Orang Tionghoa di Bisnis Jamu: Jago Hingga Nyonya Meneer

Ilustrasi jamu. FOTO/Istimewa
Oleh: Petrik Matanasi - 8 Agustus 2017
Dibaca Normal 2 menit
Jamu sudah lama dikenal di Indonesia. Namun, industri jamu tradisional kemasan dikembangkan oleh orang-orang peranakan Tionghoa.
tirto.id - Di masa kolonial, pedagang jamu atau mbok jamu dengan bakul gendongnya kerap keliling dari kampung ke kampung. Saat ini, bakul jamu semacam itu sudah jadi barang langka apalagi di kota besar. Di pasar umum produk jamu kini sudah bertransformasi dengan pelbagai kemasan seperti puyer atau pil hingga cair. Pedagangnya pun tak lagi menggendong bakul, tetapi sudah mengendarai sepeda ataupun sepeda motor. Gerai-gerai jamu bahkan sudah banyak ditemui di sudut-sudut kota.


Baca juga:

Selain jamu gendong ada juga jamu non gendong. Jamu-jamu non gendong ini dikembangkan oleh orang-orang Tionghoa sejak lama. Di antara pembuat jamu orang Tionghoa, sebagian dari mereka mulai membangun industrialisasi jamu di zaman kolonial.

Baca juga: Perjuangan Orang Tionghoa dalam Pergerakan Nasional

Menurut Christoph Antons dalam buku Traditional Knowledge, Traditional Cultural Expressions, and Intellectual (2009), “perusahaan jamu pertama, Djamoe Industrie en Chemicalen Handel “IBOE” Tjap 2 Njonja, didirikan oleh dua orang perempuan peranakan di Surabaya pada 1910. Jamu mereka terdaftar sebagai merek: Djamoe Ibu cap 2 Njonja.” Dua peranakan Tionghoa yang dimaksud adalah Tan Swan Nio dan putrinya, Siem Tjiong Nio. Jamu ini masih ada, di bawah naungan PT Jamu Iboe.




Dalam situs www.jamuiboe.com, PT Jamu Iboe menyebut perusahaan mereka adalah “salah satu perusahaan jamu tertua di Indonesia.” Saat ini, usia usaha jamu ini sudah lebih dari seabad. Di masa kolonial, perusahaan ini terlibat dalam riset-riset pemerintah yang berusaha membuat jamu-jamu yang menyehatkan masyarakat.

Delapan tahun sejak 1910, suami istri Phoa Tjong Kwan (T.K. Suprana) dan Tjia Kiat Nio (Mak Jago) berkolaborasi membangun bisnis jamu. “Tahun 1918, dengan produk serbuk jamu revolusionernya itu, TK Suprana mendirikan usaha warungan dengan produk yang diberi nama: Djamoe Djago,” seperti tercatat dalam buku 1.000 tahun Nusantara (2000).

Menurut salah satu penerus, Jaya Suprana—yang kondang dengan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), “Jamu Jago didirikan 1918 di Wonogiri,” tulisnya dalam Naskah-Naskah Kompas (2009). “TK Suprana memproses ramuan jamu menjadi bentuk produk serbuk, hingga memungkinkan ramuan jamu diproduksi secara massal.”

Ketertarikan Suprana pada jamu, menurut www.jago.co.id, karena dia kerap “mengamati cara pembuatan jamu dari Ibunya.”

Usaha jamu keluarga itu, cukup berkembang, 18 tahun setelah berdiri, pada 1936, jamu-jamu buatan pabriknya tersebar di Hindia Belanda. Pada tahun itu, TK Suprana mewariskan perusahaan jamu itu kepada anak-anaknya (Anwar, Panji, Lambang dan Bambang). Pada 1945, perusahaan jamu itu pindah ke pusat Provinsi Jawa Tengah, Semarang. Letak pabrik pengolahan jamu bergambar Ayam Jago ini berada di Srondol.

Uniknya, orang-orang peranakan Tionghoa yang bernama belakang Nio merupakan para perintis bisnis jamu di Indonesia. Selain, Jamu Iboe dan Jamu Jago, pendiri perusahaan jamu Nyonya Meneer juga bernama belakang Nio, Lauw Ping Nio. Suaminya bukan tuan-tuan bule Belanda yang biasa disapa Meneer (tuan). Namun nama Meneer, hanya ganti penulisan dari kata menir—menurut www.KBBI.web.id berarti “pecahan beras halus yang terjadi ketika ditumbuk.”

Lauw Ping Nio yang kelahiran Sidoarjo 1895 ini, menurut catatan Susan Jane Beers dalam Jamu: The Ancient Indonesian Art of Herbal Healing “di usia 16 tahun, dia menjadi istri ketiga dari laki-laki yang punya reputasi sebagai casanova.” Suaminya, Ong Bian Wan, adalah “seorang pria yang berprofesi pedagang. Bisnis perdagangannya membuat ia membawa Meneer hingga ke Kota Semarang,” tulis Asih Sumardono dalam Perjalanan Panjang Usaha Nyonya Meneer (2002).
Selain Jamu Iboe, Jamu Jago dan Nyonya Meneer, merek lain yang agak lebih muda adalah: Sido Muncul (1951).

Pendirinya adalah pasutri Siem Thiam Hie dengan Go Djing Nio (alias Rakhmat Sulistio). Menurut www.sidomuncul.id, pasangan ini mengalami jatuh bangun dalam usahanya ini pernah bisnis pemerahan di Ambarawa (yang bangkrut pada malaise 1929) dan roti dengan nama Roti Muncul di Solo (1930). Berbekal kemampuan Go Djing Nio dalam meracik rempah dan jamu, mereka pindah ke Yogyakarta (1935) untuk membuka toko jamu.

Pada 1941, mereka meracik Tolak Angin, yang kala itu dinamai Jamu Tujuh Angin. Namun, perusahaan mereka baru berdiri pada 1951 di Semarang. Setelah Sido Muncul, pada 1963 muncul juga perusahaan jamu Air Mancur di Solo. Menurut www.airmancur.co.id. Perusahaan ini didirikan oleh Lambertus Wonosantoso, Rudy Hindrotanojo, dan Kimun Ongkosandjojo.

Baca juga artikel terkait NYONYA MENEER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Suhendra
DarkLight