Para Penyair Instagram

Ilustrasi instapoet. Instagram/@tylerknott
Oleh: Husein Abdulsalam - 21 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Seiring berkembangnya media sosial, para penyair mulai mengunggah karyanya di Facebook, Twitter, Instagram dan membuat mereka jadi terkenal.
tirto.id - Jalan Kemang Timur Raya sedang diguyur hujan dan tiada yang berubah pesat. Pengemudi Go-Jek tetap hilir-mudik memarkirkan motor di depan kantor operasional Go-Jek Jakarta Selatan. Para pedagang kaki lima sibuk menjajakan dagangan. Sementara perut saya tetap lapar dan memaksa kaki ini berjalan pelan menuju sebuah warteg yang letaknya tak jauh dari kantor perusahaan Nadhim Makarim itu.

Usai tandas seporsi makanan, sembari menyeruput es teh manis, saya membuka aplikasi Instagram lewat ponsel. Menyembul di lini masa sebuah gambar yang diunggah akun @berdikaribook. Ia memuat kutipan dari antropolog Albert Snijder:

“Manusia harus merealisasikan dirinya dengan bebas memilih. Ikatan itu bukanlah sesuatu yang datang dari luar diriku. Melainkan dari kenyataan diriku sendiri.”

Yang spesial dari unggahan tersebut, kutipan Snijder dibalut dalam grafik yang apik. Cara serupa itu pun banyak ditemukan di Instagram untuk membingkai kutipan dari tokoh ternama atau dari buku yang masyhur.

Saya penasaran. Saya yakin ada kutipan yang lebih puitis ketimbang ucapan tokoh-tokoh ternama yang agitatif dan datar itu.

Lalu, saya ketik "#puisi" di kolom pencarian Instagram. Muncul beragam akun Indonesia yang secara khusus mengunggah puisi. Di antaranya @penasenja_, @puisilangit, @puisi.romanpicisan, dan @kongsipuisi.

“Di tengah cerita kita/ kutaruh koma penanda jeda/ lalu kau rampas pena/ dengan sigap menaruh titik setelahnya,” unggah akun @puisilangit. Kata-kata itu diwarnai putih dibalut latar gunung salju.

Baca juga: Sastra untuk "Dunia yang Penuh Tipu Cedera"

Syair Bertebaran di Instagram

“Satu hal yang aku syukuri melebihi apapun/ Kita tidak perlu izin untuk merindukan seseorang,” tulis akun @penasenja_.

Orang-orang yang kerap menulis kata-kata puitis di Instagram — kini muncul istilah instapoet — bermunculan seiring berkembangnya media sosial. Di Amerika Serikat, Lang Leav adalah penyair yang memuat puisi-puisinya melalui akun Instagram @langleav. Akun itu memiliki followers sebanyak 406 ribu dan sudah punya 938 unggahan.

Mulanya, Leav mengelola Tumblr dengan jumlah pengikut sekitar 50.000. Love & Misadventure yang disusunnya menjadi buku terlaris di Amazon, sedangkan Lullabies, antologinya yang lain, menempati urutan ke-4.

"Saya selalu tahu saya akan melakukan sesuatu dengan buku," kata Leav, "namun memiliki tiga buku terlaris di ranah internasional telah melampaui impian terliar saya.”

Baca juga:
Selain Leav, salah satu penyair Instagram paling populer dari Kanada adalah Rupi Kaur. Per 20 Desember 2017, ada 526 unggahan dalam akun Instagram @rupikaur_. Akun itu telah diikuti 1,9 juta pengikut.

Perempuan keturunan India ini tinggal di Toronto, Kanada. Buku kumpulan puisi Milk & Honey yang disusunnya adalah buku terlaris Amazon saat pertama kali diluncurkan pada 2014. Dalam keterangan biografi Instagram, dia menyebut dirinya sebagai penyair "pengalaman kekerasan, penganiayaan, cinta, kehilangan, dan feminitas".

"Tidak ada pasar untuk puisi yang mengangkat tema pelecehan, trauma dari kehilangan cinta, dan penyembuhannya yang dipandang melalui lensa perempuan imigran punjabi-sikh. Jadi, saya memutuskan untuk mempublikasikannya sendiri. Meskipun semua orang mengatakan bahwa hal itu akan menjauhkan saya dari lingkaran sastra bergengsi," ujar Kaur kepada The Guardian.

Instagram, Mengandalkan Kekuatan Gambar

Saat hujan mengguyur Jalan Kemang Timur Raya, Anggika Kurnia sedang berada di Yogyakarta. Umurnya 22 tahun dan saat ini berkerja untuk sebuah NGO pemberdayaan perempuan.

Dia mengikuti akun @kongsipuisi di Instagram. “Aku follow karena ingin tahu seperti mana sih puisi-puisi di era digital gini. Kalau mau kontribusi, secara estetika (gambar), unggahan kamu harus memukau. Soalnya ini, kan, Instagram, yang diunggah foto, bukan puisinya,” ujar Anggika.

Sebelum Instagram, mengunggah puisi di media sosial sebenarnya sudah jamak dilakukan via Twitter, Facebook, atau Tumblr. Namun, aplikasi itu memiliki keterbatasan. Twitter, misalnya, membatasi setiap unggahan hanya 140 karakter (sekarang dimutakhirkan jadi 280 karakter).

Sementara itu, Instagram memiliki kelebihan karena berfokus pada gambar. Tambahan ilustrasi dan foto, warna latar gambar, permainan font memberikan nafas tersendiri bagi puisi-puisi yang diunggah.

“Aku sudah mengikuti beberapa akun sejak Tumblr jamak digunakan mengunggah puisi-puisi. Ala galau kaya R.M. Drake. Tetapi bukan Lang Leav, itu mainstream. Selama aku follow @kongsipuisi, sepertinya aku jarang like, kecuali puisinya bagus dan tidak picisan ala anak milenial sekarang,” ungkap Anggika.

Hasil penelitian We Are Social menyebutkan dari 7,395 miliar populasi dunia, ada 2,307 miliar orang aktif menggunakan jejaring sosial. Di Asia Tenggara, terdapat 234 juta pengguna jejaring sosial. Itu mencakup 30 persen dari keseluruhan penduduk Asia Tenggara yang aktif di internet.

Kepada Tirto, penyair kelahiran Sulawesi Selatan, Aan Mansyur, menceritakan pengalamannya berkecimpung di dunia sastra sebelum dan sesudah media sosial jamak digunakan.

Baca juga:
Menurut penulis Tidak Ada New York Hari Ini tersebut, di era media sosial sastra terasa menjadi jauh lebih ramai dan menjadi sesuatu yang bisa dirayakan siapapun. Hal itu berbeda, menurutnya, kala dia mengenyam pendidikan SMA. Saat itu, sastra menjadi sesuatu yang eksklusif karena hanya segelintir orang yang tahu.

“Misalnya, orang-orang membagikan puisi saya (lewat media sosial), itu adalah bentuk perayaan bagi karya saya. Saya tidak tahu persis apakah mereka baca bukunya atau tidak, tetapi bahwa kemudian mereka merasa tulisan saya bisa mewakili perasaan mereka itu sesuatu yang menyenangkan,” ujar Aan.

Di sisi lain, Aan mengaku tidak menjadikan Instagram sebagai medium untuk mengunggah puisi-puisinya. Namun, dia membuat media sosial tersebut sebagai perpustakaan visual yang dijadikan wahana merekam hal-hal menarik yang ditemuinya saat melakukan perjalanan.

“Itu sebagai rekaman sesaat untuk dokumentasi. Itu pada saat saya menulis puisi, gambar-gambar itu muncul. Instagram sebagai tempat saya menulis puisi sih tidak, tetapi kalau puisi itu sebagai caption gambar yang saya rasa cocok sih iya beberapa kali. Saya sadar banyak orang ikut follow saya karena penasaran dengan caption foto saya,” ujar Aan.

Tere Liye dan Sastra Di Era Media Sosial

Meski media sosial dianggap mampu meramaikan dunia sastra, ada juga penulis yang merasa jengkel jika hasil karyanya dikutip oleh para pengguna media sosial. Hal itu diungkapkan novelis Tere Liye dalam akun Facebook-nya.

“Woi, lu yang mau pamer foto selfie, kagak usah lu pakai2 caption pinjam quote page Tere Liye ini. Asyik betul foto selfie, wajah sudah kayak lemari menuhi seluruh layar, monyong2, sok cantik, sok ganteng, lantas caption di bawahnya: ‘Inilah hidupku, dstnya, dstnya - Tere Liye’,” tulisnya pada 20 November 2017.

Baca juga:

Bagi Aan, pernyataan penulis Rembulan Tenggelam di Wajahmu itu berlebihan dan terlalu posesif dengan karyanya.

“Toh, bagi saya, saya bisa berkarya karena membaca dan dengan kata lain meminjam karya orang lain. Kalau ada orang mengutipnya dengan bagus dan benar, dengan mencantumkan nama penulisnya, bagi saya itu bentuk mudah orang membicarakan karya kita,” ujar Aan.



Dalam dunia sastra, Aan tidak menampik adanya saling memengaruhi antara satu penyair dengan penyair lain. Membaca karya orang lain hampir tidak bisa dihindari oleh para penulis puisi.

“Saya percaya menulis itu seni berpikir dan bahasa itu cerminan apa yang kita pikirkan. Meniru itu untuk memahami penyair tertentu memahami sesuatu. Cara setiap penyair menggunakan bahasa itu unik, sangat personal. Ia bisa dipengaruhi oleh budaya di mana dia tumbuh.”

Aan mencontohkan perbedaan antara dirinya dengan Sapardi Joko Darmono. Aan lahir dan tumbuh dalam budaya Bugis, sedangkan Sapardi dalam budaya Jawa. Perbedaan itu membuat Aan sulit memahami kata-kata tertentu yang digunakan Sapardi dalam berpuisi.

“Misalnya, dalam bahasa Indonesia ada kata mendengar. Kalau dalam bahasa Bugis, itu tidak pas, karena mendengar itu konsep mengenai aktivitas. Sedangkan di Bugis bahasanya lebih menekankan ke aspek material. Kata mendengar tidak pas menggambarkan apa yang ada di pikiran saya. Ketimbang menggunakan kata mendengar, saya bakal mengungkapkannya ‘suaranya menyentuh telingaku’. Sapardi mungkin akan berbeda lagi,” ujar Aan

Baca juga artikel terkait INSTAGRAM atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Husein Abdulsalam
Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight