13 Desember 1937

Parade Kebrutalan Tentara Jepang dalam Pembantaian Nanking

Ilustrasi Mozaik Pembantaian Nanking. tirto.id/Sabit
Oleh: Indira Ardanareswari - 13 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
Pembantaian Nanking yang dilakukan tentara Jepang terjadi dua tahun sebelum Perang Dunia II pecah.
tirto.id - Aroma kematian berhamburan di sepanjang jalan yang dilalui tentara Kwantung dari Manchuria sampai ke Shanghai. Pada pertengahan November 1937, teror kesatuan militer Jepang itu semakin mendekati pintu gerbang kota Nanking, basis utama pemerintah nasionalis Cina.

Konflik antara Jepang dan Cina semakin meruncing sejak memasuki paruh pertama tahun 1930-an. Saat itu, militer Jepang di Manchuria merekayasa pengeboman dekat jalur kereta api yang dikenal dengan nama Insiden Mukden. Peristiwa ini menyudutkan pemerintah nasionalis Cina yang kemudian melahirkan krisis Manchuria.

Pendudukan Jepang di Manchuria diwarnai dengan penghancuran sistematis dan pembunuhan terhadap sejumlah panglima perang lokal. Negara-negara Barat, khususnya Amerika, mengkritik habis-habisan operasi militer Jepang itu dalam sebuah nota tertanggal 22 September 1931 sebagai tindakan yang sudah mengarah kepada peperangan.

Agresi militer ke Manchuria pula yang membuat Jepang menjadi lebih agresif hingga melahirkan sikap permusuhan yang ekstrem. Hal ini kemudian menjadi pemicu pembantaian Nanking yang bermula pada 13 Desember 1937, tepat hari ini 82 tahun silam.


Pembantaian Dimulai

Sejak pertengahan 1937, tentara Kwantung telah menunjukkan gelagat hendak memperkuat pengaruh Kekaisaran Jepang di sepanjang pesisir timur daratan Cina. Tembak-menembak berskala kecil antara kedua negara berubah menjadi perang besar. Jepang mulai bergerak ke selatan untuk melumpuhkan dominasi pemerintah nasionalis Cina di Nanking.

Pada 1 Desember 1937, Chiang Kai-shek, pimpinan Partai Kuomintang di Nanking menginstruksikan untuk mengevakuasi semua perangkat pemerintahan. Ia juga menarik sebagian besar kekuatan tempurnya ke sisi lain Sungai Yangtze pada malam hari tanggal 12 Desember. Kota Nanking ditinggalkan dalam keadaan kalut di bawah penjagaan pasukan cadangan yang kurang terlatih.

Absennya kekuatan militer Cina membuat penjagaan terhadap kota Nanking menjadi sangat lemah. Hanya berselang satu bulan sejak Jepang mengambil alih Shanghai, tembok pertahanan Nanking dengan cepat dijebol. Pasukan Jepang berangsur memasuki Nanking pada pagi hari tanggal 13 Desember 1937, dilanjutkan pembantaian sistematis terhadap tentara Cina dan rakyat sipil.

“Semua tawanan diikat, diseret ke tepian sungai [Yangtze] dan ditusuk menggunakan bayonet. Beberapa langsung meninggal, lainnya menjerit kesakitan. Bahkan, sampai jam 4 atau 5 sore mereka belum menyelesaikan pembunuhan massal itu,” kenang Luo Zhong Yang, serdadu Cina yang kala itu masih berusia 17 tahun.

Menurut Luo, serdadu Cina yang sudah meletakan senjata pun tidak lepas dari maut. Ia dan kesatuannya terpaksa bersembunyi di rumah-rumah penduduk, menanggalkan seragam militer, dan menunggu kesempatan kabur menyeberang Sungai Yangtze.

Dalam kesaksian para penyintas, Wen Sunshi mengaku masih sangat muda ketika tentara Jepang menginjakan kaki di Nanking. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat tentara nasionalis Cina berhamburan menyelamatkan diri dengan cara mencebur ke sungai. Namun, mereka justru dibantai di dalam air.

“Kami melihat kapal perang Jepang menembaki pasukan Tiongkok yang sedang menyeberang menggunakan senapan mesin tanpa pandang bulu,” ujarnya. Tidak kurang dari 50 ribu tentara Cina beserta pengungsi yang hendak menyeberang sungai menemui ajal.

Wen sendiri ditangkap tentara Jepang ketika berlindung di sebuah penginapan yang dikelola orang asing. Bersama tujuh perempuan lainnya, ia dipaksa melayani nafsu berahi para serdadu Jepang. Dalam pembantaian dan pemerkosaan massal itu puluhan ribu perempuan bernasib nahas seperti dirinya, baik muda maupun telah lanjut usia.

Mereka diperkosa di jalanan tanpa pandang bulu. Bahkan perempuan hamil dan anak-anak pun dipaksa menanggung pelecehan dan kekerasan seksual. Setelah diperlakukan begitu buruk, tidak banyak dari mereka yang dibiarkan pergi hidup-hidup.

Di hari kedua, pembantaian dan pemerkosaan terhadap warga sipil berubah menjadi penghancuran dan penjarahan. Kota Nanking tumbang setelah tank-tank Jepang menjebol dan meratakan satu pertiga bangunan kota.

Pada 17 Desember 1937, Kota Nanking resmi jatuh ke tangan Kekaisaran Jepang. Kemenangan itu mereka sambut dengan pawai dan tarian militer di sepanjang puing-puing dan abu mayat korban pembakaran. Namun, penghancuran dan pembunuhan ternyata belum usai.

Kekejaman dalam kota terus berlangsung selama enam minggu berturut-turut sampai awal Februari 1938. Menurut catatan Pengadilan Kejahatan Perang untuk Timur Jauh, Pembantaian Nanking merenggut sekitar 300 ribu jiwa dan lebih dari 20 ribu perempuan menjadi korban pemerkosaan. Angka ini disanggah oleh pemerintah Jepang dan sampai kini masih terus diperdebatkan.


Kompetisi Membunuh

Kepadatan penduduk yang cukup tinggi barangkali merupakan salah satu alasan di balik Pembantaian Nanking. Akibat krisis di Manchuria, jumlah penduduk kota Nanking meningkat drastis dari tahun ke tahun sepanjang periode 1930-an. Catatan China News Digest menyebut populasi setempat melompat dari sekitar 250 ribu jiwa menjadi lebih dari satu juta orang jelang pertengahan 1930-an. Sebagian besar dari mereka adalah pengungsi.

Setelah Nanking jatuh ke tangan Jepang, penduduk yang tertahan di dalam kota hanya berhasil menyelamatkan diri ke dalam zona aman yang dibuat komite internasional. Zona yang dibangun oleh kelompok orang asing yang terdiri dari para diplomat, pebisnis, dan golongan misionaris ini hanya mampu menampung sekitar 200 ribu orang.

Meski demikian, pembantaian belum benar-benar selesai. Selama enam minggu, serdadu Jepang beberapa kali masuk ke kamp-kamp pengungsian dan menarik keluar beberapa orang untuk dibunuh. Bahkan ada kalanya pembunuhan dan pemerkosaan itu justru terjadi di dalam tempat perlindungan.

Misionaris Kristen, John Magee, seperti dicatat BBC mendeskripsikan bahwa serdadu Jepang membunuh para tahanan dan warga sipil lainnya ibarat berburu kelinci. Di areal “perburuan” bernama Nanking, para korban dianiaya dan dibunuh dengan cara dipenggal atau dibakar. Jasadnya kemudian difoto sambil diapit para serdadu Jepang yang sedang mengumbar senyum.

Selama bertahun-tahun, peneliti Theodore Failor Cook dan istrinya, Haruko Taya Cook, berusaha memahami alasan di balik kekejaman serdadu Jepang di Cina sebelum Perang Dunia II. Menurut temuan suami istri ini yang tertuang dalam Japan at War: An Oral History (2000), aksi kekerasan yang sebagian besar dilakukan oleh serdadu berusia remaja tersebut bahkan tidak ada kaitannya dengan memori kolektif perang sipil di Jepang.

Bentuk kekejaman militer Jepang di Cina, lanjut Cook, lebih mendekati penghancuran dan pembunuhan sistematis yang kerap dilakukan bangsa Mongol terhadap daerah urban yang memiliki populasi padat. Namun Cook menemui banyak kesulitan memperluas argumennya ketika berusaha menganalisa watak serdadu Jepang di balik Pembantaian Nanking. Ia menyebutnya ibarat masuk ke dalam “lubang hitam.”

Sementara Iris Chang dalam bukunya The Rape Of Nanking: The Forgotten Holocaust Of World War II (2014), berusaha memperkuat argumen Cook melalui pembacaan terhadap sejumlah cerita lisan dan foto. Menurut Chang, serdadu Jepang tidak dibentuk untuk menghadapi peperangan di Cina dan Asia setelahnya, melainkan dibentuk untuk menyelesaikan tugas melalui sejumlah kompetisi membunuh.

“Beragam permainan dan pelatihan disiapkan oleh militer Jepang untuk melumpuhkan rasa kemanusiaan [para serdadu] ketika melawan orang yang tidak bersenjata,” tulis Chang.




Ianjo sebagai Dalih Menekan Sifat Liar

Pasca pembantaian dan pemerkosaan massal yang dilakukan serdadu Jepang di Nanking, otoritas militer Jepang malah semakin agresif. Namun, di saat bersamaan, watak fasisme Jepang yang semakin meningkat ketika memasuki Perang Dunia II juga diikuti kewaspadapan terhadap kritik internasional.

Iris Chang menjelaskan bahwa tidak ada upaya dari pejabat militer untuk menghukum para pelaku pembunuhan warga sipil. Sebaliknya, peristiwa Nanking telah menanamkan ide agar setiap kesatuan tempur membangun tempat prostitusi di barak-barak militer untuk menekan sifat liar para serdadu Jepang sepanjang Perang Pasifik.

“Kesatuan Militer Jepang di Cina daratan mulai mengeluarkan anjuran pembentukan rumah prostitusi pada periode ini,” tuturnya.

Chang mencatat bahwa rumah prostitusi pertama kali dibuka di dekat Nanking pada tahun 1938. Melalui cara ini, militer Jepang berharap dapat menekan angka kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan lokal.

Namun, di sisi lain tindakan ini juga menyimpan motif agar Kekaisaran Jepang tidak dijadikan sasaran kritik terkait pembunuhan dan permerkosaan massal seperti yang terjadi selama penyerbuan ke kota Nanking.

Sejak tahun 1938, kamp perempuan yang bernama Ianjo senantiasa dibangun mengikuti ekspansi kekuatan militer Jepang dari Cina, Korea, hingga penjuru Asia Tenggara. Anna Mariana dalam Perbudakan Seksual: Perbandingan Antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasisme Orde Baru (2015: hlm. 36) menyebutnya sebagai salah satu strategi Jepang menundukkan musuh selama masa perang.

Ya, Ianjo nyatanya lebih kerap sebagai tempat perbudakan seks yang mengerikan daripada tempat pelacuran yang bersifat transaksional. Di kamp-kamp inilah para Jugun Ianfu dipaksa melayani para serdadu Jepang menyalurkan berahinya. Dan kekerasan pun terus berlangsung.

“Jika ada barak militer (satu batalion) berdiri, maka dapat dipastikan kamp perempuan akan berdiri di sekitar barak itu,” tulisnya.

Baca juga artikel terkait PEMBANTAIAN MASSAL atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Irfan Teguh
DarkLight