Para Ahli Sebut COVID-19 Banyak Menyebar via Udara Bukan Permukaan

Oleh: Dhita Koesno - 25 September 2020
Dibaca Normal 1 menit
Infeksi COVID-19 lebih banyak menyebar lewat udara, bukan permukaan, menurut para ahli.
tirto.id - Pada awal pandemi, para ahli menyatakan bahwa COVID-19 lebih banyak menyebar melalui permukaan benda.

Dengan kata lain, menyentuh sesuatu yang memiliki tetesan virus pernapasan, dilanjutkan dengan menyentuh wajah dapat menularkan virus.

Karenanya, orang dituntut untuk menjalankan kebiasaan baru, yakni selalu hidup bersih dan menyediakan disinfektan.

Namun, saat ini orang juga lebih semakin mengenal virus COVID-19 dari waktu ke waktu, penelitian jugaa menunjukkan sedikit bukti bahwa virus itu menyebar ke seluruh permukaan, melainkan melalui transmisi pernapasan, demikian seperti diwartakan Medical Daily.

Para ilmuwan di Montefiore Medical Center di New York City, Hospital of the University of Pennsylvania di Philadelphia, dan Massachusetts General Hospital, Harvard Medical School dan Brigham and Women's Hospital di Boston, semuanya melihat artikel ilmiah yang diterbitkan sejak dimulainya pandemi pada Januari 2020.

Mereka juga memeriksa laporan pemerintah untuk melihat bagaimana virus itu menyebar.

Hasilnya, para peneliti hanya menemukan beberapa studi eksperimental yang menunjukkan virus hidup di permukaan selama berjam-jam.

Sebaliknya, penelitian dunia nyata menegaskan bahwa transmisi pernapasan adalah metode penularan utama. Artinya bersin, batuk, atau dihirup oleh seseorang yang mengidap virus.

Bahkan ketika para peneliti mengira virus menyebar dari kontak permukaan, mereka tidak dapat mengesampingkan penularan pernapasan.

“Sejauh yang saya tahu, belum ada kasus infeksi COVID yang terdokumentasi hanya dari menyentuh permukaan, meskipun saya pikir akan sulit juga untuk mendokumentasikan kasus seperti itu,” ujar Leann Poston, MD, penjabat asisten dekan dan direktur penerimaan di Boonshoft School of Medicine Wright State University di Ohio.

“Virus dapat disebarkan melalui fomites atau objek, tetapi jauh lebih sulit. Seseorang perlu batuk atau bersin pada benda tersebut, dan kemudian orang lain perlu menyentuh permukaan yang terinfeksi dan kemudian menyentuh mata dan hidungnya. Bukan skenario yang mungkin terjadi, terutama sekarang, dengan tindakan pencegahan yang paling diambil untuk membendung penyebaran,” lanjut Dr. Poston.

Para peneliti juga menemukan bahwa kedekatan dan ventilasi adalah kunci risiko penularan. Virus COVID-19 mencapai puncaknya sekitar satu hari sebelum timbulnya gejala dan menurun dalam seminggu setelah timbulnya gejala.

Jadi, apakah semua pembersihan dan desinfektan perlu?

“Menurut pendapat saya, jawaban singkatnya adalah ya,” kata Pooneh Ramezani, DDS, salah satu pendiri Dr. Brite, merek dari banyak produk pembersih.

“Secara khusus, sejak awal cara penularan tidak diketahui, orang-orang terinfeksi, dan orang-orang yang rentan meninggal.”

Para peneliti bahwa saat ini penularan utama virus adalah melalui tetesan pernapasan, dan kecil kemungkinan seseorang tertular COVID-19 dari menyentuh permukaan benda.

“Anda tidak perlu terlalu ekstrim menyeka setiap produk makanan kemasan dari toko begitu sampai di rumah atau mencuci pakaian dengan air panas, kecuali Anda adalah penanggap pertama, dokter atau perawat, dengan kontak langsung dengan pasien COVID-19,” tambah Dr. Ramezani.

Sebaliknya, katanya, lakukan pembersihan yang diperlukan untuk menjaga orang yang Anda cintai tetap aman.

Jika Anda memiliki balita yang masih merangkak, misalnya, atau anak-anak yang menyentuh setiap permukaan, jadikan rumah zona bebas sepatu dengan melepas sepatu di area yang ditentukan atau menyimpannya di luar.

Anda juga dapat mengelap permukaan yang sering disentuh seperti gagang pintu dan meja dapur, seperti yang dilakukan sebelum pandemi.

Yang terpenting, lindungi diri Anda dan orang yang dicintai dengan menjaga jarak sosial setidaknya enam kaki di depan umum dan mengenakan masker saat Anda tidak bisa menjauhkan diri.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Dhita Koesno
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dhita Koesno
Editor: Agung DH
DarkLight