Operasi Plastik di Antara Hak Asasi dan Kontroversi

Penulis: Yemima Lintang, tirto.id - 30 Sep 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Gagasan soal operasi plastik atau menyempurnakan diri lewat pembedahan bukanlah fenomena baru.
tirto.id - Tahun 1950-an, dr.Ivo Hélcio Jardim de Campos Pitanguy —ahli bedah sekaligus pionir operasi plastik (oplas) di Brasil— meyakinkan Presiden Juscelino Kubitschek bahwa kecantikan sama pentingnya dengan kesehatan.

Pasalnya, tampilan fisik bisa menyebabkan begitu banyak penderitaan psikologis di kalangan masyarakat Brasil, sehingga penyedia layanan medis tidak bisa berpaling dari isu kemanusiaan ini. Gagasan mengenai kecantikan sebagai hak asasi di Brasil kemudian melahirkan subsidi bagi setengah juta oplas setiap tahunnya. Beberapa rumah sakit menyediakan layanan berbiaya rendah, bahkan gratis.

Mulanya, penduduk dengan cacat lahir dan luka bakar yang berhak menerima subsidi. Namun kini hampir semua orang layak mendapatkannya dengan alasan estetika. Alhasil, Brasil menjadi negara dengan jumlah oplas terbesar kedua di dunia.

Sampai 2020, International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) mengungkap sebanyak 1.306.962 oplas telah dilakukan dokter Brasil dari total 10 juta lebih prosedur di dunia.

Operasi yang paling diminati adalah pembesaran payudara, disusul sedot lemak, operasi kelopak mata, operasi hidung atau rhinoplasty, dan tindakan untuk meratakan hingga mengencangkan perut.

Bukan Fenomena Baru

Pembedahan merupakan salah satu metode penyembuhan tertua dalam ilmu kedokteran. Operasi rekonstruktif pun telah dilakukan sejak zaman dulu. Jadi, gagasan soal menyempurnakan diri lewat pembedahan bukanlah fenomena baru. Ia punya sejarah panjang nan kompleks.

Sejarah oplas, salah satunya, dikisahkan oleh Oscar Holland dalam tulisan bertajuk “From Ancient Egypt to Beverly Hills: A Brief History of Plastic Surgery” yang dipublikasikan di CNN Style, Mei 2021.

Holland menjelaskan bahwa kata plastik pada operasi plastik bukanlah arti secara harfiah. Diambil dari Yunani Kuno, kata plastikos berarti ‘membentuk’ atau ‘mencetak’— sama sekali tak berhubungan dengan plastik. Prosedur oplas tertua muncul dalam teks medis Mesir Kuno berjudul ‘Edwin Smith Papyrus’.

“Teks itu dianggap sebagai buku teks bedah trauma awal (dan dinamai menurut ahli Mesir Kuno Amerika yang membelinya tahun 1862), risalah tersebut berisi studi kasus terperinci untuk berbagai cedera dan diagnosis,” tulis Holland.

Selain mengulas perawatan luka dan patah tulang, papirus tersebut juga mengungkapkan perbaikan yang disarankan untuk cedera hidung: memanipulasi hidung ke posisi yang diinginkan sebelum menggunakan pelat kayu, serat kain, penyeka, dan sumbat linen sebagai penahan.

Sekitar tahun 600 SM, India juga memulai prosedur operasi untuk kecantikan yang tak beda dengan rhinoplasty kosmetik modern. Teknik cangkok kulit yang sangat canggih diuraikan dalam risalah tentang pengobatan dan pembedahan Sushruta Samhita yang ditulis oleh Maharishi Shushrut—bapak bedah plastik India.

Teknik Sushruta melibatkan pembuatan hidung baru menggunakan kulit dari tempat lain di wajah pasien. Justin Yousef, ahli bedah di Rumah Sakit Royal Prince Alfred Sydney, menulis dalam jurnal “Plastic Surgery in Antiquity: An Examination of Ancient Documents” (2021), bahwa ada dua aliran pemikiran soal operasi plastik teknik Sushruta ini.

“Ada dua aliran pemikiran. Kulit itu berasal entah dari dahi atau pipi. Tapi pada dasarnya dia mengangkat kulit dan lemak di bawahnya, sebelum memindahkannya ke area hidung," tulis Justin.

Operasi rekonstruksi ini juga ada di banyak tempat lain, dan sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Holland menambahkan bahwa perbaikan bibir sumbing pertama, diyakini sudah dilakukan di Tiongkok sejak abad ke 4. Sedangkan di masa Romawi Kuno, ensiklopedis Aulus Cornelius Celsus mendokumentasikan prosedur pengangkatan kelebihan kulit di sekitar mata pasien melalui pembedahan.

Infografik HL TREN KECANTIKAN KOREA
Infografik HL TREN KECANTIKAN KOREA


Teka-teki Cantik

Jauh setelahnya, di masa kini, oplas masih konsisten memiliki peminat yang mendambakan “kelahiran baru” dengan penampilan yang lebih baik. Namun topik ini juga tak henti memancing perdebatan di ranah publik.

Dua tahun lalu, selebgram Dara Arafah, melakukan rhinoplasty yang telah diimpikan sejak remaja lantaran tak percaya diri dengan bentuk hidungnya. “(…) Dari SMP gue selalu bilang ke orangtua gue kalau gue udah mampu dan punya uang sendiri gue mau rhinoplasty, lo bayangin gue udah minta izin dari gue SMP dari masih menghayal-hayal,” tulisnya di Instagram Stories @daraarafah.

Dara yang rela merogoh kocek ratusan juta rupiah demi ditangani langsung oleh dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE., yang lebih dikenal dengan panggilan Tompi, justru mengalami perundungan. Keputusannya itu (masih) dianggap tabu oleh sebagian orang. Ada pula yang menilai ia tak bersyukur, sampai soal oplasnya yang dicap gagal karena hasil tak natural.

Alasan kecantikan bukan satu-satunya. Juara MasterChef Indonesia S3 William Gozali mengaku dirinya dan sang istri, Maria Karina, sebagai “pasangan op”. Maria melakukan breast augmentation atau pembesaran payudara, alasannya: “(…) demi kesejahteraan suami-istri dan berdamai dengan diri sendiri.”

Sementara itu, Willgoz, panggilan akrab Gozali, belum lama ini melakukan operasi hidung dan kelopak mata (eyelid) untuk mendukung pekerjaan sekaligus membuat napasnya lebih lega.

“Selain fungsi sama estetika, ya gw pengen tampil beda aja. As long as gak rugiin orang lain juga," tulisnya.

Keduanya tak segan membagikan momen sebelum dan sesudah tindakan di akun Instagram masing-masing, @willgoz dan @mariakarinaa, lengkap dengan perkembangan dari hari ke hari. Tak sedikit figur publik—artis, selebgram, influencer, atau apa pun sebutannya—melakukan hal serupa, seperti ada kepuasan yang terselip di tiap unggahan.

Sejak September 2019, sebenarnya Instagram telah membatasi konten yang dianggap membawa pengaruh buruk, termasuk soal bedah plastik. Kalaupun tak dihapus atau diblokir, unggahan tak ada di kolom explore sehingga sulit ditemukan. Ini karena pengaruh media sosial dianggap jadi penyebab meningkatnya tren bedah plastik di kalangan remaja.

Michelle Hendra, pemilik akun Instagram @michimomo, yang juga menceritakan pengalaman operasi hidung lewat Youtube (2019) sempat berpesan, “Aku bukannya mau meng-encourage kalian semua untuk operasi tiba-tiba, tapi aku tahu kalo semua orang punya insecurity masing-masing dan insecurity itu juga akan diatasi oleh setiap orang dengan (cara) masing-masing.”

Ia mengaku telah mempertimbangkan ini selama 5 tahun. “Bukannya aku nggak cinta sama diri aku sendiri. Aku cinta, tapi justru itu karena aku tahu dengan aku mengubah hidung aku sedikit aja, aku bakal menjadi lebih bahagia,” Kata Michelle.

Begitu didamba, sebenarnya apa makna kecantikan atau ketampanan itu sendiri? Pada dasarnya, kecantikan dan ketampanan memang sulit didefinisikan.

Dr. Ivo, dalam wawancaranya di The PMFA Journal (2015) mengatakan bahwa konsep kecantikan berbeda-beda sesuai dengan budaya. Oleh karenanya, ia bisa dipandang dan didekati dari banyak cara, serta tak terbatas pada fisik semata.

“(Namun) saya merasa hari ini ada gagasan untuk memaksakan konsep kecantikan satu budaya ke budaya lain. Kecantikan telah dimanipulasi oleh pemasaran. Menurut saya, seseorang dapat menjadi pendek dan tinggi, tetapi harmonis dalam berbagai cara. (…) Kamu tak perlu mengubah biotipe-mu untuk menjadi cantik. Kamu dapat membidik tampilan yang harmonis dengan biotipe-mu. Akhirnya, kecantikan adalah perasaan sejahtera,” tutupnya.

Kalau benar kecantikan adalah perasaan sejahtera—merujuk pada keadaan yang baik, senang, atau hidup tenang-nyaman-damai—maka tentu ada lebih dari satu jalan untuk mencapai perasaan itu. Kita bebas memilih lewat jalan yang mana. Seperti yang dibilang oleh Michelle.

“Aku berhak melakukan apa yang aku inginkan untuk tubuhku, begitu juga denganmu.”

Baca juga artikel terkait OPERASI PLASTIK atau tulisan menarik lainnya Yemima Lintang
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Yemima Lintang
Editor: Nuran Wibisono

DarkLight