Film Joker

Orangtua Perlu Tahu: Joker Bukan Avengers yang Bisa Ditonton Anak

Gadis kecil menutup matanya dengan tangan di bioskop. FOTO/iStockphoto
Oleh: Faisal Irfani - 10 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Joker bukan film untuk anak-anak. Orangtua dan bioskop harus sadar akan hal itu.
tirto.id - Ada yang mengganjal ketika saya menyaksikan Joker di bioskop di bilangan Mampang, Jakarta Selatan. Di kursi baris depan tempat saya duduk, terdapat anak kecil yang turut serta menonton. Beberapa kali ia bertanya tentang adegan yang ada dalam film. Selebihnya, ia lebih sering menatap layar gawainya—menyibukkan diri dengan YouTube.

Joker sendiri bukan film untuk anak-anak. Sepanjang durasi, Joker menawarkan atmosfer gelap dan kisah tentang orang dengan gangguan mental bernama Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) yang disia-siakan lingkungan sosialnya. Tak hanya itu, Joker juga memuat adegan-adegan sarat kekerasan. Walhasil, ketika ada orangtua yang membawa anak ketika menonton Joker, tak sedikit yang protes.

Akun Twitter @GiaPratamaMD, misalnya, mengatakan bahwa Joker “bukan film laga, bukan film anak-anak, bukan film superhero.” Ciutan tersebut di-retweet sebanyak lebih dari lima ribu kali.

Senada dengan @GiaPratamaMD, akun @ratihibrahim juga menegaskan bahwa “jangan ajak anak-anak” dan “jangan izinkan anak-anak” menonton Joker.

Menurut catatan Lembaga Sensor Film (LSF), Joker punya rating 17+. Artinya, film Joker hanya bisa disaksikan oleh penonton dewasa.

Imbauan untuk tidak menonton Joker bagi anak-anak juga muncul di AS. Alamo Drafthouse, bioskop di San Fransisco, misalnya, telah memberi peringatan kepada para orangtua agar tak mengajak anak-anak mereka menyaksikan Joker. Pesan tersebut dibagikan Alamo lewat media sosial.

“[…] Ada banyak ungkapan yang sangat sangat kasar, kekerasan yang brutal, dan hal-hal buruk lainnya. Ini [Joker] adalah penggambaran yang sarat kekerasan, gelap, dan realistis mengenai satu orang yang turun dalam kegilaan. Ini bukan untuk anak-anak, dan mereka tidak akan menyukainya. (Tidak ada Batman),” demikian tulis Alamo dalam akun Facebook-nya.


Parents Television Council, lembaga pengawas media, tak lupa turut bersuara. Mereka menyarankan agar para orangtua tak terbawa narasi “Joker sebagai franchise Batman” sehingga cocok disimak oleh anak-anak.

Warner Bros, selaku pemegang hak distribusi Joker, menolak dianggap mempromosikan kekerasan di dunia nyata. “Bukan maksud dari film, sutradara, atau studio untuk mengangkat karakter ini sebagai pahlawan,” kata mereka dalam pernyataan resmi.

Joker bukan film franchise superhero pertama yang kena kritik karena masih dinilai longgar terhadap penonton anak-anak. Tiga tahun silam, Deadpool juga kena getahnya. Seperti diberitakan Kompas.com, muncul pesan berantai dari grup WhatsApp yang isinya melarang orangtua menonton Deadpool di bioskop. Alasannya: Deadpool memuat banyak adegan kekerasan dan vulgar.

Seruan itu didukung oleh LSF. Lembaga ini menegaskan bahwa Deadpool, yang dibintangi Ryan Reynolds, hanya boleh ditonton mereka yang sudah berusia 17 tahun ke atas.

“Kami menyambut baik ada guru maupun orangtua memberikan broadcast semacam itu. Sebab, kalau tidak, orang bisa lupa bahwa ini untuk dewasa,” terang juru bicara LSF waktu itu, Rommy Fibri. “Atau bahkan sudah tahu itu kategori dewasa, tetapi tetap nonton ngajak anak-anaknya. Dipikir mungkin karakternya superhero. Makanya, kan.”

Tentang Deadpool ini ada cerita menarik. Sekuel Deadpool, Deadpool 2, dibintangi oleh aktor remaja bernama Julian Dennison. Usianya masih 15 tahun dan ia tinggal di Selandia Baru. Saat filmnya sudah jadi, Julian tidak bisa menyaksikan aktingnya sendiri karena umurnya belum memenuhi kualifikasi sensor setempat.

“Aku masih berusia 15 tahun dan film ini di Selandia Baru mendapatkan rating R16. Jadi, aku tak bisa menontonnya,” ungkapnya kepada pembawa acara Jimmy Kimmel. “Beberapa temanku juga diusir dari bioskop.”


Masalah Penting

“Kekerasan di layar cukup mampu meninggalkan perasaan traumatis untuk anak-anak di usia berapa pun,” terang direktur di Seattle Children’s Research Institute, Dimitri Christiakis, kepada CNN.

Hari ini gambaran kekerasan dapat dijumpai hampir di mana saja: televisi, film, sampai media sosial. Keberadaan internet makin membuat orang sulit menghindari panorama kekerasan. Dampaknya bisa buruk, terutama untuk anak-anak.

Sejak awal 1960-an, sudah dilakukan berbagai penelitian untuk memperlihatkan bahwa paparan kekerasan dalam televisi dan film turut meningkatkan risiko perilaku kekerasan bagi mereka yang menonton. Acara televisi dan film telah menjadi bagian rutin dalam keseharian anak. Baik atau buruknya kemasan media turut membentuk nilai, kepercayaan, serta perilaku di lingkungan anak-anak.

Pada 1963, A. Bandura, D. Ross, dan S. A. Ross, menerbitkan penelitian bertajuk “Imitation of Film-Mediated Aggressive Models” yang kemudian dipublikasikan oleh The Journal of Abnormal and Social Psychology. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menunjukkan anak-anak prasekolah sebuah video yang berisi seorang dewasa bermain boneka tiup. Orang dewasa ini duduk di atas boneka, meninjunya, menendang berkali-kali, serta memukul kepalanya dengan palu.

Setelah selesai menyaksikan video itu, anak-anak dibawa ke ruang bermain yang di dalamnya terdapat boneka yang sama. Seperti yang diperkirakan, anak-anak tersebut meniru perilaku agresif dari orang dewasa yang ada di video. Yang cukup mengejutkan, anak-anak ini bahkan menemukan cara baru untuk memukuli boneka dan bermain dengan cara-cara yang lebih agresif.

Seiring waktu, dengan kian berkembang dan meluasnya internet, potensi anak-anak menjadi agresif karena terpapar tayangan dan konten kekerasan lainnya makin terbuka lebar.



Caroline Fitzpatrick, peneliti dari Université Sainte-Anne, Kanada, dalam artikelnya yang berjudul “Watching Violence on Screens Makes Children More Emotionally Distressed” yang tayang di The Conversation menjelaskan bahwa anak-anak yang terekspos tontonan kekerasan cenderung menjadi antisosial, tidak peka, dan manipulatif. Penelitian dilakukan terhadap 1.800 anak-anak berusia tiga dan empat tahun. Pembentukan perilaku itu ditentukan oleh program televisi, teknologi baru (Skype atau Facetime), sampai video gim dan film.

Penelitian lain berjudul “The Impact of Electronic Media Violence: Scientific Theory and Research” yang disusun L. Rowell Huesmann dan dipublikasikan di Journal Adolesc Health (2007) menerangkan konten berbau kekerasan menimbulkan dampak jangka pendek dan panjang bagi anak-anak.

Dampak jangka pendeknya, konten kekerasan bisa mendorong anak-anak terangsang dan akhirnya meniru secara langsung aksi kekerasan yang mereka lihat. Sedangkan dampak jangka panjangnya, konten kekerasan mampu mengubah emosi anak-anak.

Orangtua juga punya andil. Ketika orangtua lebih banyak menonton konten kekerasan yang ada di acara televisi atau film, mereka condong memperbolehkan anak-anaknya untuk menikmati konten serupa.


Apa yang Harus Dilakukan

"Dalam kasus Joker, hadirnya anak-anak kecil di bioskop disebabkan dua hal," terang psikolog anak, Jane Cindy Linardi, kepada Tirto, Selasa (8/10) siang.

“Pertama, anak tidak ada yang menjaganya sehingga tidak memungkinkan untuk ditinggal orangtuanya menonton bioskop. Kedua, mungkin memang orangtuanya kurang aware terhadap dampak anak ketika menonton film-film dewasa.”

Untuk itulah orangtua memegang peran penting dalam masalah semacam ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, menurut catatan WebMD, antara lain: orangtua harus memperhatikan apa yang ditonton anak-anak, mendampingi mereka menonton, mengatur jam menonton, jangan membiarkan anak menonton konten kekerasan, serta berani mendiskusikan konteks kekerasan dengan terbuka bersama anak.


Jane menambahkan bahwa selain peran orangtua, kehadiran bioskop juga perlu dikritisi. Jane berpendapat bahwa bioskop harus lebih tegas dalam memperketat batas usia minimum penonton ketika film yang tayang adalah film dewasa.

Sementara Catherine Keng, Corporate Secretary XXI, menegaskan bahwa pihak bioskop, sejauh ini, hanya berupaya untuk mengimbau kepada orangtua agar tidak mengajak anaknya menonton film kategori dewasa.

"Karena yang sering terjadi kalau petugas kami menegur, yang lebih galak malah orangtua yang membawa anak, padahal kami justru peduli dengan anaknya," ucap Catherine saat dihubungi Tirto.

"Terus terang, kalau ada anak-anak di bawah umur coba menonton film yang tidak sesuai umurnya, begitu ditegur, anak tersebut langsung enggak jadi nonton. Tapi, yang sulit justru kalau mereka didampingi orangtua, dan biasanya orangtua lebih galak dari kami."

Ia menambahkan, konsekuensi yang ditimbulkan lainnya bila orangtua keukeuh mengajak anaknya menonton film yang tidak sesuai dengan umurnya adalah terganggunya kenyamanan penonton lain akibat "suara tangisan" dari anak tersebut.

Catherine mencontohkan pada suatu waktu, ada orangtua yang kesal ketika ditegur petugas bioskop agar tidak membawa anaknya menonton film di luar umur mereka. Saking kesalnya, orangtua itu "langsung menyobek tiket" dan "melemparnya ke petugas bersangkutan."

"Di zaman informasi yang terbuka ini, orangtua bisa dengan mudah untuk akses review di media konvensional maupun media sosial tentang film-film yang sedang tayang. Menurut saya, orangtua harusnya lebih peka dan jeli dengan pilihan film untuk anak-anaknya," imbuhnya.

Menurut keterangan Catherine, pihaknya akan terus melakukan edukasi kepada penonton ihwal masalah ini, baik lewat imbauan di layar bioskop hingga media sosial. Tak menutup kemungkinan juga nantinya dibuat iklan layanan masyarakat mengenai "kesadaran menonton film sesuai umurnya."

Di tengah pesatnya penetrasi dunia digital, bagaimanapun juga anak-anak harus dijaga dari konten berbau kekerasan. Imbasnya tak sepele: konten kekerasan dapat memicu perilaku yang agresif.

Komunikasi yang baik, pendampingan yang maksimal, serta pemahaman yang komprehensif diperlukan supaya anak-anak tidak mudah terjerumus dalam konten maupun tontonan yang tak bermutu. Dan satu hal yang jelas: tidak semua film “superhero” seperti Spider-Man atau The Avengers.

Baca juga artikel terkait ANAK-ANAK atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight