18 Desember 1997

Orde Baru Jangan Dipiara. Kasino Warkop Dipiara, Bisa Ketawa!

Kasino Hadiwibowo. tirto.id/Gery
Oleh: Faisal Irfani - 18 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kasino Hadiwibowo adalah sosok sentral dalam grup komedi Warkop. Lawakan-lawakan mereka banyak menyentil rezim Orba.
Alkisah, pada suatu hari, para personel Warkop tengah bersiap menuju gedung pementasan. Dono, Kasino, dan Indro sudah berdandan necis dan rapi. Ketiganya hanya tinggal menunggu Nanu yang masih berada di kamar mandi. Sadar diburu waktu, Nanu pun mempercepat persiapannya. Tak lama berselang, ia langsung menuju mobil di mana teman-temannya sudah duduk menantinya.

Baru beberapa menit mobil berjalan, Nanu tiba-tiba mengeluarkan sumpah-serapah. Kata “udik” sampai “kampungan” meluncur dengan deras; memperlihatkan betapa kesal dirinya. Penyebabnya sungguh konyol: di celana dalam yang ia pakai, terdapat olesan balsam yang membikinnya kepanasan. Penderitaan Nanu pun menjadi sumber kebahagiaan personel yang lain.

Hanya satu orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban atas prank tersebut. Ia adalah Kasino.

“Kalau bicara soal jahil, di Warkop semua juga jahil. Tapi, yang jadi raja jahil, ya, Kasino orangnya,” kata Indro dalam Warkop: Main-Main jadi Bukan Main (2010) yang disusun Rudi Badil.


Berawal dari Celotehan Radio

Peran Kasino memang sangat sentral di Warkop. Bisa dikata, lelaki kelahiran Gombong, Kebumen itu merupakan otak dari sebagian besar kreasi maupun banyolan Warkop selama mereka eksis di dunia hiburan. Nama Kasino pertama kali melambung saat dirinya menjadi penyiar di Prambors Radio pada awal 1970-an. Pekerjaan tersebut dilakoni ketika ia tengah menempuh studi di Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial (sekarang FISIP) Universitas Indonesia.

Di Prambors, Kasino tak sendirian. Ia ditemani Nanu Mulyono (mahasiswa FISIP UI) dan Rudy Badil (mahasiswa Fakultas Sastra UI). Di sana, ketiganya mengisi program bertajuk “Obrolan Santai di Warung Kopi” yang mengudara setiap Kamis malam serta diinisiasi oleh Temmy Lesanpura. Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Warkop DKI—Dono dan Indro menyusul bergabung pada 1974 dan 1976.

Program tersebut cepat melejit berkat kemampuan ketiganya dalam mengolah humor dan kritik atas kondisi sosial-politik. Pada masa itu kekuasaan Orde Baru sedang berupaya mencengkeram segala lini, tak terkecuali di lingkungan kampus.

Rezim Soeharto mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) untuk "mendinginkan" gerakan mahasiswa. Orde Baru pun turut memberlakukan indoktrinasi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) di kurikulum perguruan tinggi.


Puncaknya terjadi pada 1974 ketika ribuan orang, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa, melancarkan protes terhadap kencangnya investasi Jepang yang masuk ke Indonesia. Gelombang protes yang menyebabkan belasan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka tersebut kelak dikenal dengan "Malari 1974" ("Malapetaka 15 Januari 1974").

Sengkarut itu mendorong Warkop untuk menyuarakan kritik di hampir setiap materi guyonan mereka. Personel Warkop membanyol tentang militerisasi kampus, pemaksaan P4, maraknya gelar sarjana asing, program Keluarga Berencana (KB), sampai urbanisasi. Semua dikemas sesegar dan sekocak mungkin.

Dari yang semula cuma berkutat di radio, kiprah Warkop melebar sampai panggung pementasan serta film. Sepanjang 1970-an sampai 1980-an, Warkop mengeluarkan film-film yang kelak menyabet status legendaris seperti Mana Tahaaan… (1979), Gengsi Dong (1980), Manusia 6.000.000 Dollar (1981), hingga Chips (1982) dan Setan Kredit (1982).

Di fase inilah kebintangan Kasino semakin moncer.


Otak Kreasi Warkop

Di setiap film Warkop, masih mengutip buku Warkop: Main-Main jadi Bukan Main, Kasino sering kali berperan sebagai leader. Ia menjadi kepala detektif, juga pernah memainkan karakter seorang manajer. Dalam menjalankan role tersebut, Kasino digambarkan sotoy dan kerap salah ketika mengambil keputusan.

“Ia juga cenderung ingin dianggap sebagai problem solver dengan ide-ide yang belakangan baru diketahui semuanya ngawur belaka,” demikian tulis Rudi. “Kasino juga identik dengan karakter si tukang jahil dan doyan nyeletuk.”

Ihwal yang terakhir ini Anda bisa dengan jelas melihatnya saat Kasino mengeluarkan umpatan yang barangkali tidak habis dalam satu tarikan napas: "dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus!" Kasino mengucapkannya kala ia tengah berada dalam rapat bersama jajaran direksi perusahaan. Adegan tersebut nantinya dianggap sebagai salah satu warisan terbaik dari Kasino dan Warkop.



Kontribusi Kasino tak berhenti sampai di situ. Almarhum Denny Sakrie dalam “Menelisik Usik Musik Warkop” menjelaskan bahwa Kasino turut membentuk citra musik Warkop. Kasino, terang Denny, punya kapabilitas menyanyi dan referensi musik yang mumpuni.

Ia, misalnya, dapat bernyanyi dengan pelbagai macam cengkok: dari India, Mandarin, Jawa, Sunda, Betawi, sampai Madura. Dan yang paling utama: suaranya tak fals. Denny menyebut Kasino bisa menjadi imitasi Robert Plant (vokalis Led Zeppelin) dan Louis Armstrong di waktu bersamaan. Sementara dari aspek referensi musik, Kasino paham perkembangan musik di zaman itu, baik jazz, rock, maupun yang aneh sekalipun seperti corridor—dari Spanyol.

Dalam sebuah adegan di Pintar Pintar Bodoh (1980), Kasino menunjukkan bakat musikalnya yang mumpuni itu. Nyanyian Kasino dalam adegan tersebut kelak sangat dikenang para penggemar Warkop. Apalagi adegan itu ditutup dengan celetukan yang juga sama legendarisnya: "Bodo dipiara. Kambing dipiara, bisa gemuk!"

Faktor itulah yang membikin Kasino sering diajak kolaborasi oleh musisi lainnya. Pada 1979, ambil contoh, Kasino diminta Guruh Sukarnoputra menyanyikan lagu “Selamat Datang” dalam versi dangdut di konser bertajuk Pagelaran Cipta Karya Guruh Sukarnoputra. Di tahun yang sama, Kasino juga berkolaborasi dengan Yockie Suryaprayogo.


Dalam konser Musik Saya adalah Saya yang diselenggarakan di Balai Sidang Senayan, Kasino membawakan balada “Cinderella”—versi parodi dari tembang Spanyol berjudul “La Cucaracha.” Catatan Denny mengatakan Kasino tampil dengan iringan orkestrasi Idris Sardi dan Badai Band yang beranggotakan Chrisye, Fariz R.M., Yockie, serta Keenan Nasution.

Di Warkop, Kasino memanfaatkan kepiawaiannya untuk menciptakan lagu-lagu parodi yang nantinya dimunculkan di setiap film mereka. Lagu “Come Together” yang dibikin The Beatles diubah dalam bentuk dangdut. Begitu pula dengan “Marley Put Drive” milik Bee Gees. Yang konyol, tentu, saat tembang “Beat It”—yang populer di tangan Michael Jackson—dirombak menjadi “Cepirit.”

Saya selalu senang ketika melihat aksi Kasino di film Warkop. Di saat libur Lebaran tiba, film-film Warkop selalu menjadi opsi utama untuk mengisi ruang keriaan.

Pada 18 Desember 1997, tepat hari ini 22 tahun lalu, ketika Kasino Hadiwibowo berpulang dalam usia 47, kita kembali diingatkan tentang kiprahnya yang senantiasa mengundang tawa. Ia pula, bersama kawan-kawannya di Warkop, yang membuat kita insaf bahwa kekuasaan otoriter dan militeristis ala Orde Baru memang tidak layak dipelihara terus-menerus. Meminjam celetukan Kasino: "Orde Baru Jangan Dipiara. Kasino Warkop Dipiara, Bisa Ketawa!"

Baca juga artikel terkait WARKOP DKI atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight