Pangkas Rambut Ko Tang di Glodok, Tak Sekadar Urusan Cukur

Oleh: Alfian Putra Abdi - 27 Desember 2019
Dibaca Normal 5 menit
Ko Tang, pangkas rambut legendaris di kawasan Glodok, bertahan dari sejumlah tragedi politik dan banjir besar Jakarta.
tirto.id - Cita-cita Apauw meraih pendidikan setinggi-tingginya pupus pada pengujung 1965. Ketika itu usianya 15 tahun dan bersekolah di salah satu sekolah khusus Tionghoa di Jakarta.

Peristiwa Gerakan 30 September terjadi dalam rentang 1965-1966 menjadi ihwal musabab Apauw putus sekolah.

“Zamannya Gestok yang bikin saya berhenti sekolah. Kan tutup semua sekolah-sekolah," ujar Apauw.

Gestok, alias Gerakan 1 Oktober 1965, adalah peristiwa penculikan beberapa jenderal di kalangan Angkatan Darat, imbas dari perselisihan internal militer yang kemudian menjadi jalan Soeharto menuju kursi presiden dan membangun pemerintahan Orde Baru selama tiga dekade. Peristiwa itu dipakai oleh militer membunuh sedikitnya 500 ribu sampai 1 juta jiwa orang-orang yang dituduh atau dianggap anggota dan simpatisan komunis.

Saat itu, pemerintah Orde Baru memang melarang sekolah-sekolah Tionghoa beroperasi. Salah satu sekolah yang ditutup adalah Tiong Hoa Hwee Koan, kini bekas gedungnya dialihkan menjadi SMAN 19 Jakarta.

Apauw sempat kebingungan. Di satu sisi, ia belum memahami fenomena politik yang terjadi kala itu. Hingga kemudian ia diminta orangtuanya untuk belajar memangkas rambut.

Titah orangtua tak bisa ditolak. Apauw menjajal peruntungan pangkas rambut 'Ko Tang' milik keluarga Tionghoa bernama Po Kien Tian, yang berdiri sejak 1936 di Gang Gloria, Glodok, Jakarta Barat. Ayah Apauw bekerja di sana.

Meski ayahnya sudah lama bekerja untuk Ko Tang, ia tidak sekonyong-konyong membuat Apauw bisa langsung bekerja. Terlebih lagi keahliannya dalam urusan cukur-mencukur rambut masih hijau. Apauw memulai kariernya dengan memperhatikan para pekerja di sana.

"Saya bersih-bersih dulu. Bersihkan lantai, cuci handuk. Sambil mengamati gimana sih cara pangkas rambut," kata Apauw.

Apauw tidak berguru kepada sang Ayah. Ia menimba ilmu dari Te Tjiang Wan, pemangkas rambut Ko Tang lain.

Menurut Apauw, Te Tjiang Wan adalah pemangkas Ko Tang paling tersohor pada zamannya. Pelanggannya banyak, sehingga Apauw mentahbiskan diri sebagai muridnya.

Sembari bersih-bersih Ko Tang, Apauw rutin menimba ilmu dari Tjiang Wan. Siang hari buat mempelajari teori; mengamati cara pegang gunting hingga bentuk kepala manusia; malam hari untuk praktik memangkas rambut.

Untuk praktik, Apauw belum diizinkan menangani pelanggan Ko Tang. Ia berkeliling kawasan Pecinan Glodok untuk mencari sukarelawan; yang kebanyakan adalah preman-preman sekitar.

"Preman-preman itu tidak bayar. Saya yang bayar dia untuk praktik. Diapain dan salah juga terima saja. Saya bayar Rp500 per kepala," ujar Apauw, terkekeh.

Laku belajar itu ia jalani dengan ketekunan dan kesabaran petapa, selama kurang lebih dua tahun. Hingga pada Desember 1969, Apauw didapuk sebagai pemangkas rambut Ko Tang.

Keahliannya bertambah: Ia dituntut untuk belajar ilmu korek kuping dan cukur muka; salah dua layanan khas Ko Tang.

Pada 2019, usia Apauw sudah 68 tahun dan sudah memiliki cicit. Ia sudah mendedikasikan diri bekerja untuk Ko Tang selama 50 tahun dan termasuk pemangkas rambut paling senior di antara dua pemangkas lain.

Tak pernah terlintas dalam benak Apauw untuk membuka atau berpindah tempat pangkas rambut. Ia kadung kerasan dengan suasana Ko Tang yang kekeluargaan, selain memang Ko Tang adalah titik balik kebangkitan dirinya usai putus sekolah.


'Seperti Berguru Silat'

Jika Apauw harus memulai kariernya dari bawah sebagai tukang bersih-bersih, Pi Cis, kini 60 tahun, harus tinggal jauh dari keluarganya di Jakarta untuk merantau ke Jember, meski ayah dan kakak iparnya sudah lebih dulu jadi tukang pangkas rambut di Ko Tang.

Pi Cis besar dalam lingkungan keluarga Betawi-Tionghoa yang pandai mencukur rambut. Ayahnya hanya membekali ilmu pangkas rambut dasar. Untuk meningkatkan kemampuan, Pi Cis diminta sang ayah berangkat ke Rama Barbershop di Jember pada 1978.

"Saya tidak dikasih ke Ko Tang. Harus cari pengalaman dulu," ujarnya.

Menurut Pi Cis, Rama Barbershop dikelola oleh keluarga Tionghoa, yang saat itu cukup terkenal dan jadi rujukan para pemangkas pemula untuk mendalami keahlian. Di sana, ia mengembangkan keahlian pangkas rambut dan ilmu korek kuping, yang jadi ciri khas pangkas rambut Tionghoa.

Ketika di Rama Barbershop, Pi Cis berguru dengan pamannya selama empat tahun. Setelah itu, pamannya memberikan pilihan: mau ke Malang, Surabaya, atau Semarang untuk menambah pengalamannya.

Pi Cis memilih ke Semarang sampai 1983, lalu menggantikan ayahnya di Ko Tang.

"Belajar cukur rambut kayak perguruan silat. Kami berguru," ujarnya.

Ko Tang memang mengutamakan prinsip-prinsip kekeluargaan, baik dalam bekerja maupun merekrut pekerja. Maka, tak heran jika Apauw dan Pi Cis bisa bekerja di sana berkat koneksi dari orang terdekat, sekalipun tidak bisa gampang masuk begitu saja.

Namun, Ko Tang hari ini, pada generasi ketiganya, justru berbeda. Pangkas rambut legendaris ini menghadapi persoalan regenerasi. Apauw dan Pi Cis mengaku tidak ada satu pun anak-anaknya mengikuti jejak mereka.

Anak-anak mereka lebih memilih bekerja sebagai karyawan kantoran.

“Tidak seperti dulu. Anak harus menjadi seperti orangtuanya. Sekarang saya membebaskan anak-anak mau menjadi apa saja," ujar Pi Cis.

Bahkan pegawai Ko Tang saat ini didominasi oleh mereka yang berusia di atas 50 tahun. Tiga pemangkas rambutnya adalah Apauw, Pi Cis, dan A Ciu, kini 78 tahun; sementara dua pencuci rambutnya adalah Encik Tuti, 60 tahun, dan Acin, 59 tahun. Ada juga seorang kasir bernama Encik Yeye, 50 tahun.

Pangkas Rambut Ko Tang
Pangkas Rambut Ko Tang didirikan oleh keluarga etnis Tionghoa sejak 1936. (tirto.id/Alfian Putra Abdi)

Bertahan dari Tragedi dan Banjir

Berdiri dan tumbuh sejak 1936 bukan tanpa persoalan. Terlebih Ko Tang didirikan oleh keluarga Tionghoa, yang turut menjadi korban dalam beberapa tragedi sejarah Indonesia. Salah duanya Peristiwa 30 September dan kerusuhan Mei 1998.

Ketika 1965, menurut Apauw, Ko Tang tidak terimbas dan hanya tutup sementara. Ia memang tidak mengalami langsung kejadian itu. Kisah soal suasana politik saat itu dituturkan oleh ayahnya.

Pengalamannya bersentuhan dengan peristiwa politik dan peralihan kekuasaan terjadi pada Mei 1998. Glodok termasuk titik panas kerusuhan menjelang hari-hari tumbangnya Soeharto. Toko-toko dijarah dan dibakar. Namun, Ko Tang tidak.

"Kami cuma tutup pintu dan sempat mengumpat di dalam," ujar Apauw.


Pi Cis menjadi saksi ketika toko-toko di wilayah Glodok jadi sasaran amuk. Ketika itu Ko Tang masih buka meski tidak ada pelanggan yang datang. Baru ketika situasi bertambah kacau, Ko Tang ditutup selama seminggu.

"Semua pegawai pulang. Beberapa hari kemudian, pas sudah aman, baru buka lagi," ujar Pi Cis.

Namun, yang membekas sekaligus merugikan Ko Tang, seingat Pi Cis, manakala DKI Jakarta mengalami bencana banjir besar pada 2007. Lokasi Glodok tak terkecuali Ko Tang turut terdampak.

Lantai Ko Tang sejajar dengan jalan setapak Gang Gloria kala itu. Ketika banjir, Ko Tang terendam setinggi pinggang orang dewasa.

"Alat-alat rusak. Hancur-hancur perkakas," kenangnya.

Kejadian itu membuat Ko Tang merenovasi bangunan. Lantai dan langit-langit ruangan ditinggikan; warna ruangan dipulas warna merah dominan.


Pangkas Rambut Ko Tang
Pangkas Rambut Ko Tang. (tirto.id/Alfian Putra Abdi)


Popularitas Didongkrak Pejabat

Encik Yeye sudah 20 tahun bekerja sebagai kasir di Ko Tang, yang awalnya bekerja berkat rekomendasi kakaknya Encik Acin.

Encik Yeye berkata popularitas Ko Tang biasa-biasa saja saat masa awal dia bekerja. Ia baru populer saat Joko Widodo, saat itu masih jadi Wali Kota Solo, mampir dari kedai Kopi Es Tak Kie, yang lokasinya bersebelahan dengan Ko Tang.

"Kata Pak Jokowi, tempat ini bawa hoki. Tapi, menurut saya mah biasa saja," ujarnya.

Setelah itu, kata Encik Yeye, para pejabat publik mendatangi pangkas rambut Ko Tang.

Beberapa pejabat diabadikan dalam foto yang dipajang di tembok, sebagaimana umumnya warung-warung lain, menandakan sebagai diorama. Ada Abraham Lunggana alias Haji Lulung; ada wakil gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat; ada kandidat wakil presiden Sandiaga Uno.

"Semenjak ada kunjungan pejabat dan wawancara media, banyak anak muda ke sini. Sebelumnya, seringnya orang tua, encek-encek," ujarnya.

Ahmad Syafie, 45 tahun, memboyong anak perempuan dan istrinya dari Mayestik, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ke Ko Tang lantaran rasa penasaran. Ia tertarik ke sini setelah membaca berita Sandiaga Uno pernah ke Ko Tang.

"Enggak tahunya, saya baca di internet, Jokowi juga pernah ke sini. Saya mau coba korek kupingnya," ujar Syafie usai dilayani oleh Apauw.

Koh Hendrik, 54 tahun, tinggal di kawasan Glodok, berkata sudah jadi pelanggan Ko Tang sejak masih muda, dipengaruhi mendiang ayah dan kakaknya yang biasa mengajaknya ke Ko Tang.

Ia kerasan memangkas rambut di Ko Tang meski harganya lumayan mahal ketimbang pangkas rambut sejenis lantaran hanya di sini ada pelayanan korek kuping.

"Mungkin juga karena saya sudah terbiasa. Anak dan menantu saya juga mulai ikut-ikutan," ujarnya usai dilayani Pi Cis.


Meski popularitas bertambah, kata Encik Yeye, tidak terlalu memengaruhi omset.

Dalam sehari, Ko Tang dikunjungi paling sedikit 7 orang dan paling banyak 10 orang; bahkan pernah dalam satu hari Ko Tang sepi pengunjung. Adakalanya kebanjiran pengunjung, biasanya menjelang perayaan Imlek.

Kendati situasinya begitu, Iwan, pewaris generasi ketiga Ko Tang, tidak pernah mempersoalkannya; tidak juga menetapkan target pendapatan kepada pegawainya, ujar Encik Yeye.

Pada hari ketika saya datang, Ko Tang hanya mendapatkan 8 konsumen dan dianggap wajar oleh Encik Yeye.

"Pendapatan di sini tidak tentu. Sehari bisa mengantongi Rp500 ribu sampai Rp600 ribu. Sebulan Rp7 juta hingga Rp8 juta. Itu sudah dipotong macam-macam oleh si bos [Iwan]," ujarnya.

Sejak berdiri, Ko Tang hanya melayani cukur rambut, cukur muka, korek kuping.

Saat ini biaya cukur rambut dipatok Rp60 ribu, cukur muka Rp40 ribu, dan korek kuping Rp40 ribu. Encik Yeye menyarankan sebaiknya saya ambil paket komplet, tarifnya hanya Rp100 ribu.

"Kunci kami bisa bertahan, saya rasa hanya ramah saja kepada tamu. Kalau kami judes, tamu juga pasti malas kembali lagi. Anggap saja mereka keluarga meski orang lain," kata Encik Yeye.

Baca juga artikel terkait PANGKAS RAMBUT atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight