Para Model Fesyen yang Turut Menjadi Aktivis

Oleh: Joan Aurelia - 12 April 2018
Dibaca Normal 2 menit
Lini masa akun Instagram model fesyen juga jadi panggung kampanye aksi kepedulian sosial.
tirto.id - Hanne Gaby Odiele adalah model fesyen kesayangan desainer Amerika Serikat Alexander Wang yang juga tampil dalam iklan serta peragaan label mode ternama seperti Chanel, Givenchy, Prada, Balenciaga, dan Mulberry. Tahun lalu Odiele membuka rahasianya: Ia adalah seorang interseks. (Baca laporan khusus Tirto tentang seluk beluk Interseks)

Berita tentang pengakuan Odiele serta kisah hidupnya tersebar di sejumlah media massa. Model berusia 28 tahun ini merasa punya tanggung jawab untuk membagi cerita pada masyarakat tentang situasi yang pernah ia alami. Masa kanak-kanak Odiele diisi dengan jadwal konsultasi dokter. Sepanjang hidup, ia telah menjalani dua kali operasi kelamin. Orangtua Odiele menyetujui rencana operasi yang disarankan dokter lantaran takut anaknya terserang kanker bila tidak menjalani operasi.

Odiele menurut. Ia tidak tahu apa yang terjadi atas dirinya. Yang ia ingat ialah ekspresi heran para dokter saat melihat bentuk kelaminnya. Beranjak dewasa, Odiele merasakan perubahan emosi dan fisik. Kepada Vogue ia bercerita seolah telah mengalami menopause di usia muda.

Perempuan Belgia ini ingin agar para orangtua menjelaskan apa itu interseks pada anak-anak mereka. Sebagai orang yang pernah didorong untuk operasi oleh orangtuanya, Odiele ingin para orangtua sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah operasi perlu dilakukan. Tak hanya itu, ia ingin memotivasi sesama interseks agar tak merasa terkucil.

Untuk melaksanakan misinya itu, ia bergabung dengan komunitas interseks, InterACT, sejak dua tahun lalu. Salah satu tugasnya adalah mengadvokasi para interseks. Agenda lain yakni bicara di sejumlah forum yang diadakan oleh komunitas interseks di luar kota.



“Saya menyewa jasa sebuah perusahaan hubungan masyarakat untuk mengajarkan cara bicara yang benar. Saya tidak ingin tampak terlalu emosional ketika bercerita tentang pengalaman ini. Ada pengalaman traumatik yang tidak perlu diketahui publik. Saya melihat adanya perubahan baik dari komunitas interseks dan saya pikir saya bisa menggunakan platform yang saya punya untuk berbuat sesuatu bagi mereka,” tutur Odiele pada The Cut.

Di ranah mode, Odiele bukan satu-satunya model milenial yang juga berperan sebagai aktivis. Ia punya banyak sejawat, salah satunya Ebonee Davis. Ada latar belakang kenapa Davis turut berkecimpung di dunia aktivisme. Suatu hari, ia dapat risakan hanya karena warna kulitnya. Kemarahan itu yang mendorong Davis menulis surat terbuka yang ditujukan pada pelaku industri mode.

Dalam surat terbuka yang ditampilkan dalam Harper’s Bazaar, Davis menulis “Saran saya untuk model, desainer mode, dan agen hubungan masyarakat: gunakan panggung Anda untuk menyuarakan ketidakadilan dan tunjukkan dukungan Anda ketimbang diam. Yang paling penting, cintai orang kulit hitam sebesar cinta Anda pada black music dan budaya kulit hitam.”

Davis juga sempat bicara dalam forum Ted dan berkata bahwa dirinya kerap disalahkan karena memiliki bentuk rambut yang keriting dan bentuk hidung yang besar. Davis kecewa saat seorang pengarah gaya berkata padanya bahwa ia tidak tahu hal apa yang harus dilakukan untuk mendandani Davis.

"Kita harus mulai memanusiakan lagi orang-orang yang dijadikan tak manusiawi secara sistematis ," ujar Davis.

Infografik Model Aktivis



Kisah aktivisme juga datang dari Adwoa Aboah, model dengan gaya khas kepala plontos tanpa alis yang menerima penghargaan Model of The Year 2017 dari British Fashion Council. Aboah menggagas Gurls Talk, sebuah inisiatif bagi kaum muda, khususnya wanita, untuk bisa berdiskusi dan menyampaikan pemikiran tentang kesehatan mental, bentuk tubuh, seks, sampai spiritualisme.

Pada Maret lalu Aboah mengadakan acara pertemuan Gurls Talk di Brooklyn. Ia mengundang sejumlah praktisi untuk bicara tentang topik-topik yang banyak jadi perhatian komunitas Gurls Talk. Aboah memang punya perhatian lebih terhadap isu kesehatan mental. Ia pernah mengalami depresi dan berupaya agar orang lain bisa memahami dan merespons dengan tepat berbagai pandangan tentang depresi.

Saat ini Aboah tengah merencanakan pertemuan Gurls Talk berikutnya yang akan dibuat di Ghana, kampung halaman ayah Aboah. “Ketika saya membuat komunitas ini, saya tahu bahwa saya akan bersentuhan dengan tradisi saya."

Sebelum Aboah, ada model yang juga tergerak untuk melakukan sesuatu bagi daerah asalnya. Sosok itu adalah Liya Kebede, wanita asal Addis Ababa, Ethiopia yang jadi model pada tahun 1990-an. Kebede pernah ditunjuk sebagai WHO Goodwill Ambassador. Tugasnya saat itu ialah memberi edukasi dan menolong para calon ibu agar bisa melahirkan anak dengan selamat.



Pada 2005 Kebede mendirikan LK Foundation, organisasi yang bertujuan memfasilitasi akses kesehatan dan meningkatkan peluang ekonomi bagi wanita Afrika. Kini LK Foundation sudah ganti nama menjadi Lemlem. Kebede pun menjadikan nama tersebut sebagai nama lini busana yang ia bangun. Lini busana Lemlem juga merupakan panggung bagi perajin wanita Afrika untuk memasarkan produk buatannya.

Aktivisme yang dilakukan para model mengingatkan pada aktivisme yang dilakukan oleh para selebritas papan atas. Pertanyaan yang bisa muncul dari sana: apakah kegiatan aktivisme mereka dilakukan untuk pencitraan saja? The Guardian memuat perkataan penulis Alex de Waal tentang prinsip dasar aktivisme yakni merespons, berkolaborasi dengan warga lokal, dan memastikan gerakan bersifat dari bawah ke atas. Jika gerakan aktivisme para model ini sudah memiliki prinsip dasar, pula berkesinambungan seperti yang dilakukan oleh Kedebe, maka itu jelas bukan pencitraan belaka.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Joan Aurelia
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Joan Aurelia
Penulis: Joan Aurelia
Editor: Nuran Wibisono
Dari Sejawat
Infografik Instagram