Opera Saidjah-Adinda: Kolaborasi Musik Klasik dan Beluk Banten

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 14 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Untuk pertama kalinya kisah Saidjah-Adinda diangkat menjadi opera dan digelar di “kampung halamannya”, Lebak.
tirto.id - Iring-iringan jenazah memecah keramaian halaman Museum Multatuli, malam itu. Di belakang keranda, beberapa orang bertudung tampak mengikutinya. Masing-masing menggenggam pelita yang redup. Di baris paling belakang, seekor kerbau dan pawangnya berjalan sama tertunduk.

Kemuraman lantas menguar dari lengking suara tukang naekeun—yang biasa disaksikan dalam kesenian beluk Sunda. Tak ada syair sebagaimana biasa beluk dibawakan. Hanya ornamen suara meliuk-liuk dengan nada muram yang panjang dan kemudian hening.

Ketika panggung mulai terang, denting piano membuka fragmen kisah Saidjah dan ayahnya. Lalu datanglah serdadu Belanda mengusik mereka. Saidjah hanya bisa lari, sementara ayahnya tertangkap. Berikutnya adalah adegan pergumulan antara sang ayah dan serdadu Belanda ditingkahi musik bertempo cepat yang menegangkan. Musik memelan seiring dengan napas ayah Saidjah yang mulai tipis dan benar-benar berhenti ketika ia tumbang.

Panggung kembali terang kala Saidjah—diperankan penyanyi tenor Widhawan Aryo Pradhita—naik ke panggung beriringan dengan Adinda—diperankan penyanyi soprano Mariska Setiawan. Paduan musik bernada melankolis dari paduan piano, flute, dan cello mengiringi fragmen perpisahan Saidjah dan Adinda ini.

Saidjah hendak merantau ke Betawi mencari bekal untuk menikahi Adinda. Mereka mungkin tak harus berpisah jika saja kerbau Saidjah tak dirampas dan ayahnya masih hidup. Di momen itu, kedua muda-mudi ini saling mengikat janji setia.

“Bila aku pulang, aku akan berseru dari jauh.”

“Siapa akan mendengarmu jika kami sedang menumbuk padi di desa?”

“Aku mendapat pikiran yang lebih baik... tunggulah aku di hutan jati, di bawah ketapang di mana kau memberiku kembang melati,” pinta Saidjah.

“Tapi, Saidjah, bagaimana aku tahu bila aku harus pergi menunggumu di bawah ketapang?”

“Hitunglah jumlah bulan. Aku akan pergi tiga kali dua belas bulan, ...bulan ini tidak terhitung. Adinda, buatlah garis pada lesungmu pada tiap bulan baru. Sesudah cukup tiga kali dua belas garis, sehari sesudah itu aku akan datang di bawah ketapang. Berjanjilah bahwa kau akan menungguku di sana.”

“Ya, Saidjah, aku akan menunggu di bawah ketapang di hutan jati jika kau kembali.”

Adinda lantas memberikan ikat kepala batik buatannya kepada Saidjah sebagai tanda mata. Keduanya lalu saling berpandangan, menjauh, dan berpaling. Sebuah puisi yang dicuplik dari novel Max Havelaar menjadi penutup fragmen ini.

Fragmen akhir kisah ini adalah pertemuan kembali Saidjah dan Adinda usai tiga tahun berpisah. Pertemuan bukan lagi di Lebak, tetapi Lampung. Juga bukan dalam keadaan bahagia sebagaimana harapan mereka. Saidjah bertemu Adinda yang sedang sekarat dengan keris menancap di perutnya.

“Begini jadinya semua kita mendapat giliran. Tanah dirampas, kerbau diambil, pada akhirnya jiwaku mereka yang mencabut,” ratap Saidjah.

Tak ada yang tersisa baginya selain dendam dan kemarahan. Ditingkahi musik bertempo cepat yang penuh nuansa kemarahan, Saidjah menyongsong serdadu Belanda yang membunuh Adinda. Sebuah tembakan mengakhiri napasnya kemudian.

Tepat ketika Saidjah rebah, liukan suara beluk menguarkan kembali atmosfer suram. Kali ini lebih panjang dan berlarat-larat.

Opera Kolaborasi

Bagi Bonnie Triyana, salah satu penggagas Festival Seni Multatuli 2018, menghadirkan pentas opera di Lebak laiknya mimpi yang jadi kenyataan. Masyarakat Lebak barangkali akrab dengan bentuk-bentuk seni modern seperti band atau teater. Tetapi opera adalah sesuatu yang nisbi asing di sini.

Ide menggelar opera di Lebak pun awalnya adalah keisengan yang diseriusi. Usai peresmian Museum Multatuli pada Februari silam, Bonnie ngopi bersama pematung Dolorosa Sinaga dan suaminya, Arjuna. Salah satu obrolan mereka adalah bagaimana meramaikan museum baru itu. Tiba-tiba saja Dolorosa melontarkan ide, “Yuk, kita bikin opera!”

Selanjutnya adalah mencari seniman musik klasik yang mau diajak menggelar opera di kota kecil itu. Dolorosa mengusulkan untuk mengajak musikus klasik Ananda Sukarlan. Bonnie pun membawa ide itu kepada Ananda tak lama setelah itu.

“Ide Opera Saidjah-Adinda itu dari saya karena dari dulu udah baca dan suka banget ceritanya. Saya pikir itu yang paling komplit, paling dramatik, dan paling bisa mencerminkan idenya Multatuli secara jelas,” kata Ananda kepada Tirto di sela-sela latihan opera.

Infografik Opera saidjah adinda


Namun, untuk Opera Saidjah-Adinda yang digelar di Museum Multatuli kemarin, Sabtu (8/9/2018), bukanlah opera utuh. Karena keterbatasan waktu, kondisi cuaca, dan peralatan segala sesuatu yang ideal sementara harus masuk laci. Prioritas utama Ananda adalah memperkenalkan opera ke masyarakat Lebak.

“Idealnya, opera itu sejam atau satu setengah jam. Yang sekarang ini cuma 35-40 menit. Saya ambil dua adegan saja. Tapi tetap saja untuk pemeran Saidjah dan Adindanya adalah penyanyi opera yang terbaik. Ada Mariska Setiawan dan Widhawan Aryo Pradhita,” ungkap pendiri Yayasan Musik Sastra Indonesia itu.

Dua adegan yang akan dipentaskan itu adalah momen paling dramatis dari kisah Saidjah-Adinda. Menurut Ananda, kisah ini sebenarnya tak kalah kuat dengan kisah Romeo-Juliet karya Shakespeare. Bahkan lebih kuat, karena adanya konteks kolonialisme. Untuk menunjukkan konteks itu satu adegan ayah Saidjah ditangkap dan disiksa serdadu Belanda ditaruh pada bagian awal opera.

Ananda dan Bonnie berencana melanjutkan opera ini menjadi opera utuh pada 2020 mendatang. Itu bertepatan dengan peringatan 200 tahun Multatuli. Ananda ingin mengeksplorasi lebih dalam kisah pilu yang terdapat dalam novel Max Havelaar bab 17 itu.

Ambisi lainnya adalah menyajikan kolaborasi musik klasik Barat dan seni tradisi beluk yang padu. Ananda tak ingin sekadar seni beluk itu jadi sekadar tempelan. Menurutnya, sudah selayaknya seni beluk juga dikenal khalayak lebih luas, tak hanya terbatas di wilayah berbahasa Sunda.

Keinginan Ananda itu klop benar dengan niatan utama panitia FSM 2018. Menurut Bonnie Triyana, kolaborasi memang menjadi kata kunci festival ini.

“Jadi, seniman Banten enggak cuma jadi panitia saja. Ananda Sukarlan, misalnya, di sini nanti akan tampil bareng seniman beluk. Kesenian beluk terangkat, Ananda pun punya khazanah karya baru,” kata Bonnie.

Baca juga artikel terkait MUSIK KLASIK atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan