PandemicTalks Ingatkan Bahaya Super Spreader dalam Perayaan Maulid

Oleh: Mohammad Bernie - 13 November 2020
Acara keagamaan rentan jadi super spreader events karena melibatkan massa yang berkerumun dalam jumlah besar.
tirto.id - Sejumlah acara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW banyak digelar, terutama pasca kepulangan Imam Besar FPI Rizieq Shihab ke Indonesia. Salah satu founder PandemicTalks, Firdza Radiani mengingatkan bahaya super spreader yang mengintai dalam acara keagamaan.

"Acara keagamaan ini rawan terjadinya super spreader events, yaitu saat 1 orang positif bisa menulari minimal 12 orang lainnya," kata Firdza kepada Tirto pada Jumat (13/11/2020).

Menurutnya, acara keagamaan rentan jadi klaster penularan karena melibatkan massa yang berkerumun dalam jumlah besar. Selain itu, kondisi ventilasi dan durasi yang kurang baik membuka potensi penularan COVID-19 melalui udara, terlebih acara keagamaan diisi dengan nyanyian, khutbah, teriakan, dan obrolan.

"Yang krusial lagi adalah, apakah ada pendataan orang yang melalukan acara keagamaan ini? Tujuannya untuk contact tracing," kata Firdza.

Firdza mengingatkan soal kejadian di Korea Selatan pada Mei 2020, setidaknya terdapat 5.200 orang terpapar COVID-19 dalam sebuah acara keagamaan di gereja. Di DKI Jakarta saja per 3 September tercatat 131 warga DKI Jakarta terpapar covid-19 dari klaster kegiatan agama.

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta juga terdapat 15 klaster penularan COVID-19 di kegiatan keagamaan. Paling banyak terjadi di Masjid Taman Sari dengan 80 kasus COVID-19 dan Gereja Tanjung Priok dengan 30 kasus. Di samping itu, terdapat sejumlah klaster tahlilan, salah satunya tahlilan RT.01 dan RT.02 Wijaya Kusuma yang menyebabkan 29 kasus COVID-19.

Karenanya, ia berharap, jika pemerintah memberikan izin pada kegiatan keagamaan maka harus dibarengi dengan pendataan dan testing massal. Selain itu pemerintah juga harus mengawasi protokol kesehatan tetap dilaksanakan.



Baca juga artikel terkait KLASTER CORONA atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight