yang disiapkan untuk membangun stadion-stadion besar itu tak sedikit, rata-rata mencapai ratusan miliar rupiah. Stadion Patriot Chandrabaga dan Wibawa Mukti dibangun dengan dana kurang lebih Rp400 miliar. Stadion Pakansari yang kini sedang jadi buah bibir menguras dana Rp800 miliar. Semuanya masih menggunakan anggaran pemerintah daerah kabupaten/kota dan provinsi untuk pembangunan maupun perawatannya.

Memang dibandingkan dengan stadion-stadion di kawasan, apalagi di dunia, stadion di Indonesia masih kalah jauh dari sisi kapasitas. Ambil contoh Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, tercatat masih yang terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 100.000 orang. Stadion Rajamangala, Bangkok Thailand yang jadi lokasi leg kedua final AFF 2016, kapasitasnya mencapai 65.000 orang.

Meski demikian, kehadiran stadion-stadion megah ini tak bisa dipungkiri menambah daftar infrastruktur olahraga terpopuler di Indonesia. Sayangnya, infrastruktur yang sudah dibangun melahirkan persoalan-persoalan remeh hingga pelik.

Infografik Parade Stadion Menengah Sepakbola


Kemegahan yang Semu

Dalam laporan Tirto sebelumnya, fasilitas-fasilitas gelaran PON Riau 2012 dan PON Kaltim 2008 banyak yang terbengkalai, tak terkecuali stadion sepakbola. Stadion megah Aji Imbut, di Tenggarong Kalimantan Timur sempat tak terurus. Persoalan komitmen pemeliharaan stadion megah, memang jadi momok bagi pemerintah daerah.

Persoalan juga terjadi pada Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Sebelum perhelatan PON 2016 berlangsung, stadion GBLA yang berkapasitas 38.000 orang bermasalah pada struktur bangunan yang retak akibat penurunan permukaan tanah karena lokasi stadion menempati areal persawahan. Pada Juli 2015 lalu, saat Kepala Bareskrim Polri masih dipegang oleh Komjen Pol. Budi Waseso, persoalan keretakan GBLA ini menjadi sorotan dan menjadi objek investigasi kepolisian.

Stadion megah di Indonesia tak luput dari persoalan remeh temeh seperti kontroversi penamaan sebuah stadion. Tahun lalu, sempat ada kontroversi nama untuk Stadion Wibawa Mukti. Ada gerakan warga yang mendesak Bupati Bekasi agar Stadion Wibawa Mukti diganti nama menjadi Stadion Lemahabang. Persoalan nama juga sempat mewarnai pergantian Stadion GBK dari Stadion Utama Senayan, atau kembali ke nama asalnya.

GBK juga sempat menuai kontroversi akibat penggunaan stadion di luar kepentingan sepakbola. Awal 2015 lalu, saat konser boyband asal Inggris, One Direction hampir berbarengan dengan pertandingan Timnas U-23 untuk kualifikasi piala AFC U-23 Championship. Pada waktu itu sempat ada kontroversi “kedaulatan” sepakbola.

Namun, dari sekian kontroversi itu semua, ada yang menjadi paling krusial yaitu soal kualitas stadion megah yang sudah dibangun. Kualitas stadion di Indonesia bukan tanpa kritik. Penampilan yang wah dengan bangku-bangku tunggal yang warna-warni, dan kubah stadion yang menjulang ternyata tak dibarengi dengan kualitas lapangan.

Jelang perhelatan semifinal AFF awal Desember lalu, Stadion Pakansari yang menjadi kebanggaan warga Bogor mendapat catatan AFF bahkan pelatih Timnas Alfred Riedl sempat mengeluhkan kualitas lapangan, termasuk pemain Timnas Vietnam yang sempat merumput di Pakansari.

"Kondisi lapangan kurang baik, saya berharap sudah ada perbaikan pada saat pertandingan nanti," kata Alfred Riedl jelang semifinal AFF dikutip dari Antara.

Persoalan kualitas lapangan dan rumput Stadion Pakansari, bukan satu-satunya yang terjadi. Stadion Utama Riau yang bernilai Rp900 miliar mendapatkan kritikan oleh gubernur Riau pada 2013 lalu, jelang cara pembukaan dan penutupan Islamic Solidarity Games (ISG) III 2013. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi termasuk yang kecewa dengan kerusakan rumput Stadion Patriot Chandrabaga yang bernilai Rp 2 miliar, jelang dipakai untuk PON 2016.

Di tengah bolong-bolongnya perawatan dan kualitas stadion megah di Indonesia. Beberapa pemerintah daerah justru sedang menyelesaikan stadion megah baru lainnya, antara lain Stadion Balikpapan senilai Rp1,2 triliun yang rencananya akan rampung pada 2017. Seakan tak mau kalah, Pemprov Bali juga sedang menyiapkan stadion baru berstandar internasional senilai Rp1,6 triliun. Stadion-stadion baru ini seumuran dengan rencana pembangunan Stadion Bersih, Manusiawi, Wibawa (BMW) di Jakarta yang akhirnya ditunda.

Para suporter sepakbola boleh saja berbangga dengan mulai bermunculannya stadion-stadion megah di Indonesia. Namun, bila hanya mengejar kebanggaan dengan kapasitas dan keindahan stadion tapi abai untuk urusan merawat dan menjaga kualitas, ini sama saja sebuah parade kemegahan yang semu.

Baca juga artikel terkait PIALA AFF atau tulisan menarik lainnya Suhendra
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Suhendra
Penulis: Suhendra
Editor: Zen RS