Para Serdadu Rendahan yang Jadi Pemimpin Dunia

Para Pemimpin Dunia Bekas Kopral dan Sersan. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 29 November 2017
Dibaca Normal 4 menit
Beberapa tokoh penting dunia yang berpengaruh punya pengalaman sebagai serdadu berpangkat rendah.
tirto.id - Benzion Netanyahu jelas sejarawan. Salah satu karyanya yang terkenal adalah The Founding Fathers of Zionism (2012). Profesor Sejarah di Universitas Cornell, Itacha, ini merupakan ayah dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pemimpin Israel yang kerap dipanggil Bibi ini merupakan anaknya yang kedua.

Seperti anak Benzion yang lain, waktu muda Bibi adalah seorang letnan di pasukan khusus Israel, Sayaret Matkal. Namun, belum juga jadi Mayor apalagi Jenderal, Bibi keluar dan jadi politikus sipil.

Tak hanya Bibi saja yang pernah jadi tentara sebentar sebelum menjadi politikus. Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris di masa Perang Dunia II, pernah jadi letnan di Angkatan Darat Inggris dalam Perang Boer di Afrika.

Dari keluarga Kennedy, ada John Fitzgerald Kennedy yang pernah jadi letnan di Angkatan Laut Amerika Serikat. Sementara, adiknya John, Robert Kennedy alias Bob, pernah jadi kelasi di Angkatan Laut. Setelah berkarier di militer, anak keluarga tajir nan terpandang itu masuk dunia politik.

Seorang jenderal lalu jadi politikus tentu hal yang biasa. Jenderal yang jadi penguasa lewat jalur kudeta macam Augusto Pinochet atau Noriega juga bukan kasus langka. Tapi, yang sebentar di dinas militer, lalu memilih jadi politikus sipil memang lebih menarik dibahas.

Biasanya orang yang menjadi letnan adalah lulusan sekolah menengah dan pernah belajar di Akademi Militer. Misalnya, Winston Churchill. Ada juga bekas anak kuliahan yang masuk tentara tanpa perlu masuk akademi. Contohnya adalah Benjamin Netanyahu atau John F. Kennedy.

Tapi sangat luar biasa mereka-mereka yang tak pernah mencapai pangkat letnan kemudian jadi negarawan.

Sersan Batista Mengkudeta

Tak ada lompatan yang sehebat dilakukan oleh Fulgencio Batista.

Idi Amin, ketika mengkudeta Milton Obete di tahun 1971, menurut Adam Seftel dalam Uganda: The Rise and Fall of Idi Amin: From The Pages of Drum (1994:93), saat itu sudah berpangkat kolonel di Angkatan Perang Uganda. Sementara itu, ketika memimpin tentara mengkudeta raja Idris di Libya, menurut G. Simons dalam Libya: The Struggle for Survival (1996:170), pangkat Moammar Gaddafi masih kapten.

Tapi Batista hanya Sersan saat mengambil alih kekuasaan.


Baca Juga: Kudeta Para Sersan Membuat Batista Berkuasa

Batista masuk militer karena tidak mau terus miskin. Ketika masih berpangkat sersan, antara tanggal 4-5 September 1933, bersama sersan dan serdadu lain bergerak dalam Sergeants' Revolt (Pemberontakan Sersan) atau Revolusi Kuba 1933. Setelahnya, Batista pun jadi orang yang berpengaruh di Kuba. Namun, ia tidak langsung mengambil alih kursi kepresidenan. Begitulah jalur dia berpolitik.

Dengan dukungan Pemerintah Amerika Serikat, Batista menjadikan dirinya orang kuat di Kuba. Dari 1934 hingga 1940 dia (hanya) menjabat Kepala Angkatan Perang sementara itu orang-orang sipil silih berganti menduduki kursi kepresidenan,” tulis Jorge I Dominguez dalam artikel The Batista Regime in Cuba dalam buku Sultanic Regimes (1998:114). Batista membuktikan, tak perlu menunggu jadi jenderal untuk jadi penguasa.

Di Amerika Latin kontemporer, bekas serdadu rendahan yang sukses jadi negarawan tanpa harus kudeta adalah Evo Morales. Menurut Andrew Canessa, dalam Race, Sex, and History in the Small Spaces of Andean Life (2012:221), Evo pernah berdinas sebentar di antara pergantian dekade 1970an hingga awal 1980an. Saat itu ia berdinas sebagai polisi militer. Pangkatnya hanya prajurit rendahan.

Baca Juga: Morales dan Perceraian Bolivia dengan IMF

Bekas Kopral dan Sersan Bertarung dalam PD II

Waktu Perang Dunia I (1914-1918) meletus, Benito Amilcar Andrea Musolini (1881-1943) menampilkan diri sebagai seseorang yang cinta perang. Menurut Robert T. Elson dalam buku Menjelang Perang (1986:84), terjemahan dari Prelude to War terbitan Time-Life Books, “Tahun 1915 ia sendiri masuk tentara dan ditugaskan di front Alpen, meskipun pangkatnya tak lebih dari sersan.”

Setelah keluar dari militer dengan pangkat kopral, Musolini melanjutkan hidup dengan mendirikan surat kabar Il Popolo. Tentu saja koran itu dipergunakan untuk kepentingan politiknya. Meski awalnya tak begitu baik pada 1920, kaum fasis Italia pimpinan Musolini bisa bersinar setahun kemudian, pada 1921.

“Industriawan dan tuan tanah kini terbuka mendukung mereka,” tulis Elson (1986:88).


Dalam pemilihan Mei 1922, 35 orang fasis termasuk Musolini terpilih masuk parlemen. Maka menguatlah kelompok fasis. Pada Bulan Mei itu juga, 50 ribu squadisti mengambil-alih balai kota Ferarri dan menuntut diadakannya proyek padat karya. Di Bologna, Parma dan Ravenna juga terjadi hal yang sama.

Pada 27 Oktober 1922, 14 ribu orang-orang fasis bergerak. Bukannya mengerahkan tentara untuk menekan orang-orang fasis yang akan rusuh itu, Perdana Menteri Luigi Facta malah tawar-menawar dengan Musolini. Raja Italia Victor Immanuel III pun meminta Musolini membentuk pemerintahan sebagai Perdana Menteri.


Sementara itu, ketika Perang Dunia I dimulai, seniman gagal Adolf Hitler bergabung dalam Resimen Bavaria Jerman. Dua kali Hitler terluka. Dia memulai kariernya sebagai prajurit biasa.

Menurut John Frank Williams dalam Corporal Hitler and the Great War 1914-1918: The List Regiment (2005:63), Hitler ditempatkan di kompi infanteri dan menjadi kurir. Kemudian dipromosikan menjadi kopral dan menerima Iron Cross. Namun, selesai PD I, Hitler termasuk dalam golongan tentara-tentara yang kalah perang. Sudah kalah perang Jerman dipermak Sekutu hingga pulen. Ekonomi dalam negeri Jerman pun remuk.

“Tahun 1919 Adilf Hitler pada usia 30 tahun adalah seseorang yang tidak berarti. Ia tinggal di Munchen, dalam barak batalyon cadangan resimennya pada masa perang. Ia tidak punya tempat tinggal lain [...] Pengabdiannya sebagai tentara Jerman ternyata merupakan masa paling bahagia dalam hidupnya yang sebelumnya tanpa tujuan,” tulis Elson (1986:84).

Selepas perang, barulah Hitler mengambil jalur yang lain. Ia mulai merintis jalur baru di dunia politik.



Jika Batista berkuasa ketika jadi tentara, maka Hitler dan Musolini berjuang sebagai politikus sipil yang harus turun ke jalan untuk berkuasa. Hitler yang pemalu itu bergabung dengan Partai Buruh Jerman. Tak hanya memperlihatkan diri sebagai organisatoris, karena bakat terpendamnya memang terletak dalam kemampuan yang sangat berguna dalam propaganda yaitu berpidato.

Setelah memimpin Partai Buruh, ia mengubah partai tersebut menjadi Partai Buruh Jerman Nasionalis Sosialis yang dikenal sebagai Nationalsozialistche Deutche Arbeiterspartei, yang dikenal sebagai NAZI. Partai itu kemudian identik dengan lambang swastika rancangan ulang Hitler.

Sebagai politikus ia menjadi pemimpin dalam menuntut berbagai isu yang sangat populer: dibatalkannya Perjanjian Versailles yang sangat merugikan Jerman, pembagian keuntungan industri kepada buruh, kenaikan pensiun dan penghapusan kewarganegaraan orang-orang Yahudi. Dari sanalah Hitler menuai popularitas dan menjadi kesayangan bangsa Jerman yang sedang terpuruk.

Setelah belasan tahun berpolitik di jalanan, diselingi terbunuhnya kawan-kawan politiknya, ia pun mencicipi dinginnya lantai penjara. Di dalam sel itulah ia menulis Mein Kampt. Situasi mulai bersinar baginya memasuki dekade 1930an dan memuncak pada 1933 saat ia menjadi kanselir Jerman.

Baca juga:
Sedang Mussolini mencicipi ke pucuk kekuasaan di Italia tak lebih panjang dari Hitler. Tahun 1923, Musolini sudah jadi orang paling berpengaruh di Italia sejak 1922. Raja Italia, Victor Immanuel III, bahkan memberikan dukungannya.

Ada kesamaaan antara Musolini dan Hitler dalam hal merekrut mantan tentara dalam kelompoknya. Jika Hitler merekrut bekas tentara dan preman jalanan dalam Sturm Ableitung (SA), maka Musolini merekrut bekas pasukan gerak cepat Italia, Arditi, dalam paramiliter bernama Fascio di Combattimento.

Dalam Perang Dunia II, Musolini dan Hitler membawa negara mereka dalam kubu yang sama. Keduanya bahu-membahu berhadapan dengan negara-negara Sekutu, termasuk berhadapan dengan Soviet.

Bekas Sersan yang Menentang Hitler

Di Balkan, Hitler punya musuh yang punya kesamaan latar belakang. Sebuah kelompok Partisan yang memimpin perlawanan kepada Jerman dipimpin seorang Kroasia yang merupakan bekas sersan Tentara Austro Hongaria. Bekas sersan itu bernama Josip Broz Tito.

Menurut Ronald Bailey dalam buku Partisan dan Gerilyawan (1986:75), yang diterjemahkan dari buku Partisans and Guerillas, waktu Perang Dunia I dia pernah ditawan Rusia. Lalu akrab dengan orang Bolshevik dan jadilah dia komunis.

Meski mengalami pemenjaraan dan Partai Komunis Yugoslavia ditekan polisi, dia keukeuh jadi komunis. Bahkan menjadi Sekretaris Jenderal Partai komunis pada 1939. Dan ketika fasis Jerman datang ke tanah airnya, laki-laki komunis ini memimpin perlawanan.


Jerman berperang dengan kejam di Balkan. Josip Broz menjadi salah satu buruan utama militer Jerman. Setelah Jerman kalah dan negara-negara Balkan bersatu dalam Yugoslavia, Josip Broz alias Tito pun menjadi pemimpinnya. Meski negara itu kemudian bubar lagi dan terpecah-belah hingga sekarang.

Baca juga artikel terkait SEJARAH MILITER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight