Opera Gayatri Karya Mhyajo Suguhkan Kisah Klasik Nusantara

Penulis: Zulkifli Songyanan, tirto.id - 13 Okt 2022 16:15 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Opera Majapahit: Gayatri Sang Sri Rajapatni karya Mhyajo sukses digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 8 Oktober 2022.
tirto.id -
Opera Majapahit: Gayatri Sang Sri Rajapatni karya Mhyajo sukses digelar di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (8/10/2022).

Opera ini mengisahkan tentang Putri Gayatri, trah Singhasari yang menurunkan raja termasyhur Majapahit, di mana ceritanya diadaptasi dari naskah klasik kakawin Negarakertagama karya Mpu Prapanca.

Dikisahkan ayah Gayatri, Kertanegara, adalah raja terakhir Singhasari. Ia meninggal pada 1292 akibat meletusnya pemberontakan Jayakatwang.


Pada bagian awal opera Gayatri Sang Sri Rajapatni, Mhyajo menampilkan adegan pemberontakan Jayakatwang yang menandai runtuhnya Kerajaan Singhasari.

Setelah Singhasari runtuh, ambisi Jayakatwang untuk menegakkan kembali kejayaan Kerajaan Kadiri tidak pernah kesampaian.

Sejarah mencatat, pada 1222, raja terakhir Kadiri Kertajaya meninggal dibunuh Ken Arok, pendiri Singhasari.

Ketika Kadiri hendak didirikan lagi lewat Jayakatwang, 71 tahun kemudian, nasib yang sama terulang. Jayakatwang meninggal dalam serangan balas dendam yang dipimpin Raden Wijaya, suami Gayatri, raja pertama Majapahit.

Dalam serangan ini, Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol.

Kelak, lewat sang cucu Hayam Wuruk dan sang murid Gadjah Mada, Gayatri yang memilih hidup sebagai biksuni akhirnya dapat mewujudkan impian masa mudanya (juga cita-cita ayahnya) untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara.

Dengan latar waktu abad ke-13, hampir seluruh narasi dan lagu dalam pementasan opera disajikan dalam bahasa Jawa Kuna.


Sementara pada sisi kanan dan kiri panggung, terdapat dua layar besar yang menampilkan terjemahan.

Selain itu, tampilan kostum, koreografi, dan musik pada penampilan kehidupan Gayatri semakin membuat pementasan ini terlihat jadi lebih estetik.

Sang penata kostum RM. Radinindra Nayaka Anilasutra menyebutkan, ia dan timnya terinspirasi oleh arca-arca dari kerajaan Majapahit dan Singhasari dalam menentukan desain, bahan, hingga pembuatan kain dan motif.

"Jadi, semua pemain mengenakan kain monokrom abu-abu, hanya Gayatri yang mengenakan kain warna emas," ujar Radinindra.

Dalam hal urusan musik, R. Franki S. Notosudirdjo alias Franki Raden membuat komposisi musik aria yang sepenuhnya dihasilkan lewat alat musik tradisional Nusantara.

Alunan gamelan, tifa, rebab, hingga karinding dari Indonesia National Orchestra membuat pertunjukan ini tidak hanya enak dilihat, tapi juga sedap didengar hingga opera berjalan selama dua jam.

Hal ini lantaran nuansa etniknya yang ritmis tersaji pada beberapa bagian, sehingga masih terasa suasana magis, yang membuat pertunjukan jadi tidak membosankan.

"Saya biasa menggunakan alat tradisi, orkestra saya juga menggunakan alat tradisi, tapi membuat aria dalam musik tradisi merupakan sebuah tantangan yang tidak main-main. Mhyajo memberi ide yang membuat saya bekerja lebih serius," ungkap Franki.

Opera bergerak lewat cerita yang dituturkan karakter Sanchita. Sepanjang pertunjukan, ia duduk di set pucuk tangga di sisi kiri panggung belakang, menghadap sisi kanan.

Temaram lampu yang menyorot sosoknya dari samping serta kain putih yang membalut tubuhnya membikin karakter ini terlihat kharismatik dari kursi penonton. Dengan sebelah tangan memegang semacam gunungan, ia tak ubahnya seorang dalang.

Opera Majapahit Gayatri Sang Sri Rajapatni dimainkan oleh 19 penari muda yang berasal dari berbagai daerah, antara lain Solo, Gianyar, Jambi, Banyumas, Yogyakarta, dan Jakarta.

Menurut Mhyajo, semua pelakon ini adalah sosok-sosok baru di dunia pentas tanah air, bahkan tak seorang pun dari mereka pernah mencecap panggung sekaliber Teater Besar TIM.

"Pada tahun 2020, lima belas pelakon dipilih lewat seleksi daring kemudian diberikan kesempatan untuk berkembang dan percaya diri. Harapannya, setelah mereka selesai dengan garapan ini mereka dapat mengembangkan sesuatu di daerahnya masing-masing," ungkap Mhyajo.

Sebelum dipentaskan di Teater Besar, Opera Majapahit Gayatri Sang Sri Rajapatni pernah ditampilkan secara daring di Edinburgh Festival Fringe 2021 dan mendapatkan ulasan yang baik.

Pertunjukan yang prosesnya berlangsung lima tahun ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lewat program hibah Fasilitasi Bantuan Kebudayaan (FBK) 2022.


Baca juga artikel terkait OPERA MAJAPAHIT GAYATRI atau tulisan menarik lainnya Zulkifli Songyanan
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: Zulkifli Songyanan
Editor: Dhita Koesno

DarkLight