Oskar Fischinger & Game Google Doodle Populer yang Hadir Hari Ini

Oleh: Yulaika Ramadhani - 29 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Game Google Doodle yang dihadirkan hari ini, Rabu (29/4/2020) adalah Fischinger.
tirto.id - Google mengajak masyarakat untuk tetap di rumah saja dengan menghadirkan serangkaian game atau permainan populer melalui doodlenya pada halaman utama pencarian sejak Senin (27/4/2020) hingga beberapa hari ke depan.

Game Google Doodle populer yang dihadirkan hari ini, Rabu (29/4/2020) adalah Fischinger. Game ini memungkinkan pengguna Google untuk menciptakan komposisi musiknya sendiri. Musik akan terdengar ketika pengguna mengetuk titik-titik pada layar pencarian, yang mana setiap titik menghasilkan bunyi yang beragam.

"Music is not limited to the world of sound. There exists a music of the visual world," Oskar Fischinger, 1951.

Demikian kutipan pembuka dalam game google doodle populer hari ini. Siapa Oskar Fischinger?

Oskar Fischinger adalah seorang animator musik abstrak, pelukis, sekaligus pembuat film. Ia lahir di Gelnhausen pada 22 Juni 1900 dan meninggal di Los Angeles di umur 66 tahun, tepatnya pada 31 Januari 1967.

Oskar Fischinger dikenal karena karyanya dalam membuat animasi abstrak jauh sebelum terdapat teknologi komputer grafis dan video musik.

Selama hidupnya Oskar tercatat sudah membuat 50 film pendek yang beberapa di antaranya menggabungkan musik dengan efek animasi. Selain itu, Oskar juga berkarya membuat lukisan yang tercatat sudah lebih dari 800 lukisan kanvas yang tersebar di museum di dunia.

Karya Oskar ini berhasil meraih penghargaan Grand Prix Brussels International Experimental Film Competition di Belgia pada 1949.

Oskar meninggal dunia di usia 66 tahun tepatnya tanggal 31 Januari 1967 di Los Angeles. Karya-karya Oskar berupa film, fotografi, dan gambar animasi lainnya menjadi koleksi di Center for Visual Music (CVM) di Los Angeles, Amerika Serikat.

Menurut ulasan Google dalam rilis tertulisnya, Fischinger terkenal karena film-film yang dibuat dari kurun waktu 1920-1940-an saat komputer belum ditemukan tetapi dia telah menciptakan animasi dan musik visual dengan manual.

Di dunia desain, dia dikenal sebagai figur yang dipuja dalam bidang gambar gerak dan animasi. “Kemampuan terbaiknya yakni menggabungkan visual abstrak tanpa cela dengan iringan musik, setiap frame digambar maupun difoto dengan tangan,” tulis Google.

Sebagai seorang master dalam gerak dan warna, Oskar menghabiskan waktu berbulan-bulan - terkadang bertahun-tahun – untuk merencanakan dan membuat animasi.

Meskipun sebagian besar dikenal karena filmnya, Fischinger juga seorang pelukis yang produktif, menciptakan banyak karya yang menangkap gerakan dan perasaan dramatis dari filmnya dalam frame tunggal.

Tidak puas dengan media tradisional, ia juga menemukan sebuah alat, Lumigraph, untuk menghasilkan tampilan kromatis yang fantastis dengan gerakan tangan - sejenis lukisan optik yang bergerak dan pendahulunya ke media interaktif dan permainan multi-touch saat ini.

Bahkan dengan teknologi canggih yang sekarang ada, meniru karya Fischinger adalah tugas yang mustahil. Warna dan gerak yang direncanakannya begitu hati-hati dan tidak main-main, setiap frame begitu tepat tetapi tidak mengurangi sisi manusiawi.

Demi mengejar mimpi sebagai pembuat film, Oskar pernah terpaksa meninggalkan Jerman pada tahun 1936. Ia pindah ke Amerika Serikat dan lebih dihargai karya-karyanya oleh industri perfilman Hollywood.

Hingga pada tahun 1929, Oskar Fischinger membuat efek animasi untuk film Woman In The Moon. Ini merupakan salah satu film fiksi ilmiah pertama yang melibatkan roket.

Karyanya yang paling terkenal adalah film pendek berjudul Motion Painting No.1 (1947). Film ini menggabungkan musik klasik karya Johann Sebastian Bach dengan gabungan gambar-gambar yang membentuk gerak dalam tumpukan kaca akrilik. Karya ini disimpan di Perpustakaan Kongres Amerika Serikat karena dianggap secara kultural, historis dan estetis memberi pengaruh signifikan.


Hingga beberapa hari yang akan datang Google akan meluncurkan kembali sejumlah game doodle lawas sebagai salah satu cara menyemangati orang-orang yang terdampak oleh pandemi COVID-19 ini.

“Seiring COVID-19 terus memengaruhi komunitas di seluruh dunia, orang dan keluarga di mana pun menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Sehubungan dengan ini, kami meluncurkan seri Doodle throwback sambil melihat kembali beberapa game Google Doodle interaktif populer kami!” tulis Google dalam laman resmi Google Doodle.

Game pertama yang muncul dalam serial ini ialah ‘Coding’ yang menjadi hit di tahun 2017 lalu yang saat itu dibuat untuk merayakan Kids Coding yang ke-50 tahun. Game kedua yang dihadirkan adalah Kriket.

Untuk memainkan Coding, kita dapat melakukan klik pada tampilan doodle di laman pencarian utama. Selanjutnya, akan ada logo “Play” yang dapat diketuk dan mengikuti petunjuk permainan yang telah disediakan untuk menikmati gim dengan nama Coding for Carrots tersebut.

Untuk memenangkan permainan, Anda diharuskan memakan seluruh wortel. Anda dapat memasukkan perintah berupa kode yang berbeda sehingga kelinci tersebut bergerak sesuai dengan program perintah yang telah dimasukkan berdasarkan bahasa pemprograman Scratch untuk anak-anak.

Google Doodle “Coding” 2017 tersebut dikembangkan oleh tiga tim yakni tim Google Doodle, tim Google Blockly, dan para peneliti dari MIT Search termasuk Champika Fernando yang menjadi salah satu kolaborator proyek ini.

Dalam tulisannya, Fernando mengungkapkan kesenangannya bahwa akan terdapat banyak anak yang mendapatkan pengalaman pengkodean pertama mereka saat bermain dengan Google Doodle hari ini.

“Harapan saya adalah bahwa orang akan menemukan pengalaman pertama ini menarik dan menarik, dan mereka akan didorong untuk melangkah lebih jauh. Saya berharap itu akan sama menginspirasi dan berpengaruh bagi mereka,” tulisnya.


Baca juga artikel terkait GOOGLE DOODLE atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Musik)

Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Agung DH
DarkLight