Para Diktator Pecandu Film

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 4 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Kim Jong-Il suka serial Rambo. Stalin menggemari Tarzan. Saddam mengagumi The Godfather, sementara Hitler kepincut Mickey Mouse.
tirto.id - Sineas asal Korea Selatan, Shin Sang-Ok, punya pengalaman menakjubkan: diculik Kim Jong-Il untuk bikin film-film propaganda Korea Utara. Bertahun-tahun ia dipaksa tunduk di bawah kendali rezim paling bertangan besi di dunia. Pahit memang, tapi berkatnya Sang-Ok juga belajar satu hal menarik: sang penerus kediktatoran Kim Il-Sung rupanya seorang pecinta sinema.

“Kim Jong-il saat itu seperti serupa dengan anak muda pada umumnya. Ia menyenangi film laga, film seks, juga film horor. Dia suka semua perempuan yang disukai sebagian besar laki-laki. Dia suka James Bond,” kata Sang-Ok dalam wawancara bersama BBC News tahun 2003 silam.

Dalam wawancara lain Shan-Ok menyebut legenda horor Hollywood Friday the 13th (1980) dan serial Rambo yang dibintangi aktor garang Sylvester Stalone sebagai film favorit Jong-Il. Jong-Il senang menonton sinema penuh laga, terutama dari rumah produksi Hong Kong. Untuk komedi, Jong-Il senang menonton film-film jebolan rumah produksi Ealing Studios sebab mengandung semangat kebersamaan dan menunjukkan mobilisasi proletariat.


Aktor yang ia kagumi ialah Sean Connery, sementara aktris paling menawan di matanya adalah Elizabeth Taylor. Saat mantan Menteri Luar Negeri AS Madeline Albright berkunjung ke Pyongyang pada tahun 2000, terungkap bahwa film terbaru yang ditonton Jong-Il adalah Amistad (1997) yang disutradari Steven Spielberg. Menurut Jong-Il, kisah Amistad sangat menyedihkan.

Jong-Il dilaporkan mengoleksi 20.000 video dan DVD. Merentang dari film bikinan musuh-musuh ideologi Korut, yakni Amerika Serikat dan Jepang. Kecintaannya pada sinema pernah ia tulis dalam esai bertajuk “Sinema dan Penyutradaraan” tahun 1987. Di dalamnya termuat sebuah kalimat:

“Sinema menempati posisi penting dalam perkembangan seni dan sastra secara keseluruhan. Karena itu, (sinema) ini adalah senjata ideologis yang kuat untuk revolusi dan pembangunan.”


Pada tahun 1960-an, mesin propaganda ayahnya menghasilkan film legendaris yang berangkat dari pementasan opera, Sea of Blood dan The Flower Girl. Sea of Blood adalah dramatisasi atas kemenangan atas Jepang pada 1930. Penayangannya luas di dalam negeri. Sebagaimana Titanic punya lagu “My Heart Will Go On”, Sea of Blood mengusung lagu sukses “My Heart Will Remain Faithfull”.

Jong-Il dalam bukunya On the Art of Cinema (1973) menerangkan bahwa film seharusnya mengandung mahakarya musik seperti dalam Sea of Blood. Pondasi utama untuk film Korut yang bagus, menurut Jong-Il, kembali ke kuatnya ideologi politik sutradara hingga aktornya.

Di periode yang sama, Sang-Ok dan rumah produksinya, Shin Film, masih menelurkan film-film laris. Sang-Ok punya ketertarikan mengangkat penderitaan perempuan. Contohnya The Evergreen Tree (1961) di mana istrinya, aktris kenamaan Choi Eun-hee, berperan sebagai perempuan berpikiran reformis. Tokoh ini mesti berjuang melawan provinsialisme dengan mengajar baca-tulis kepada anak-anak pedesaan.


“Meski tak secara langsung mengekspresikan kesadaran kelas, dedikasi dan keyakinan kepada rakyat barangkali membuat film tersebut dipuji dan dijadikan panduan untuk berakting di Korea Utara,” kata kritikus film Kwak Hyun-Ja kepada Guardian dalam laporan tahun 2003 silam.

Lebih dari mengagumi, masih mengutip Guardian, timbul keinginan dari Jong-Il untuk membawa (baca: menculik) Sang-Ok dan Eun-Hee ke Korea Utara. Alasan lain Jong-Il adalah sebab ia mendengar bahwa pemerintahan Seoul kian represif dan militeristik sehingga mengganggu bisnis film Sang-Ok.

Ironisnya, saat Sang-Ok dan Eun-Hee berhasil diboyong paksa ke Korut pada tahun 1978, keduanya mengalami kondisi hidup yang lebih tersiksa sebab rezim Kim Il-Sung jauh bertindak lebih represif dan militeristik. Sang-Ok dan Eun-Hee berkali-kali berencana kabur, tetapi terhalang oleh situasi yang belum longgar. Jika tertangkap risikonya terlampau besar, yakni siksaan dan eksekusi.


Di satu sisi, Sang-Ok didorong membikin film-film propaganda untuk negara yang berseberang ideologi dengan tanah kelahirannya. Pernah mencoba kabur, Sang-Ok tertangkap, lalu dipenjara dan disiksa dengan amat keras. Kondisi yang dikisahkan Sang-Ok sangat menyedihkan, seakan ia harus merasakan batas-batas kemampuan manusia dalam menahan penderitaan.

Di sisi lain, selama di Korut Sang-Ok berada di masa kerja paling produktifnya. Ia bahkan mengklaim bahwa pada tahun 1984 film terbaiknya Runaway diproduksi. Sang-Ok juga turut membidani lahirnya film legendaris Pulgasari pada tahun 1985. Pulgasari bercerita tentang Godzilla sosialis yang membantu rakyat sebuah desa melawan represi yang dilakukan oleh kerajaan.

Film tersebut dianggap sebagai karya yang luar biasa oleh Jong-Il. Ia berupaya mendistribusikannya ke luar negeri dengan mengutus dan mempercayakan tugas tersebut kepada Sang-Ok dan istri. Pada tahun 1986, dalam perjalanan menuju Austria untuk bertemu distributor film, keduanya berhasil kabur.

infografik sinema kesayangan diktator


Apresiasi di Luar Propaganda

Adolf Hitler punya sineas favorit. Namanya Leni Riefenstahl. Pada tahun 1930-an ia memproduksi film propaganda Nazi terbaik (juga sering disebut sebagai film propaganda terbaik), Triumph of the Will dan Olympia jilid 1 dan 2, demikian menurut catatan Irish Times.

Hitler sangat mengagumi keduanya, sebab kualitas yang dikandung tergolong efektif untuk mempromosikan serta menguatkan pengaruh politiknya ke seantero Jerman. Namun, pada dasarnya Hitler juga seorang pengapresiasi seni yang baik. Ia pernah masuk sekolah seni dan punya hobi melukis (dengan karya yang tergolong bagus, meski ketinggalan zaman).

Ia mengagumi karya Walt Disney, demikian dalam catatan Hollywood Reporter dan Yahoo Movies UK. Pada 2008 seorang kepala museum di Norwegia mengklaim bahwa Hitler pernah menggambar sejumlah tokoh kartun Disney di tahun 1937, demikian lapor Telegraph. Ia menemukan gambar karakter-karakter di animasi Putri Salju dan Tujuh Krucaci dan Pinokio dengan tanda tangan “A. Hitler”.


Namun, di antara banyak tokoh kartun asal Amerika, Hitler dikabarkan paling suka dengan Mickey Mouse. Ia suka menonton serial animasi yang menampilkan karakter tikus yang menjadi ikon Walt Disney paling populer tersebut, maupun filmnya yang berjudul Magician Mickey (1937).

Simon Sebag Montefiore pernah menulis dalam bukunya yang berjudul Stalin: The Court of the Red Tsar (2005) bahwa sang diktator Uni Soviet amat mencintai sinema. Stalin menyepakati filosofi pendahulunya, Vladimir Lenin, bahwa "dari semua jenis seni, untuk kami sinema adalah bentuk kesenian paling penting”.


Ulasan versi singkat yang Simon buat untuk Telegraph pada 2004 lalu mendeskripsikan sikap apresiatif Stalin kepada semua karya film dalam negeri. Tetapi di luar kepentingan propaganda, ia juga menikmati film sebagai tontonan bersama kamerad-kameradnya saat malam menjelang, acara makan-makan selesai digelar, dan minum-minum dimulai kemudian.

Ia menggemari film-film yang menampilkan dua aktor kenamaan asal AS, Spencer Tracy dan Clark Gable. Ia antusias dengan film-film Charlie Chaplin, antara lain Old Chicago (1937) dan It Happended One Night (1934). Dalam data film yang pernah diminta untuk ditonton bersama oleh Stalin, Simon juga menemukan Tarzan the Ape Man (1932).


Diktator-diktator lain punya kecenderungan sama.

Benitto Mussolini dilaporkan suka dengan film drama romantis Ecstacy (1933) karya Gustav Machaty. Film ini menampilkan aktris favorit sang pemimpin fasis Italia selama Perang Dunia II, Hedy Lamarr. Ia juga fans diam-diam aktris Holywood, Anita Page, yang kariernya bersinar terang di penghujung era film bisu, demikian laporan Guardian.

Diktator dari Irak, Saddam Hussein, menyukai film-film yang mengandung cerita tentang intrik, pembunuhan, dan konspirasi. Tiga di antaranya, sebagaimana dicatat Atlantic, yakni The Day of the Jackal (1973), The Conversation (1974), dan Enemy of the State (1998).

Selain itu Saddam juga menggemari film yang berangkat dari karya literatur. Dua di antaranya adalah The Godfather (1972) dan The Old Man and the Sea (1958).

Dari daftar diktator pecandu film itu, belum ada lagi yang tercatat menculik sutradara selain Kim Jong-Il.

Baca juga artikel terkait PROPAGANDA atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Film)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf