Orang-Orang Kaya Baru Asia: Lebih Gila dari Crazy Rich Asians

Jack Ma, pendiri e-commerce raksasa Cina Alibaba, memberi isyarat ketika dia tiba untuk bertemu dengan Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha di Bangkok, Thailand Kamis, 19 April 2018 selama kunjungan ke negara itu untuk mengumumkan investasi kelompok tersebut di Skema Koridor Ekonomi Timur (EEC) pemerintah Thailand. (Foto Jorge Silva / Pool via AP)
Oleh: Renalto Setiawan - 18 September 2018
Dibaca Normal 3 menit
Ada yang membangun rumah setinggi ratusan meter, membeli klub bola, hingga main di film laga.
tirto.id - Pada awal abad ke-20, di Singapura, pasangan suami istri Margaret Kwan dan Dr. Hu Sai Kuen tak mengalami kesulitan untuk menjalani hidup. Mereka mempunyai sebuah rumah yang cukup besar, yang dibangun pada tahun 1920an, dengan perabot yang komplit. Untuk keluar rumah, mereka juga tak perlu repot-repot mengeluarkan keringat. Cukup mengeluarkan mobil dari garasi, menginjak gas, dan sampailah mereka di tempat tujuan. Saat itu, tak sembarangan orang bisa punya mobil.

Kwan dan Hu juga mempunyai kebiasaan yang saat itu sulit dibayangkan oleh orang-orang Singapura pada umumnya. Karena pernah sekolah di Inggris, setiap pukul lima sore mereka menikmati secangkir teh. Setelah makan malam, Hu duduk di beranda rumahnya sambil merokok untuk menikmati malam.

Kisah hidup enak Margaret Kwan dan Dr. Hu Sai Kuen menginspirasi Kevin Kwan, cucu mereka, untuk menulis sebuah novel berjudul Crazy Rich Asians. Terbit pada 2013, novel itu laris manis, demikian pula film adaptasinya. Dirilis pada 15 Agustus 2018 lalu, film Crazy Rich Asians meraup pendapatan sebesar 149.551.904 juta dolar Amerika per 16 September 2018.

Berkisah tentang Rachel Chu yang punya kekasih superkaya, Crazy Rich Asians menyuguhkan banyak adegan yang bikin kocak dan tempat-tempat indah di Singapura, tak lupa baju-baju rancangan desainer ternama dengan harga supermahal, perhiasan mentereng, juga hidangan yang terlihat wah.

Menurut Edward Tang, meski film tersebut merupakan karya fiksi, Crazy Rich Asians memang sangat relevan dengan kehidupan orang-orang superkaya di Asia. Dalam esainya di Vogue yang berjudul "How True to Real Life is Crazy Rich Asians?" Anak konglomerat asal Cina tersebut menjelaskan alasannya.

“Orang-orang kaya ini menggambarkan pesona konsumsi, yang menurut saya cukup menarik, cukup tepat. Dan saat menyebut konsumsi, yang saya maksud tidak hanya mode, tapi juga jalan-jalan dan kuliner. Saya pikir media sosial turut membuat orang paham dan menyaksikan bahwa di luar sana ada orang-orang yang suka memamerkan kekayaannya dan melakukan hal-hal gila, yang juga dapat Anda baca di buku [Crazy Rich Asians]. Ada pula kepingan-kepingan kenyataan [dalam filmnya]. Terlihat sangat ekstrem di filmnya, tapi saya melihat kilasan kehidupan nyata di sana,” ujar Edward.

Di dunia nyata, kegilaan beberapa orang superkaya di Asia memang lebih menarik dari apa yang digambarkan Crazy Rich Asians.


Rumah 27 Lantai, Klub Sepakbola, “Hollywood” Baru

Punya rumah megah nan unik rancangan arsitek papan atas adalah hal biasa bagi kaut plutokrat. Tapi Mukesh Ambani punya ambisi lain untuk rumahnya. Pada 2006 lalu, pengusaha petrokimia asal India yang saat ini menduduki peringkat ke-19 orang terkaya di dunia versi Forbes itu membangun rumah dengan kisaran dana sebesar 1-2 miliar dolar AS. Dalam hal perabot, rumah Ambani kanya kalah mahal dari Buckingham Palace di Inggris.

Rumah yang dibangun di Mumbai itu ia namai Antilia. Memiliki tinggi 174 meter dan 27 lantai, tiap-tiap lantai di Antilia melayani fungsi yang berbeda, mulai dari taman, bioskop pribadi, tempat ibadah, ruang tamu, ruang keluarga, hingga tempat parkir yang mampu menampung sekitar 168 mobil. Selain itu, Ambani juga mempekerjakan sekitar 600 pelayan di Antilia. Menimbang bentuk, tinggi, dan jumlah lantainya, Antilia sudah seperti satu gedung apartemen milik pribadi.

Jika Mukesh Ambani memanfaatkan kekayaannya untuk membangun Antilia, Hui Ka Yan dan Wang Jianlin punya cara lain untuk pamer kekayaan. Hui Ka Yan membeli klub sepakbola Guangzhou Evergrande, sedangkan Wang Jianlin menganggarkan dana sebesar 8,2 miliar dolar Amerika untuk membuat studio film termahal di dunia.

Hui ka Yan membeli Guangzhou Evergrande pada 2010. Setelah diakuisisi, prestasi Guangzhou langsung meroket. Mereka berhasil memenangi China Super League tujuh kali berturut-turut, dari 2011 hingga 2017.



Selain itu, mereka juga pernah memecahkan rekor bursa transfer di Asia pada tahun 2016 silam. Saat itu, Guangzhou Evergrande mendatangkan Jakcson Martinez dari Atletico Madrid dengan harga sebesar 31 juta euro. Jackson Martinez sendiri bukan satu-satunya pemain kelas dunia yang pernah memperkuat Guangzhou. Klub yang bermarkas di Stadion Tianhe tersebut juga pernah diperkuat dua pemain ternama asal Brasil, Robinho dan Paulinho.

April 2018 lalu, Wang Jianlin meresmikan Wanda Qingdao. “Kami akan meningkatkan perkembangan industri film di Tiongkok,” kata Wang, dilansir dari South China Morning Post. “Kami juga akan mengubah Qingdao menjadi pusat film dunia," sesumbarnya.

Wang ternyata tak asal bicara. Jauh-jauh hari sebelum diresmikan, Wanda Qingdao sudah digunakan untuk memproduksi The Great Wall (2016) yang dibintangi oleh Matt Damon, juga Pacific Rim: Uprising (2018) yang menampilkan John Boyega. Cita-cita jadi pusat film sedunia tentu akan menempuh jalan panjang. Pasalnya, Hollywood yang kini berada di posisi tersebut, tak hanya mengandalkan infrastuktur fisik seperti studio, tetapi juga mengandalkan lobi-lobi politik tingkat dunia untuk memasarkan film-filmnya.


Tentu tak semua “orang kaya baru” punya perilaku seperti itu. Jack Ma dan Li Ka Shing, dua orang superkaya yang memulai kesuksesannya dari nol, adalah contohnya.

Bukan tanpa sebab Li Ka Shing mendapatkan julukan “Superman”. Sewaktu kecil, ia terpaksa putus sekolah untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Dari situ, ia kemudian belajar menjalankan bisnis hingga akhirnya masuk dalam orang tajir Asia versi majalah Forbes. Saat memutuskan pensiun pada Maret 2018 lalu, Li sudah berusia 89 tahun.

Li Ka Shing juga terkenal karena caranya mengelola keuangan. Ia membagi pendapatannya untuk lima pos: 30% untuk biaya hidup, 20% untuk mendapatkan teman dan memperluas relasi, 15% untuk belajar, 10% untuk jalan-jalan (terutama ke luar negeri), dan 25% sisanya untuk berinvestasi.

Seperti Li, Jack Ma juga tidak suka pamer. Jika ada satu-satunya hal yang membuatnya terlihat norak, itu adalah saat ia bermain dalam sebuah film laga yang berjudul Gong Shou Dau (2017). Tak hanya Li, Jack Ma pun main di situ, bahkan jadi pemeran utama. Li berperan sebagai seorang guru taichi, dengan lawan main sekaliber Jet Li, Donnue Yen, hingga Tony Jaa, aktor film laga asal Thailand.

Gong Shou Dau mendapat reaksi negatif dari warganet. Beberapa menyebutnya "sangat jelek", sebagian lagi menganggapnya sekadar strategi pemasaran. Meski begitu, Jack Ma tak peduli. Sebagai anak pemain drama tradisional Cina, ia hanya ingin bersenang-senang. Mungkin juga sekadar berpesan ke saingan-saingan bisnisnya jika ia tak takut.

Baca juga artikel terkait KONGLOMERAT atau tulisan menarik lainnya Renalto Setiawan
(tirto.id - Film)

Penulis: Renalto Setiawan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight