Orang Terkenal Yang Pernah Tidak Naik kelas

Oleh: Petrik Matanasi - 2 Agustus 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sejarah membuktikan, beberapa orang yang tinggal kelas dapat sukses meniti karier.
tirto.id - Naik kelas adalah hal biasa. Bahkan menjadi keharusan. Hampir semua anak yang sekolah pernah, bahkan selalu, naik kelas. Karenanya, pengalaman tidak naik kelas lebih sedikit dialami.

Lagi pula, sesungguhnya tidak ada juga yang sudi tinggal kelas. Perasaan malu niscaya sulit dihindarkan. Belum lagi pengalaman menyakitkan lain: menjadi sekelas dengan orang yang di tahun sebelumnya adalah adik kelas, dan kawan sekelas lalu tiba-tiba menjadi kakak kelas. Pahit, bukan?

Tinggal kelas kadang dianggap semacam penundaan sukses selama setahun. Saat harusnya sudah menaiki level yang baru, ealah... kok malah ngendon di level yang sama untuk setahun berikutnya.

Tak hanya bagi murid, tinggal kelas juga bukan hal mudah yang diterima oleh para orang tua. Selain tinggal kelas berarti menambah biaya sekolah, situasi itu juga bisa serupa aib yang memalukan. Tak heran jika banyak siswa yang seharusnya tinggal kelas kemudian dikatrol agar naik kelas. Banyak cerita-cerita di sekolah soal sogok menyogok agar bocah tersebut naik. Ada juga yang dipindahkan agak bisa lanjut ke kelas berikutnya, dengan atau tanpa pelicin.

Anak yang tidak naik kelas, nyaris selalu dicap: Bodoh. Tentu saja cap macam itu tidak selalu bisa memerikan kenyataan yang sebenarnya. Cap bodoh itu lebih sering mengabaikan problem-problem non-intelijensia yang dialami si murid. Dibayangkan bahwa jika tinggal kelas maka itu terkait melulu soal otak.

Padahal berbagai kemungkinan lain tersedia: problem psikis, kurangnya konsentrasi karena ada masalah di rumah, dll. Tak semua anak bisa mudah mengikuti pembalajaran di sekolah. Seringkali banyak siswa punya gangguan belajar yang membuat skor mereka tertinggal. Entah karena sakit, harus bekerja membantu orang tua, ketinggalan pelajaran karena pindah dari daerah yang tertinggal pendidikannya ke daerah yang maju pendidikannya atau gangguan lainnya.

Bahkan gaya dan cara siswa menyerap pelajaran pun berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang lambat secara alamiah. Ada yang bisa paham hanya dengan mendengar saja, ada yang harus mencatat, melihat atau membaca. Ada juga yang baru bisa paham setelah menirukannya. Sialnya, terlalu banyak bertanya pun kerap dijadikan indikasi bodoh tidaknya seseorang.

Tak semua sekolah dan bekas anak sekolah melihat mereka yang tidak naik kelas sebagai anak bodoh. Beberapa mantan siswa SMA Kolese deBritto menganggap tidak naik kelas adalah hal biasa di sekolahnya dulu. Standar naik kelas di sekolah itu juga tidak gampang.

Mantan penyanyi dan presenter, Kris Biantoro, bercerita dalam Manisnya Ditolak: Sebuah Autobiografi (2004). Berkali-kali telat masuk sekolah di de Britto bisa mengakibatkan tidak naik kelas. “Terlambat berarti kena sanksi, dan sanksi yang berkali-kali berarti tidak naik kelas,” aku Kris Biantoro yang memang alumni de Britto. Mereka yang tidak naik kelas itu hanya disebut veteran dan jumlahnya tidak sedikit.

Tokoh terkenal Orde Baru, Harry Tjan Silalahi, juga alumni de Britto. Dia salah seorang mantan "veteran" de Britto. Dia dua tahun di kelas dua. Bukan karena bodoh, tapi karena kesibukannya.

“Meskipun begitu, kalau ada lomba cerdas-tangkas di RRI pada waktu itu, Harry bersama teman-teman sekolahnya di de Britto selalu jadi juara,” tulis J.B. Sudarmanto dalam Tengara Orde Baru: Kisah Harry Tjan Silalahi (2004).

Infografik mereka pernah tinggal kelas


Jauh setelah tak naik kelas, Harry Tjan—yang aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) ini—pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Direktur Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang berpengaruh di masa Orde Baru.

Orang yang sukses walau pernah tinggal kelas ini menarik untuk dicermati. Seperti Thomas Alva Edison yang bahkan dicap dungu ketika masih di kelas rendah sekolah dasar. Semua tahu, bocah yang dicap bodoh ini, kelak di kemudian hari menjadi pemegang 1.093 hak paten. Dia kemudian dikenal sebagai penemu lampu listrik, proyektor film dan pendiri perusahaan legendaris bernama General Electric.

Meski tak berada di level yang sama dengan Thomas Alva Edison, di Indonesia ada juga Rhenald Kasali yang pernah tinggal kelas. Dia pernah tidak naik kelas juga waktu duduk di Sekolah Dasar, tepatnya saat duduk di kelas lima. Jauh setelah tidak naik kelas dan melalui berpuluh tahun kerja keras, dia dianggap sebagai ahli di manajemen. Ia bahkan menjadi salah satu guru besar Universitas Indonesia (UI), salah satu kampus bergengsi di Indonesia. Buku-buku dan ceramahnya laris.



“Saya sempat bersedih hati sewaktu tidak naik kelas di sekolah dasar. Seingat saya, salah satu penyebabnya adalah nilai Bahasa Indonesia saya yang merah menyala,” aku Rhenald Kasali dalam bukunya Marketing in Crisis: Marketing Therapy (2009). Dalam ingatannya, hal itu terjadi karena ia tak bisa menjawab pertanyaan apakah lawan kata "cinta", "kenyang", "rajin" dan beberapa kata lainnya.

Tokoh dari militer yang pernah tidak naik kelas pun ada. Meski bukan tidak naik di kelas di sekolah dasar atau menengah, Prabowo Subianto juga pernah tidak naik kelas di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) Magelang. Dia masuk Akabri tahun 1970, seangkatan dengan Ryamizard Ryachudu, Susilo Bambang Yudhoyono dan Agus Wirahadikusumah. Tiga nama terakhir lulus pada 1973, sementara Prabowo Subianto lulus setahun kemudian, pada 1974. Menurut bekas atasannya, Luhut Pandjaitan, di beberapa media, Prabowo disebut “tidak naik kelas. Karena dia nggak disiplin.”

Tinggal kelas tidak membuat kariernya mandek. Kendati gagal memenangkan Pilpres 2014 lalu, namun karier militernya bisa dikatakan cemerlang. Terlepas dari peranan Soeharto yang saat itu menjadi mertuanya, kecerdasan Prabowo tidak bisa dianggap sepele. Selama berkarier di militer, khususnya di satuan elit Kopassus TNI AD, Prabowo terbilang berhasil membangun reputasi yang sangat dihormati pasukan dan anak buahnya -- hingga hari ini.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS