Menuju konten utama

Pakai Masker Kain 2 Lapis Efektif Cegah Penularan COVID-19

Pakai masker kain 2 lapis juga efektif cegah penularan dan infeksi virus Corona.

Pakai Masker Kain 2 Lapis Efektif Cegah Penularan COVID-19
Ilustrasi Masker Kain. foto/istockphoto

tirto.id - Masker menjadi aksesori yang wajib dipakai sebagai cara untuk mencegah penularan COVID-19 yang efektif.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) merekomendasikan agar orang-orang memakai masker di tempat umum dan ketika berada di sekitar orang yang tidak tinggal di rumah Anda.

Saat ini,virus Corona juga dapat disebarkan oleh orang yang tidak memiliki gejala (OTG) dan tidak tahu bahwa mereka terinfeksi. Karena alasan itulah, mengapa saat ini semua orang penting menggunakan masker saat berada di area publik.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masker non-medis (masker kain, masker buatan sendiri, atau masker DIY) bisa digunakan untuk mencegah penyebaran virus dari pemakai ke orang lain.

Khususnya jika ada penularan COVID-19 yang meluas, dan jarak fisik sulit diterapkan, WHO meminta pemerintah mendorong masyarakat mengenakan masker kain.

Ada banyak jenis masker kain, mereka harus menutupi hidung, mulut, dagu dan diamankan ikatan elastis, termasuk beberapa lapisan, dapat dicuci dan digunakan kembali.

Namun, menggunakan masker kain saja tidak cukup untuk memberikan tingkat perlindungan yang memadai, pencegahan lainnya adalah melakukan jarak fisik minimal 1 meter dari yang lain, sering membersihkan tangan dan selalu menghindari menyentuh wajah dan masker.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Physics of Fluids oleh Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Florida Atlantic menunjukkan melalui visualisasi batuk dan bersin yang ditiru, sebuah metode untuk menilai efektivitas masker wajah dalam menghalangi tetesan.

Para peneliti melakukan eksperimen dengan berbagai masker, termasuk beragam bahan dan model masker.

Hasilnya, peneliti menemukan masker yang dijahit dengan baik dan terbuat dari kain dua lapis terbukti paling efektif menangkal penyebaran virus melalui tetesan dari batuk dan bersin (droplet).

Peneliti menggunakan visualisasi aliran dalam pengaturan laboratorium menggunakan lembar sinar laser, campuran air suling dan gliserin untuk menghasilkan kabut sintetis yang membentuk kandungan batuk-jet.

Kemudian memvisualisasikan tetesan yang dikeluarkan dari mulut manekin saat melakukan simulasi batuk dan bersin. Mereka menguji masker yang tersedia untuk masyarakat umum, yang tidak mengurangi pasokan masker dan respirator kelas medis untuk petugas kesehatan.

Para peneliti menguji penutup gaya bandana satu lapis, masker buatan sendiri yang dijahit menggunakan dua lapis kain katun quilting yang terdiri dari 70 benang per inci, dan masker gaya kerucut non-steril yang tersedia di sebagian besar apotek.

Dengan menempatkan berbagai masker ini pada manekin, mereka dapat memetakan jalur tetesan dan menunjukkan betapa berbedanya kinerjanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa masker wajah yang dilipat longgar dan penutup gaya bandana menghentikan tetesan pernapasan aerosol sampai tingkat tertentu.

Namun, masker dua lapis buatan sendiri yang dipasang dengan baik dengan beberapa lapis kain quilting, dan masker gaya kerucut yang siap pakai, terbukti paling efektif dalam mengurangi penyebaran tetesan.

Masker ini mampu membatasi kecepatan dan jangkauan jet pernapasan secara signifikan, meskipun dengan beberapa kebocoran melalui bahan masker dan dari celah kecil di sepanjang tepinya.

Yang penting, batuk tiruan yang tidak tertutup dapat melakukan perjalanan lebih jauh dari pedoman jarak 6 kaki yang direkomendasikan saat ini.

Tanpa masker, tetesan bisa terbang lebih dari 8 kaki; dengan bandana, virus menempuh jarak 3 kaki, 7 inci; sementara dengan saputangan kapas terlipat, mereka menempuh jarak 1 kaki, 3 inci.

Dan katun quilting yang dijahit, virus dapat menempuh jarak 2,5 inci; dan dengan masker berbentuk kerucut, tetesan bergerak sekitar 8 inci.

"Selain memberikan indikasi awal tentang efektivitas peralatan pelindung, visual yang digunakan dalam penelitian kami dapat membantu menyampaikan kepada masyarakat umum alasan di balik pedoman jarak sosial dan rekomendasi untuk menggunakan sungkup muka [masker]," kata Siddhartha Verma, Ph.D., penulis utama dan asisten profesor yang ikut menulis makalah tersebut.

"Mempromosikan kesadaran luas tentang langkah-langkah pencegahan yang efektif sangat penting saat ini karena kami mengamati lonjakan yang signifikan dalam kasus infeksi COVID-19 di banyak negara," lanjutnya.

Jangan lupa untuk selalu #ingatpesanibu dan melaksanakan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan pakai sabun).

____________________

Artikel ini diterbitkan atas kerja sama Tirto.id dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Baca juga artikel terkait KAMPANYE COVID-19 atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Agung DH
Penulis: Dhita Koesno