1 Februari 1884

Oxford English Dictionary: Ambisi Inggris Mengabadikan Bahasa

Oxford English Dictionary. tirto.id/DeadNauval
Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 1 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Usaha mendokumentasikan bahasa Inggris melalui Oxford English Dictionary menyimpan kisah yang mungkin tak pernah diduga orang.
tirto.id - Oxford English Dictionary (OED) adalah kamus bahasa Inggris yang tidak hanya paling otoritatif di dunia, tapi juga paling komprehensif sepanjang sejarah peradaban manusia. Penyusunannya menyimpan beribu kisah, termasuk melibatkan salah satu leksikografer ternama dunia dan seorang dokter gila sebagai salah satu kontributor utamanya.

The big dic(tionary)—begitu orang kerap menyebutnya—merupakan hasil usaha ambisius para kaum terpelajar di London yang tergabung dalam perkumpulan The Philological Society of London. Tujuannya satu: mengumpulkan kata-kata bahasa Inggris secara lengkap sejak masa peradaban Anglo Saxon.

Butuh waktu cukup lama sejak keinginan perkumpulan itu diungkap, yakni pada 1857, hingga proyek ambisius tersebut mulai berjalan pada 1 Maret 1879. Saat itu Philological Society mencapai kesepakatan dengan penerbit Oxford University Press (OUP) dan James A.H. Murray, seorang leksikografer Skotlandia, yang menjadi editor pertama kamus itu.

Nama terakhir, seiring dengan pembuatan kamus yang pada awalnya bernama New English Dictionary ini, kelak menjadi salah satu leksikografer paling berpengaruh di dunia.

Seperti ditulis dalam Caught in the Web of Words: James Murray and the Oxford English Dictionary (1995) karya K.M. Elisabeth Murray, cucu James Murray, pembuatan kamus ini dimulai ketika James masih menjadi pengajar di sekolah Mill Hill. Ia masuk ke sekolah tersebut pada 1870.

“Pengetahuan adalah kekuatan,” tulis James dalam sebuah publikasi berseri Popular Educator di tahun 1852. Agaknya, kata-kata tersebut telah menjadi pegangan hidupnya sehingga ia menyanggupi untuk mengerjakan proyek raksasa ini.


Berawal dari Mill Hill, Berlanjut ke Oxford

Untuk dapat mendedikasikan waktunya secara penuh pada proses pengeditan, James memerlukan sebuah tempat khusus di mana ia dapat mengumpulkan semua material pengerjaan kamus dengan aman.

Seperti ditulis Simon Winchester dalam The Surgeon of Crowthorne (1998), pengerjaan kamus ini menyandarkan diri pada pengumpulan ratusan ribu kutipan literatur bahasa Inggris yang dikirimkan sejumlah kontributor sukarela.

James akhirnya mendirikan sebuah bangunan dari besi agar tahan api di dekat Mill Hill. Ia menyebutnya sebagai “Scriptorium”.

Kamus ini direncanakan untuk diterbitkan dalam empat volume. Terdiri atas 6.400 halaman yang berisi kata-kata utama yang mulai digunakan dari tahun 1150 M dan sejumlah kata yang digunakan sebelum tahun itu namun masih tetap digunakan.

Tak lama kemudian, sejumlah masalah bermunculan. Masalah terbesar yang dihadapi James bersama timnya pada awal pengerjaan kamus ini, seperti ditulis Peter Gilliver dalam The Making of the Oxford English Dictionary (2016), adalah melesetnya ekspektasi beban kerja awal dengan kenyataan.

Beban kerja ini kemudian bukannya surut, namun makin meningkat ketika pengerjaan pengeditan dimulai. James tidak hanya semakin dikejar-kejar tenggat waktu, tapi juga keterbatasan uang dan tempat.

Ini kemudian masih ditambah dengan hilangnya sejumlah staf kunci pada tim pengerjaan yang dibentuk James akibat terlibat dalam sebuah skandal. Lima tahun setelah pengerjaan, Murray dan timnya baru mencapai kata “ant” (semut)—meleset jauh dari rencana awal.

Permasalahan juga muncul dari sisi kebijakan editorial, yang kemudian menimbulkan konflik dengan Philological Society dan para akademisi Oxford, yang utamanya diwakili Benjamin Jowett.

Dari sisi penerbitan, OUP juga mengalami kesulitan dalam pembiayaan yang terus meningkat. Setidaknya, hingga 1884, masa depan kamus ini masih tidak menentu. Pada tahun inilah James bersama timnya berhasil menyelesaikan bagian pertama kamus tersebut. Bagian pertama itu diterbitkan sebagai edisi mandiri pada 1 Februari 1884, tepat hari ini 135 tahun lalu, dengan judul A New English Dictionary on Historical Principles; Founded Mainly on the Materials Collected by The Philological Society.

Setelah melihat penerimaan yang cukup baik dari masyarakat dunia, OUP ingin mempercepat pengerjaan selanjutnya. Sempat muncul wacana merekrut editor independen kedua, tapi James meragukan keefektifannya. Situasi ini berujung pada pindahnya James ke Oxford dan pembangunan Scriptorium kedua yang didirikan di dekat rumahnya di Oxford.

Dalam kurun empat puluh tahun pengerjaan kamus ini, sejumlah editor baru turut bergabung. Murray kemudian dibantu Henry Bradley, W.A. Craigie, dan C.T. Onions dalam memimpin timnya.


Murray dan si Gila

Dari sekian banyak kontributor pengerjaan kamus tersebut, terdapat seorang bernama Dr. William Chester Minor, dokter lulusan Yale University, yang memiliki kontribusi luar biasa. Seperti dituliskan BBC, Minor mulai mengumpulkan kuotasi dan mengirimkannya kepada tim editorial James sejak 1880-an dan terus berlanjut hingga 20 tahun.

James mengatakan Minor merupakan salah satu kontributor teratas dalam penyusunan kamus tersebut. “[Kontribusinya] bisa dengan mudah menggambarkan empat abad terakhir [dunia kata-kata Inggris] hanya dari kutipannya sendiri,” sebut James.

Kendati demikian, keduanya tidak pernah bertemu dalam waktu yang cukup lama.

Ketika diselenggarakan acara makan malam di Oxford pada 12 Oktober 1897 bagi mereka yang terlibat dalam penyusunan kamus, ketidakhadiran Minor membuat orang bertanya-tanya. Sesungguhnya, bukan hanya Minor yang absen. Menurut keterangan Simon Winchester, seorang kontributor besar lain, Dr. Fitzedward Hall, juga absen pada malam itu. Namun, semua yang hadir paham bahwa Hall adalah pribadi penyendiri yang memiliki problem bersosialisasi.

Tak ada yang tahu dengan jelas mengapa Dr. Minor tidak dapat memenuhi undangan itu, begitu pula bagaimana sosoknya yang asli. Padahal, alamat tempat ia mengirimkan kontribusinya, yakni di Rumah Sakit Jiwa Broadmoor, Crowthorne, hanya berjarak satu jam perjalanan jika ditempuh dengan kereta.

Masih dari BBC, James pada awalnya mengira bahwa Minor merupakan seorang petugas medis yang bekerja di RS tersebut. Namun, kecurigaannya timbul ketika seorang tamunya yang berasal dari Amerika berterima kasih atas kebaikannya pada “Dr. Minor yang malang.”

Sejarah hidup Minor akhirnya terungkap dan membuat James tercengang. Usut punya usut, kegilaan Minor dipicu oleh keterlibatannya sebagai petugas medis bedah dalam perang yang disebut “the Battle of the Wilderness” pada 1864.

Pada 1891, James sempat mengunjungi Minor, jauh sebelum makan malam di Oxford terjadi. Namun, di sela-sela waktu itu, James selalu menjaga sikapnya agar tidak ada yang tahu bahwa Minor memiliki gangguan jiwa, termasuk pada Minor sendiri. Terlepas dari penyakitnya, Minor dan James menjalin hubungan persahabatan hingga ajal menjemput keduanya.


Terus Berlanjut

Pengerjaan kamus terus berlanjut hingga rampung pada April 1928. Dirilis dengan nama A New English Dictionary on Historical Principles, kamus tersebut menampung 400.000 kata dan frasa dalam 10 volume. Sayangnya, James tidak dapat menyaksikan kamus itu rampung. Ia wafat pada 26 Juli 1915 karena serangan jantung.

Pada 1933 sebuah volume pelengkap (Supplement) diterbitkan dan pada saat yang sama kamus ini dicetak ulang dalam 12 volume. Edisi inilah yang disebut dengan nama yang kita kenal sekarang, Oxford English Dictionary. Edisi kedua kamus ini dicetak pada 1989.

Edisi ketiga, hingga tulisan ini dimuat, masih dalam pengerjaan. Namun, seperti dilaporkan BBC, edisi ini mungkin tidak akan pernah dicetak mengingat era digital telah mengambilalih masa gemilang percetakan.

Tapi pada Juli 2010, juru bicara OUP mengatakan: “Belum ada keputusan mengenai format dari edisi ketiga.”

“Permintaan akan online meningkat tetapi sejumlah besar orang terus membeli kamus dalam bentuk cetak dan kami tidak memiliki rencana untuk berhenti menerbitkan kamus cetak,” sebutnya sembari menambahkan bahwa keputusan final akan ditentukan ketika pengerjaan kamus ini sudah rampung.

Satu hal, kendati kamus ini tidak pernah membawa untung bagi OUP, penerbit itu berkomitmen penuh pada pengembangan OED. Alasannya?

“Jauh lebih dari sekadar tempat yang nyaman untuk mencari kata-kata dan asal-usulnya, OED adalah bagian yang tak tergantikan dari budaya Inggris,” tulis OUP dalam laman resmi mereka.

"[OED] tidak hanya memberikan catatan penting tentang evolusi bahasa kita, tetapi juga mendokumentasikan perkembangan masyarakat kita yang berkelanjutan. Melanjutkan peran ini saat kita memasuki abad baru adalah sebuah kepastian."

Baca juga artikel terkait KAMUS atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight