29 Mei 2017

Panama, Noriega, dan Negara Tanpa Tentara

Penulis: Petrik Matanasi, Husein Abdulsalam - 29 Mei 2022 00:05 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Noriega memerintah Panama dengan tangan besi, dan menggunakan kekuasaan untuk keuntungan pribadi.
tirto.id - Pada 1981 Jenderal Torrijos yang memimpin Panama sejak 1968 meninggal dalam kecelakaan pesawat. Peristiwa ini membawa banyak kelokan-kelokan sejarah dalam negara transkontinental ini.

Negara dengan sekitar empat juta jiwa ini memang punya keterlibatan besar dalam berbagai peristiwa penting, terutama bagi kancah pelayaran. Dalam bukunya Historical Dictionary of Panama, Thomas M. Leonard menulis bahwa Vasco da Gama, pada pagi 25 September 1513, membayangkan bisa menuju Samudra Pasifik dari Atlantik tanpa harus berputar ke selatan terlebih dahulu.

Caranya? Dengan menyeberangi daratan Panama.

Pada 1524, ide itu sampai ke telinga Raja Charles V dari Spanyol yang menerima proposal untuk membangun terusan di Panama yang bisa menghubungkan Samudra Atlantik dan Pasifik. Namun, selama ratusan tahun, ide itu tak mewujud. Panama yang menjadi koloni Spanyol akhirnya ikut masuk dalam Republik Kolombia yang merdeka dari Spanyol pada 1821.


Kesuksesan Terusan Suez yang dibangun oleh tangan pengembang bernama Ferdinand de Lesseps membuat ide membangun Terusan Panama bangkit lagi.

Sebuah plot kemudian disusun dengan restu Theodore Roosevelt. Amerika Serikat akan mendukung pemberontakan dr. Manuel Amador yang hendak memisahkan Panama dari Kolombia. Sebelumnya, pada 17 Oktober 1903, orang-orang Panama anti-pemerintah Kolombia berkunjung ke Washington. Lalu bersepakatlah mereka: AS mendukung mereka memberontak pada 3 November sore pukul enam.

Esoknya, pada 18 Oktober 1903, deklarasi kemerdekaan, bendera Panama, bahkan konstitusinya, telah siap. Tepat pukul enam sore 3 November, garnisun militer Kolombia yang sudah disuap meletakkan senjatanya. Kapal AS, USS Nashville berlayar ke Pelabuhan Celon untuk mendukung kemerdekaan Panama. Tiga hari kemudian, tepat pukul satu siang 6 November 1903, dinyatakan: “Negara pecahan ini langsung mendapat pengakuan oleh Presiden Theodore Roosevelt.”

Tanpa menunggu lama, esoknya 7 November, Pemerintah AS segera memerintahkan duta besarnya di Panama untuk membahas perjanjian Pakta Terusan Panama. Sebelas hari kemudian, pakta itu ditandatangani kedua belah pihak. Panama menyewakan lahan selebar 16 kilometer (daerah Kanal Panama) kepada AS dengan imbalan USD10 juta dan biaya tahunan USD250 ribu. Kolombia juga kemudian memperoleh USD25 juta sebagai bagian kompensasi.

“Sebuah upacara kecil diadakan di Panama City pada 4 Mei 1904 sebagai simbol pengalihan dari Perusahaan Terusan milik Prancis kepada AS. Letnan Dua Mark Brooke dari Korps Teknik (Militer AS) menerima kunci gudang perusahaan dan Rumah sakit di Panama tengah,” tulis Jon T. Hoffman dalam buku The Panama Canal: An Army's Enterprise: An Army's Enterprise (2014).


Selama puluhan tahun, Panama menjadi semacam negara satelit yang penting bagi AS. Penguasanya pun biasanya adalah sosok kesayangan AS. Ada kepentingan AS akan terusan Panama yang juga menghubungkan antara pesisir timur Amerika Serikat dengan Hawaii dan Filipina. Tentu, AS juga punya pangkalan militer di sana.

Infografik Mozaik Manuel Antonio Noriega
Infografik Mozaik Manuel Antonio Noriega. tirto.id/Tino


Noriega dan Negara Tanpa Tentara

Dua tahun sejak Jenderal Torrijos meninggal dunia, Manuel Antonio Noriega Moreno yang menjabat sebagai Kepala Garda Nasional mengembangkan sayap kuasa militernya ke seluruh sendi kehidupan sosial dan politik Panama. Sejak itu dia secara de facto menjadi penguasa Panama.

Noriega bukan orang asing bagi AS. Ketika menjadi Letnan Dua, pada 1966 Noriega mengikuti semacam kursus bagi orang-orang yang diproyeksikan akan menempati jabatan penting di militer. Kursusnya berlangsung di School of the Americas yang terletak di Fort Gulick, Terusan Panama. Tak hanya itu, Noriega juga turut mengambil kursus psikologi di North Carolina.

Meski hasil kursusnya buruk, toh karier Noriega tetap melenggang mulus. Apalagi, menurut Presiden AS kala itu Lydon B. Johnson, Noriega dianggap sebagai aset penting bagi AS, terutama dalam perang melawan komunisme. Bahkan sejak 1955, Central Intelligence of Agency (CIA) memasukkan Noriega dalam daftar pengeluaran rutin.

Memilih untuk jadi penguasa di belakang layar, kekuasaan Noriega benar-benar mencengkram Panama. Dia, misalkan, membungkam suara pers dengan cara membeli saham atau membredel. Sudah sejak lama pula dia terlibat dalam sindikat perdagangan narkoba. Ini menjadi salah satu awal kejatuhannya. AS merasa kelakuan Noriega makin tak bisa diabaikan. Apalagi AS curiga Noriega juga menjadi mata-mata bagi lembaga intelijen lain.

Maka AS pun kembali bermain. Mereka memberikan restu pada Pemilu 1989. Hasilnya bisa diduga. Guillermo Endara, pemimpin partai oposisi, terpilih sebagai presiden pada Mei 1989. Tetapi Noriega menyatakan hasil pemilihan umum tersebut tidak sah dan mengangkat kandidatnya, Francisco Rodríguez, sebagai presiden.

Endara tidak terima. Dia memimpin demonstrasi menentang Noriega. AS membekingi Endara dengan menginvasi Panama pada Desember 1989. Di bulan yang sama AS mengalahkan rezim Noriega dan parlemen Panama pun melantik Endara sebagai presiden. Dua bulan kemudian Endara membubarkan angkatan bersenjata dan menggantikan mereka dengan sebuah otoritas kepolisian sipil.


Kini, Panama menjadi salah satu negara tanpa militer --atau tentara. Memang, Panama tak benar-benar nihil militer, sebab ada Panamian Public Forces yang bertindak sebagai pasukan penjaga keamanan. Peter Stearns, seorang profesor dari George Mason yang menyunting buku Demilitarization in the Contemporary World, menyatakan tidak ada ukuran demiliterisasi yang sempurna. Hampir semua negara yang dalam daftar The World Factbook tidak memiliki tentara memiliki beberapa bentuk layanan keamanan sesuai ancaman yang ada.

Lalu bagaimana dengan nasib Noriega? Setelah sempat jadi buronan AS dan hilang selama sepuluh hari, Noriega akhirnya menyerahkan diri dan dibawa ke AS untuk diadili. Di negara Paman Sam, Noriega dikenakan dengan sepuluh dakwaan, termasuk tindak pencucian uang, penyuapan, dan perdagangan narkotika.

Pada 1992, Noriega divonis hukuman 40 tahun penjara, tapi dibebaskan pada 2007. Namun ia kemudian diekstradisi ke Panama 2011, dan diberi hukuman penjara selama 60 tahun. Setelah divonis tumor otak, operasi yang dilakukan gagal dan menyebabkan pendarahan.

Pada 29 Mei 2017, hari ini lima tahun silam, Noriega meninggal di usia 83 tahun. Presiden Panama Juan Carlos Varela, mengumumkan kematian Noriega.

"Kematian Manuel A. Noriega menutup babak dalam sejarah kita," tulisnya. []

Baca juga artikel terkait PANAMA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi & Husein Abdulsalam
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi & Husein Abdulsalam
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight