Menuju konten utama
Sejarah Indonesia

Pakubuwana III: Raja Jawa Pengabdi Belanda

Pakubuwana III adalah raja Jawa pertama yang dilantik VOC. Wilayah kekuasaan Mataram terpecah-belah selama masa pemerintahannya dan ia menjadi raja boneka yang selalu tunduk pada Belanda.

Pakubuwana III: Raja Jawa Pengabdi Belanda
Pakubuwana III, raja Mataram pertama yang dilantik Belanda. tirto.id/Gerry-Fiz

tirto.id - Pakubuwana II terbaring lemah. Pendiri Kasunanan Surakarta pasca-runtuhnya istana Kartasura pada 1743 ini memang tengah sakit parah, fisik maupun psikisnya. Surakarta kala itu sedang menghadapi aksi perlawanan dari Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.

Sang raja merasa sudah saatnya mewariskan takhta kepada anaknya, Raden Mas Soerjadi. Maka, putra mahkota yang baru berusia 17 itu pun dinobatkan dengan gelar Pakubuwana III pada 15 Desember 1749. Lima hari berselang, Pakubuwana II wafat.

Pakubuwana III resmi menjadi raja. Sejarah mencatat, ia adalah raja Jawa pertama yang dilantik oleh pejabat VOC. Bahkan di sepanjang masa kepemimpinannya, Pakubuwana III senantiasa tunduk kepada Belanda demi langgengnya kekuasaan.

Dikutip dari buku Upacara Tradisional Jumenengan (1989) karya Moertjipto & ‎Tirun Marwito, VOC memaksa Pakubuwana II menyerahkan takhtanya pada hari-hari terakhir sebelum sang raja meninggal dunia (hlm. 12). Jadi, Pakubuwana III mewarisi kerajaan yang sebenarnya bukan lagi miliknya sendiri.

Dan memang, meskipun marak terjadi upaya perlawanan dari sejumlah kerabat yang ingin menjungkalkannya dari singgasana, takhta Pakubuwana III tetap aman berkat perlindungan Belanda, hingga sang raja meninggal pada 26 September 1788, tepat hari ini 230 tahun lalu.

Bertakhta di Tanah Panas

Menjelang purna kekuasaan sekaligus akhir hidupnya, Pakubuwana II tidak punya pilihan lain. Selain kondisinya yang kian melemah, kerajaan memang membutuhkan sokongan dari VOC.

Maka, ketika hari pergantian raja tiba, para petinggi Belanda ada di istana, termasuk Baron von Hohendorff, Gubernur VOC untuk wilayah pesisir Jawa. Orang inilah yang melantik Raden Mas Soerjadi sebagai Pakubuwana III karena wilayah Surakarta saat itu sudah menjadi milik VOC sesuai kesepakatan sebelumnya dengan Pakubuwana II.

Di umur yang masih terbilang remaja, Pakubuwana III belum matang menjadi seorang pemimpin. Fasilitas dan dukungan dari Belanda membuat sang raja merasa lebih aman serta terlindungi dari segala macam ancaman.

Kala itu, Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) bergabung untuk menghadapi Kasunanan Surakarta yang didukung VOC. Keduanya masih satu garis keturunan dengan Pakubuwana III dari trah Mataram, dan merasa berhak mendapat jatah kekuasaan.

Nyaris berbarengan dengan naik takhtanya Pakubuwana III di Surakarta pada akhir 1749 itu, Pangeran Mangkubumi di Yogyakarta juga menobatkan dirinya dengan gelar yang sama, disokong penuh oleh Raden Mas Said yang diangkat sebagai mahapatih. Dengan demikian, sempat ada dua Pakubuwana III pada waktu itu.

Pakubuwana III di Surakarta selaku raja yang diakui Belanda berada dalam posisi sulit. Ia terikat perjanjian yang diteken ayahnya sehingga ia berada di dalam kendali VOC.

Sosok Pakubuwana III sendiri memang kurang cakap. M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 menyebut, sang raja sangat takut melukai perasaan orang-orang VOC dan mudah sekali terpengaruh (hlm. 227).

VOC yang tidak menginginkan Mangkubumi terus mengklaim sebagai Pakubuwana III kemudian menerapkan taktik adu domba. Mangkubumi dirayu untuk melepaskan gelar itu dan dijanjikan akan diberikan setengah wilayah Kasunanan Surakarta. Mangkubumi tergiur, lantas setuju.

Dalam Takhta untuk Rakyat (1982) suntingan Atmakusumah disebutkan, VOC benar-benar mengendalikan ritme kekuasaan di Jawa kala itu. Belanda adalah penyebab pertikaian antar-anggota keluarga Mataram, namun mereka pula yang mengusulkan untuk “menghentikan perang saudara” dengan mengikat sebuah perjanjian (hlm. 126).

Maka, disepakatilah Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Buku Kraton Yogyakarta dalam Balutan Hindu (2001) karya Eko Punto Hendro menyebutkan, wilayah Mataram dibagi dua, yakni untuk Pakubuwana III di Surakarta dan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bertakhta di Yogyakarta dengan gelar Hamengkubuwana I (hlm. 2).

Masa Suram Mataram

Merapatnya Mangkubumi ke pihak VOC dan Pakubuwana III membuat Said kecewa. Ia pun pisah kongsi dengan Mangkubumi untuk tetap melancarkan perlawanan terhadap Surakarta dan VOC.

Di sinilah Belanda bermain lagi. Setelah berhasil menundukkan Pakubuwana dan Mangkubumi, kini yang dibidik adalah Said. VOC membujuk Said berdamai dengan iming-iming akan diberikan jatah wilayah untuknya.

Maka, tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Warisan Kerajaan-kerajaan Konsentris (1996), diadakanlah Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757 (hlm. 46). Pakubuwana III bersedia berbagi Surakarta dengan Said. Lahirlah Kadipaten Mangkunegaran yang dipimpin Said dengan gelar Mangkunegara I.

Penyatuan Jawa yang pernah diupayakan pada masa kepemimpinan Sultan Agung (‎1613‎-‎1645) akhirnya musnah di era pemerintahan Pakubuwana III. Telatah Mataram terpecah-pecah, terbelah menjadi tiga kerajaan: Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Kadipaten Mangkunegara. Nantinya, pada 1813, muncul satu kerajaan lagi, yaitu Kadipaten Pakualaman di Yogyakarta.

Pakubuwana III kini agak sedikit tenang karena dua tokoh berpengaruh yang sempat mengancam sudah dapat ditaklukkan berkat bantuan Belanda. Namun, masih ada beberapa hal yang harus segera dirampungkan, yakni menuntaskan riak-riak perlawanan kecil yang masih terjadi di kawasan timur kekuasaan Mataram.

Aksi pemberontakan yang masih mengusik kekuasaan Pakubuwana III itu digerakkan oleh pamannya, Pangeran Singosari, di Jawa bagian timur. Sebelumnya, Singosari sempat bergabung dengan Mangkubumi dan Said sebelum keduanya dirangkul Belanda.

Singosari mendapat dukungan dari keturunan serta sisa-sisa pengikut Untung Surapati yang pernah melawan kekuasaan Mataram dan akhirnya tewas dalam perang kontra VOC pada 1706.

Pakubuwana III sempat menawarkan perdamaian kepada Singosari, namun tawaran itu ditolak mentah-mentah. Maka, bergabunglah pasukan Surakarta dan Belanda untuk memburu Singosari beserta para pengikutnya di Jawa Timur.

Infografik Susuhunan PAKUBUWANA III

Akhir Balada Raja Boneka

Operasi militer mulai dilakukan pada 1757. Pasukan gabungan Pakubuwana III dan VOC bergerak menuju ke timur. Mula-mula, seperti tertulis dalam buku Sejarah Daerah Jawa Timur (1978) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, pasukan ini melancarkan aksi pembersihan dari Pasuruan hingga Lumajang (hlm. 109).

Singosari yang bersemayam di Malang terpaksa menghindar dan melawan secara gerilya. Cukup lama pasukan gabungan Pakubuwana III dan Belanda menghadapi aksi ini karena Singosari yang dibantu mantan pengikut Untung Surapati sering berpindah-pindah tempat.

Di suatu pertempuran pada 1767, Singosari terluka berat, ditawan, dan akhirnya mengembuskan napas penghabisan. Perlawanan yang merepotkan itu dapat dipadamkan. Malang dan sekitarnya pun dikuasai kembali oleh Pakubuwana III.

Namun, setelah itu, Belanda mengambilalih kendali pemerintahan atas Malang dan beberapa wilayah di Jawa bagian timur lainnya dari Pakubuwana III. Raja Surakarta ini dianggap tidak mampu menjamin keamanan dan ketertiban di kawasan tersebut. Pakubuwana III hanya pasrah dan mematuhi kehendak mereka.

Barangkali Pakubuwana III tidak masalah terus-menerus menjadi boneka Belanda karena sikap seperti itu juga menguntungkan baginya. Kendati harga diri terus tergerus dan tidak bisa memerintah seutuhnya layaknya seorang raja serta wilayah kekuasaan yang kian berkurang, setidaknya Pakubuwana III dapat menikmati hidup dengan aman dan nyaman.

Pakubuwana III berkehidupan mewah di dalam istana bersama istri-istrinya yang berjumlah 14 orang serta 46 orang anak mereka. Salah satu putri Pakubuwana III dinikahkan dengan putra sulung Mangkunegara I.

Kehidupan Pakubuwana III yang penuh kesenangan tapi tidak diimbangi dengan kecakapan dalam memimpin, ditambah kepatuhannya kepada VOC, kemudian memantik persoalan di dalam kerajaan. Mulai timbul intrik politik dari pihak-pihak yang tidak suka terhadap Pakubuwana III.

Kondisi ini membuat sang raja resah, namun ia bingung harus berbuat apa. Pakubuwana III terjepit di antara tekanan Belanda dan polemik orang-orang di sekitarnya yang ternyata sangat rumit untuk diuraikan.

Hingga pada suatu waktu, Pakubuwana III jatuh sakit dan akhirnya meninggal tanggal 26 September 1788 di usia 56. Sepanjang berkuasa selama hampir 40 warsa, Pakubuwana III tidak pernah benar-benar menjadi seorang pemimpin yang dihormati karena pilihan politiknya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Humaniora
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan