Hikayat Ramadan

Para Ulama yang Berekreasi dari Kepenatan Menulis

Oleh: Fariz Alniezar - 21 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Bagi sebagian ulama, tak ada waktu yang mesti terbuang percuma. Di sela kesibukan menulis karya yang serius, mereka rehat dengan menulis karya lain yang lebih ringan dan menghibur.
tirto.id - Cara para ulama terdahulu dalam melepas kepenatan dan menyegarkan badan serta pikiran cukup unik. Sambil santai, mereka bisa tetap produktif. Di tengah kesuntukan dan kesibukan menuliskan karya yang "berat", mereka berekreasi dengan cara menulis karya yang bobotnya agak ringan.

Salah satu yang menempuh cara ini adalah Syihabuddin Ahmad ibn Salāmah al-Qulyūbi. Ulama penganggit sejumlah karangan seperti Hasiyyah Al-Qulyūbi ala Mahalli dan Hasyiyyah Tahrir ini merupakan sosok prolifik yang memiliki keilmuan interdisipliner.

Ia bukan saja ahli fikih, tapi juga sebagai pakar retorika dengan karya besar bertajuk Hasiyyah Isaguji, dan pionir dalam ilmu tata gramatika serta sastra Arab dengan menulis kitab Hasiyyah Syarah Jurūmiyya. Sejumlah kalangan menjura kepadanya karena ia pakar di bidang ilmu kesehatan dan kedokteran. Pada dua bidang disiplin ilmu tersebut, ulama yang hidup pada Abad ke-11 Hijriah ini menulis karya berjudul Al-Jami dan Tazkirah Al-Qulyūbi.

Di sela-sela kapadatan dan keseriusannya menulis karya-karya tersebut, al-Qulyūbi juga menulis kitab rekreatif bertajuk An-Nawādir. Kitab ini berisi himpunan hikayat tentang keanehan dan peristiwa langka. Di dalamnya, terkandung kisah-kisah yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan hikmah kebijaksanaan. Tidak jarang ia menyisipkan sampiran bernada humor.

Metode penulisan seperti itu membuat tulisannya bukan saja bernas, tapi juga tajam dan universal. Tema-tema yang diangkat, selain kisah sehari-hari, juga kisah-kisah yang umumnya memiliki nilai berdaya tahan lama. Kecerdikan inilah yang membuat An-Nawādir menjadi salah satu karya cemerlang yang melambungkan namanya.

Hal serupa dilakukan oleh Jalāluddin Abdurrmah bin Abu Bakar As-Suyūthi. Ulama besar berjuluk Ibnu Kutub ini merupakan penulis produktif yang memiliki keilmuan mumpuni di banyak bidang. Ia pernah berduet dengan Jalāluddin Al-Mahalli menulis kitab tafsir yang sampai saat ini laris dipelajari di pesantren-pesantren di pelosok Indonesia bertajuk Tafsir Jalalain (Tafsir dua Jalal). Dari tangannya juga lahir kitab terkenal dalam disiplin kaidah fikih, yakni Al-Asybah wan Nadzāir.

As Suyūthi membunuh kesuntukannya di sela-sela menulis pelbagai buku serius dengan cara menulis kitab Nawādhirul Aik fi Ma’rifati Naik. Kitab ini berisi resep-resep mujarab dalam bersebadan. Dengan bahasa yang sangat vulgar dan lugas, ia menuliskan bagaimana adab, etika, juga resep agar setiap orang yang berhubungan intim dapat mencapai ekstase dan puncak kenikmatan. Seks yang bagi banyak kalangan dianggap tabu, di tangan As-Suyūthi menjadi ringan untuk diperbincangkan.

Cara As-Suyūthi menjatuhkan pilihan berekreasi dengan menuliskan resep bercinta, sejalan dengan yang pernah dikatakan oleh Junaid Al-Bahgdādi. Salah satu imam rujukan utama bidang tasawuf tersebut, sebagaimana dinukil oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin dan juga Ali Al-Jurjawi dalam Hikmah Tasyri’ wa Falsafatuh, pernah mengeluarkan pernyataan bernada kontroversial.

"Ahtaju ilal jima’ kama ahtaju ilal quut (Aku butuh seks, laiknya aku membutuhkan makanan)," ungkap Imam Junaid.

Pernyataan Imam Junaid, juga karya As-Suyūthi, menjelaskan satu hal bahwa perkara seks bagi ulama terdahulu bukan sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan.

Infografik Hikayat Karya Unik Para Ulama
Infografik Hikayat Karya Unik Para Ulama

Sedot Lemak Berujung Kematian

Karya rekreatif lain ditulis oleh Abdussalam Muhammad Harun. Ulama kontemporer ini menggandrungi hal-hal unik dan aneh. Ia menjelajahi pengetahuan-pengetahuan yang aneh dan langka dalam sebuah kitab bertajuk Kunnasyatun Nawādir.

Di dalam kitab ringkas ini, ia misalnya menulis tentang praktik sedot lemak. Abdussalam Muhammad Harun menjelaskan, berdasarkan investigasi ilmiah dan akademiknya terhadap kitab Ishābah karya Ibnu Hajar Al-Asqalany, praktik sedot lemak pertama kali dilakukan oleh sahabat Miqdad bin Aswad Al-Kindi.

Lelaki berperut buncit itu dikibuli oleh budaknya yang berasal dari Romawi. Kepada Miqdad, sang budak menawarkan jasa keahlian bedah perut untuk mengambil lemak. Namun malang, Miqdad dikabarkan meninggal pasca operasi itu dan budaknya melarikan diri.

Abdussalam Harun juga berhasil menemukan fakta unik bahwa tradisi makan dengan menggunakan sendok sudah ada sejak lama. Dari hasil penelusuran terhadap kitab Ar-Rad ala Syuubiyyah karya Ibnu Qutaibah, diketahui bahwa bangsa Persia telah lama menggunakan sendok dan garpu untuk menyantap makanan.

Dalam bidang hiburan ia juga menemukan hal yang menarik. Menurutnya, berdasarkan sajak Ibnu Jauzy dalam kitab Nujūmuz Zāhirah, hiburan layar tancap sudah ada sejak abad kelima masehi.

Demikian contoh sejumlah ulama yang berekreasi dengan kreatif dan produktif. Mereka tak rela waktu santainya terbuang percuma. Maka karya lahir di sela kesibukan menulis karya yang lain.

==========

Sepanjang Ramadan, redaksi menampilkan artikel-artikel tentang kisah hikmah yang diangkat dari dunia pesantren dan tradisi Islam. Artikel-artikel tersebut ditayangkan dalam rubrik "Hikayat Ramadan". Rubrik ini diampu selama sebulan penuh oleh Fariz Alnizar, pengajar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan kandidat doktor linguistik UGM.

Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Fariz Alniezar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Fariz Alniezar
Editor: Irfan Teguh
DarkLight