Para Penjaga Selera Fesyen Putri-Putri Kerajaan Inggris

Oleh: Joan Aurelia - 8 Mei 2019
Dibaca Normal 2 menit
Di mata Elizabeth, para pendamping keturunannya harus memiliki penampilan elegan agar layak dianggap bangsawan.
tirto.id - Beberapa waktu lalu sempat beredar rumor yang menyatakan pengarah gaya pribadi Kate Middleton, Natasha Archer, berniat undur diri dari jabatannya. Archer telah bertindak sebagai asisten pribadi Middleton sejak 2007. Setelah Middleton jadi anggota keluarga kerajaan Inggris, Archer beralih jabatan jadi konsultan fesyen.

Setiap hari, Archer bertugas mencari busana yang pantas dikenakan Middleton dalam berbagai acara, mulai dari perhelatan kerajaan, kunjungan kenegaraan, hingga acara- acara informal. Sejauh ini ia nampak melaksanakan tugas sebaik mungkin. Penampilan Middleton nyaris tak bercela. Media dan publik terus memuja gaya busananya.

Kemudian muncul penggemar garis keras yang benar-benar meniru setiap gaya Middleton. Ada pula istilah Kate Effect yang merujuk tren busana dan aksesori seperti yang dikenakan Middleton. Tentu saja beberapa pengusaha retail diuntungkan oleh tren ini.

Sepertinya Archer berhasil melatih dan menajamkan selera fesyen Middleton. Sang pengarah gaya mengatakan Middleton bukan perempuan yang mempedulikan gaya busana. Sebelum jadi tunangan William, penampilan Middleton khas perempuan dewasa muda kelas menengah yang biasa ditemui di segala penjuru Inggris.

Ia bukan perempuan fashionable. Bahkan pada beberapa kesempatan, penampilannya sempat terkesan ‘tidak nyambung’ dan kurang nyaman dilihat. Contohnya saat ia mengenakan terusan satin bermotif paisley yang polanya menyerupai wajik.


Adalah Ratu Elizabeth yang mengusulkan agar Middleton merekrut pengarah gaya agar kelak sang menantu benar-benar pantas terlihat sebagai istri pangeran. Elizabeth pula yang akhirnya memastikan Archer tetap bertahan bekerja sebagai pengarah gaya Middleton dengan menganugerahinya penghargaan Royal Victorian Order—penghargaan bagi sosok yang dinilai punya kontribusi khusus bagi anggota keluarga kerajaan Inggris— pada 3 Mei lalu.

Selain Archer, sosok yang sempat menerima penghargaan serupa ialah Angela Kelly, konsultan fesyen Elizabeth. Sampai saat ini bisa dibilang penampilan Elizabeth masih jadi sorotan karena ia tetap konsisten memadu padankan busana dan aksesori berwarna cerah. Coat dress, hairpiece, dan terusan bermotif yang dikenakan di dalam coat jadi ciri khas gaya Elizabeth di usia senja.

Lewat busana tersebut, Elizabeth hendak menegaskan posisinya sebagai ratu yang benar-benar menerapkan kaidah gaya busana perempuan kerajaan: memakai stoking, rok menutupi lutut, baju menutupi seluruh lengan dan tangan, sarung tangan—semua dalam warna terang dan menunjukkan kesan klasik elegan.

Elizabeth ingin perempuan-perempuan di sekitarnya—terutama menantu dan cucu menantu—bisa mematuhi aturan penampilan. Ternyata harapan Elizabeth sulit terwujud.


Mantan menantunya, Diana Spencer, adalah perempuan pemalu yang tak suka bergaya. Pada awal 1980-an, Elizabeth berpesan kepada Spencer untuk merekrut konsultan fesyen. Saat itu Elizabeth tidak merekomendasikan nama. Walhasil Diana meminta bantuan pada saudara-saudaranya agar diperkenalkan dengan pengarah gaya. Bertemulah ia dengan Anna Harvey, editor fesyen yang jadi konsultan gaya Diana sejak 1981-1997.

Harvey adalah orang yang membuat Diana dikenang sebagai ikon fesyen. Ia memperkenalkan Diana pada ragam blazer, gaun pesta off shoulder, suits, dress suits, sampai revenge dressgaun hitam ketat mini berkerah sabrina yang ia pakai dalam acara malam dana pada 1992.

“Busana yang ia kenakan mewakili berbagai pesan. Saya melihat Diana sering mengenakan busana berwarna karena ia ingin terkesan ramah dan bersahabat. Ketika mengunjungi rumah sakit khusus tunanetra, Dian sengaja mengenakan busana beludru agar menimbulkan kesan hangat. Dia suka bereksperimen dengan celana panjang, jaket tuksedo, dan dasi kupu-kupu. Sesuatu yang tidak terpikir untuk dikenakan seorang putri kerajaan,” kata Eleri Lynn, kurator ekshibisi Diana: Her Fashion Story.


Di antara putri-putri dari garis keturunan keluarga Elizabeth, hanya Meghan Markle yang sampai hari ini tidak menggunakan jasa konsultan fesyen. Gayanya kerap dikritik karena dianggap tidak sesuai kaidah gaya busana ala Ratu Inggris. Tapi Markle tetap percaya diri dan berupaya menyesuaikan penampilannya.

Majalah Elle menganggap Markle mencoba bergaya seperti Diana dengan busana suit, boyfriend shirt, dan tartan coat.


Infografik Pengarah Gaya Keluarga Buckingham
undefined


Para penggemar di Amerika Serikat memuji perubahan penampilan Markle. Di samping itu, ia terbukti membuat beberapa bisnis retail mengalami peningkatan keuntungan setelah publik melihat produk lansiran mereka dikenakan Markle.

Hal-hal positif itu tumbuh di tengah tuduhan-tuduhan bahwa Markle kurang mendukung fesyen lokal karena jarang mengenakan karya-karya desainer Inggris. Ia mencoba menepis kritik tersebut, misalnya dengan menghadiri acara British Fashion Awards dan menyampaikan penghargaan kepada Claire Wright Keller, direktur kreatif label fesyen Alexander McQueen yang merancang gaun pengantin Markle.

Meski demikian kolumnis Washington Post Yomi Adegoke menyebut bahwa pandangan sinis terhadap Markle akan bertahan.

“Dia juga dikritik karena dianggap terlalu baik, terlalu Hollywood. Komunitas kulit hitam di Inggris paham bahwa anggapan itu sekadar bahasa lain untuk ‘terlalu kulit hitam’. Sebenarnya Markle adalah cerminan Inggris saat ini,” kata Adegoke dalam opininya di Washington Post.

Tapi Elizabeth nampaknya tak peduli dengan sinisme terhadap sang cucu menantu. Setidaknya ia tak pernah kelihatan menyarankan Markle agar berpenampilan seperti bangsawan Inggris.

Baca juga artikel terkait TREN FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Joan Aurelia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight