Oppo, Industri Ponsel Kamera, dan Narsisisme yang Menggenggam Dunia

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 9 November 2018
Dibaca Normal 4 menit
Keputusan Oppo berganti fokus ke pasar ponsel kamera sudahlah tepat, terutama di era narsisisme.
tirto.id - Di awal pendiriannya, medio 2004, Oppo hanyalah perusahaan kecil yang berbasis di Provinsi Guangdong, Cina. Produknya berupa ponsel dan beberapa produk elektronik lain. Mula-mula mereka menjual ponsel musik. Memasuki periode keemasan Android, Oppo mulai menjajaki pasar ponsel kamera.

Usia teknologi ponsel kamera saat itu juga belum ada satu dekade. Orang selalu mengasosiasikannya dengan Phillipe Kahn, pebisnis asal Perancis yang tercatat dalam sejarah sebagai penemu ponsel kamera.

Oppo dan Kahn punya visi yang cenderung serupa: sama-sama ingin membantu orang-orang dalam mengabadikan sekaligus membagikan momen berharga.

Oppo merealisasikannya melalui riset yang tekun, analisis kebutuhan calon konsumen, hingga pengawalan standar kualitas produksi. Sementara Kahn melakukan hal yang boleh dibilang lebih manis: memberi kejutan kepada keluarga, teman, dan kolega atas kelahiran putri pertama.

Pada 11 Juni 1997 istri Kahn melahirkan anak pertama yang dinamai Sophie, di sebuah rumah sakit di Santa Cruz, California, Amerika Serikat. Setelah mengambil foto Sophie, Kahn menghubungkan kamera digital dengan ponsel, lalu membagikannya melalui jaringan tanpa kabel (wireless) ke lebih dari 2.000 orang.

Foto tersebut kini tercatat sebagai gambar yang pertama kali dibagikan melalui ponsel. Pada tahun 2016 Majalah Time memasukannya ke dalam daftar “100 Foto Paling Berpengaruh Sepanjang Masa”. Kahn lalu mendirikan Lightsurf, perusahaan yang berfokus pada pengembangan teknologi nirkabel, internet, dan media digital.

Oppo turut berkembang. Memasuki tahun 2008, ketika Lightsurf resmi dibeli dan dikembangkan oleh oleh korporasi infrastruktur jaringan VeriSign, Oppo mulai meraih kesuksesan di pasar Cina. Mereka mulai menunjukkan gigi untuk bersaing dengan vendor lokal lain yang lebih senior seperti Huawei.


Setelah mulai sukses di dalam negeri, 2011 menjadi tahun permulaan bagi Oppo untuk melebarkan sayap ke pangsa pasar internasional. Pertama-tama mereka menuju Thailand. Setelah sukses, Oppo lanjut mencengkeram pasar Vietnam, lalu ke Indonesia, Malaysia, Filipina, dan negara-negara berkembang lain.

Tiga tahun berselang, yakni pada 2014, Oppo kian menunjukkan kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh oleh vendor lain. Mereka berhasil masuk ke Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara lain di Eropa, Asia, Timur Tengah, dan Afrika.

Setelah beberapa tahun fokus mengerjakan ponsel pintar, pada awal tahun 2016 Oppo menjajal strategi baru dengan fokus membuat ponsel kamera. Jargon pun diganti dari “Oppo Smartphone” menjadi “Oppo Camera Phone”. Dasarnya mengacu pada survei konsumen Oppo, dan pertimbangannya sebenarnya sudah berlangsung lama.

PR Manager Oppo Indonesia Aryo Meidianto menjelaskan bahwa pengembangan kamera depan Oppo dikerjakan sejak 2012 saat merilis jenis Oppo Find Way. Resolusinya sebesar 5 megapiksel dan saat itu menjadi yang pertama di dunia.

“Sejak saat itu konsumen mulai merespon soal kamera dalam ponsel, sementara kami juga melakukan pengembangan teknologinya.”

Oppo pertama-tama mengembangkan teknologi Pure Image, mesin pengolah gambar yang memadukan perangkat keras dan lunak. Melalui rilis ponsel kamera versi terbaru, di tahun-tahun setelahnya, teknologi ini terbukti mampu meningkatkan kualitas foto yang ditangkap oleh kamera belakang.

“Lalu kami mulai masuk ke pengembangan kamera depan, pada akhir 2015, melalui Oppo R7 Series yang membawa kamera depan 8 megapiksel. Ini juga untuk menanggapi tren kemunculan para youtuber” lanjut Aryo.

“Responnya bagus, sampai pada 2016 kita ganti strategi dan jargon itu. Kami mengembangkan kamera swafoto dengan algoritma khusus sampai penambahan fitur Artificial Intelligent.


Langkah Oppo terbilang cukup masuk akal. Data InfoTrends menunjukkan ada 1,2 triliun foto yang diambil manusia di seluruh dunia pada 2017 dan 85 persennya diambil melalui ponsel kamera. Jumlahnya meningkat beberapa juta dari tahun sebelumnya dan melebihi yang diambil melalui kamera digital (19,3 persen) atau tablet (4,7 persen).

James Abbott, kolumnis teknologi Techradar, pada Apil lalu menyebut teknologi kamera di ponsel telah “meloncat menuju kesempurnaan di tahun-tahun terakhir ini.”

“Jika prestasi ini bisa dipertahankan, katakanlah 10 tahun ke depan, kamera dalam ponsel pintar diprediksi akan memiliki kemampuan yang setara dengan kamera profesional high-end hari ini,” jelas Abbott.

Situasi ini didukung oleh kenaikan tren swafoto alias selfie. Pada tahun 2013 selfie menjadi kata tahunan Kamus Oxford. Sementara di Instagram tagar #me menjadi yang terpopuler ketiga, menempel di keterangan 184 juta foto. Ini belum menghitung jumlah foto yang dipublikasikan di kanal-kanal media sosial lain.

Pendeknya: warga dunia ramai-ramai bergerak menuju pemenuhan hasrat narsisisme, dan kamera ponsel punya andil terhadapnya. Namun situasi ini bukan mengemuka dalam nada sumbing belaka, sebab keberadaan ponsel kamera memiliki fungsi-fungsi positif lainnya.

Ponsel kamera adalah jembatan komunikasi yang lebih intim untuk warga dunia—atau dalam lingkup yang terkecil, antar dua orang manusia. Ia kerap dipakai untuk merekam dan menyebarluaskan peristiwa sosial, hingga dimanfaatkan sebagai alat perjuangan kala harus berhadapan dengan rezim tiran di sebuah negara.

Ponsel kamera memanjakan sineas film, fotografer atau vlogger (video blogger) dalam berkreasi membuat konten khas. Ponsel ini juga memudahkan jurnalis saat merekam konflik karena terbantu oleh ukurannya yang lebih kecil, sehingga merekam peristiwa di lapangan jadi lebih mudah.

Dalam fungsinya yang luas, dan berkaca pada kemajuan teknologi yang begitu pesat, konsumen ponsel kamera menuntut peningkatan kualitas secara berkala.


Pada awal hingga pertengahan Februari 2018 Huawei bekerja sama dengan Lightspeed Researsh untuk mengadakan penelitian terkait topik tersebut. Mereka menyurvei 1.000 konsumen ponsel kamera di 10 negara di Eropa dengan pertanyaan seputar performa ponsel kamera.

Hasilnya menunjukkan responden menginginkan ponsel kamera untuk bisa menghasilkan jepretan bagus tanpa kerepotan berarti (77 persen), yang mampu memotret dengan sempurna dalam berbagai kondisi pencahayaan (81 persen), punya bidikan supercepat (77 persen), dan mampu zoom in tanpa hilang ketajaman (84 persen).

Ada banyak vendor asal Cina lain yang berkompetisi untuk berinovasi atas produk ponsel kamera mereka. Oppo berhadapan dengan pemain-pemain besar seperti Huawei, Vivo, Xiaomi, juga pemain-pemain kecil lain yang belum lama ini juga bermunculan.

Pada akhir Oktober 2018, Tirto dan sejumlah awak media asal Indonesia lain berkesempatan mengunjungi pusat perakitan dan pengembangan ponsel Oppo di Dongguan, Provinsi Guangdong, Republik Rakyat Cina. Awak media juga diajak ke gerai flagship kedua Oppo di Kota Shenzhen—calon Sillicon Valey selanjutnya.

Infografik Persaingan ponsel kamera


Dalam sesi pertemuan bersama manajer dan humas Oppo, disampaikan visi-misi terkait produk terbaru sekaligus yang paling mereka unggulkan. Dua di antaranya, yang juga dipinjamkan ke awak media untuk sesi foto panorama malam, adalah Oppo Find X dan Oppo R17 Pro.

Clarity (kejernihan), nature beauty (keindahan alam), dan fun (kegembiraan) adalah tiga filosofi yang Oppo berupaya sajikan dalam teknologi kamera mereka. Khusus untuk seri Find X, mereka memberi penekanan pada tiga jargon yang amat “milenial”: leading (memimpin), young (muda), dan beautiful (cantik).

Semangat “muda” yang Oppo usung diupayakan untuk tidak berakhir sebagai hal klise. Perwakilan Pengembangan Sumber Daya Manusia Oppo Jin Haiso berkata bahwa vendornya diisi oleh banyak talenta muda, bahkan hingga level elite.


Di Indonesia citra “muda” hingga “cantik” yang melekat pada ponsel kamera Oppo “dijual” dengan cara menggaet para pesohor berwajah rupawan. Sebut saja Chelsea Olivia, Raline Shah, Chelsea Islan, Vanesha Prescilla, dan Isyana Sarasvati. Ada pula Reza Rahadian, Robby Purba, dan Rio Haryanto.

Pertimbangan soal popularitas penting. Ketika meluncurkan seri F1 dan F1 Plus, Oppo menggaet Rio dan Isyana yang memang sedang naik daun. Rio sedang menjadi pembicaraan usai mampu menembus Formula F1, sedangkan Isyana mulai jadi idola baru di kancah musik pop tanah air.

Pertimbangan kedua, kata Aryo, adalah perkara loyalitas penggemar. Oppo ia nyatakan berbeda dari korporasi lain yang mencari “brand ambassador” karena artis cantik atau tampan saja.

“Kalo kami justru mencari kedekatan antara artis dan penggemar, karena penjualan produk kami sangat dipengaruhi oleh faktor tersebut. Penggemar yang loyal akan mengikuti apa yang digunakan artis idola mereka, termasuk ponselnya. Ini strategi yang tergolong efektif,” jelasnya.

Dalam laporan Tirto sebelumnya, branding besar-besaran yang dilakukan Oppo adalah bagian dari upaya untuk melepaskan stereotip “produk asal Cina tidak berkualitas”. Oppo memang sempat kena sindiran pedas itu pada 2010, ketika baru masuk ke pasar internasional.

Lima tahun berselang, Oppo mulai mampu menutup mulut para pengkritiknya. Pada 2015, Oppo mampu menjual 50 juta ponsel di seluruh dunia, plus merangsek ke dalam daftar lima vendor penjual ponsel terbesar. Angkanya terus menanjak. Asa untuk berinovasi juga masih ada, dan berlipat ganda.

Baca juga artikel terkait OPPO atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Marketing)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf