Misbar

Once Upon a Time in Hollywood: Pertanda Tarantino Makin Tua?

Brad Pitt and Leonardo DiCaprio in Once Upon a Time in Hollywood (2019). foto/imdb
Oleh: Irma Garnesia - 1 September 2019
Dibaca Normal 3 menit
Once Upon a Time in Hollywood lebih mirip Jackie Brown ketimbang film-film Tarantino lainnya.
tirto.id - Plot non-linear, satir, musik dan adegan tribut untuk film-film Hollywood dekade 1960 hingga 1980-an, banjir darah, dan dialog ngalor-ngidul. Kira-kira demikianlah deskripsi hampir seluruh film Quentin Tarantino mulai dari Reservoir Dogs (1992), Pulp Fiction (1994), Kill Bill Vol. 1 (2003), Kill Bill Vol. 2 (2004), hingga Inglourious Basterds (2009).

Kali ini Tarantino menyuguhkan Once Upon a Time in Hollywood (selanjutnya Once Upon a Time) untuk mengenang masterpiece dari Sergio Leone Once Upon a Time in the West (1968). Mengambil latar Los Angeles pada 1969 dan menggambarkan industri perfilman yang pada masa itu tengah menggandrungi spaghetti western, yakni film-film koboi bikinan Italia.

Fokus Once Upon a Time adalah seorang aktor yang mulai tak laku karena beranjak tua, yakni Rick Dalton (Leonardo DiCaprio) dan pemeran penggantinya (stunt double) Cliff Booth (Brad Pitt). Dalton dikenal lewat performanya yang apik dalam Bounty Law, namun ia sadar masa-masa keemasannya akan segera habis. Ia kemudian bertemu seorang produser Hollywood bernama Marvin Schwarz (Al Pacino) yang menyarankannya hijrah ke Italia dan memulai karier baru di jalur genre spaghetti western.

Jika Dalton adalah aktor yang insecure karena kariernya hampir mati, maka Booth adalah kebalikannya. Ia tidak hanya jadi pemeran pengganti, namun juga sahabat baik Dalton. Pembawaannya santai dan banyak menghabiskan waktu di balik kemudi Cadillac de Ville 1966 milik Dalton. Booth juga tak ambil pusing dengan banyak hal, kecuali jika ada yang mengganggu Dalton atau anjing peliharaannya. Hampir setiap hari ia habiskan mengantar Dalton ke lokasi syuting atau membawa anjingnya jalan-jalan.


Selain menceritakan Dalton dan Booth, Once Upon a Time juga mengangkat kisah nyata sutradara Roman Polanski (Rafal Zawierucha) beserta mendiang istrinya, Sharon Tate (Margot Robbie). Di Once Upon a Time Tate belum lama menikah dengan produser Polanski dan baru memulai karir sebagai aktris.

Jika dibandingkan dengan Reservoir Dogs, Pulp Fiction, atau Inglorious Basterds, penggemar militan Tarantino nampaknya bakal bilang Once Upon a Time kurang Tarantinoesque—itu pun jika Jackie Brown (1997) dikesampingkan. Film ini memang tidak banyak memuat adegan berdarah-darah yang vulgar, namun bukannya tak ada. Kemudian, plot Once Upon a Time juga seperti mesin yang lambat panas; sepanjang 161 menit, benang merah cerita antara Rick dan Tate baru terlihat menjelang akhir cerita.

Selain suasana film yang lebih santai, Once Upon a Time tetap menggunakan formula-formula khas Tarantino. Misalnya kisah Sharon Tate yang diadaptasi secara non-linear, penggambaran suasana glamor Hollywood era 1960-an, dan rujukan ke budaya populer khususnya tradisi film kelas B. Salah satunya adegan dari film Dalton, The 14 Fists of McCluskey, di mana karakternya membakar Nazi dengan penyembur api, atau The F.B.I.

Tentu saja tak pernah ada film berjudul The 14 Fists of McCluskey—yang sebetulnya mengacu pada salah satu karakter di Inglourious Basterds. Demikian pula adegan tembak wajah The F.B.I yang mengacu ke Pulp Fiction. Di satu sisi, seperti itulah cara Tarantino menunjukkan kecintaannya pada segala hal norak dari film-film kelas B. Tapi, di sisi lain, dengan membentuk semesta rujukan dari film-film lawasnya, apakah ini tanda Tarantino sudah makin ‘asik sendiri’?

DiCaprio sendiri adalah pilihan yang tepat untuk memerankan Dalton. Ia adalah pesona klasik Hollywood yang imajinya mulai digantikan oleh aktor-aktor baru. Kegelisahan itu dengan mudah ia tampilkan di Once Upon a Time lewat Dalton yang gelagapan, merasa inferior begitu berhadapan dengan aktor yang lebih muda, depresi ketika lupa dialog saat syuting, dan sibuk mencari ‘pekerjaan’ baru.

Sejak Kapan Sekte Manson Jadi Hippie pada Umumnya?

Reporter The New York Times Farah Nayeri mengkritik representasi Sharon Tate yang minim dialog, berlawanan dengan film-film Tarantino lainnya yang hobi ngalor-ngidul. Kritik itu mungkin benar jika kuantitas dialog jadi satu-satunya alat ukur penting-tidaknya representasi perempuan dalam sebuah film.

Menurut saya, Tarantino tidak serampangan memasukkan karakter Sharon Tate ke dalam filmnya. Karakter ini muncul sejak awal dan hidup berdampingan dengan Dalton dan Cliff. Awalnya kita mengenal Tate hanya lewat sejumput narasi bahwa ia baru menikah dengan Roman Polanski dan sedang mengandung. Namun, karakternya terus berkembang dan Margot Robbie diberi ruang untuk menghidupkan Tate. Misalnya ketika Tate membeli buku suaminya, memberi tumpangan mobil kepada kaum hippie, atau ketika menikmati film yang dibintanginya di bioskop.



Sutradara-aktivis Boots Riley juga menunjuk kegagalan Tarantino menggambarkan sekte Keluarga Manson sebagai kelompok teroris supremasi kulit putih alih-alih sebagai hippie belaka.

Kritik Riley memang tak berlebihan di saat wabah ideologi supremasi kulit putih telah sampai di White House. Banyak orang lupa bahwa dekade 1960-an tak hanya milik hippie atau anak-anak muda sayap kiri, tapi juga awal dari konsolidasi gerakan sayap kanan dan supremasi kulit putih. Kaum yang disebut terakhir ini bangkit merespons kebijakan de-segregasi lingkungan kulit putih dan kulit hitam di negara-negara bagian selatan AS yang dikenal rasis.


Lahir dari rahim ideologi konservatisme AS, kaum supremasi kulit putih belajar banyak dari proses radikalisasi dan metode propaganda kelompok-kelompok sayap kiri dan hippie (sebagaimana yang dilakukan sekte Manson). Spesies terbaru dari keluarga besar ini adalah gerakan alt-right dengan Steve Bannon, mantan penasihat Donald Trump, sebagai poster boy-nya. Kira-kira bisakah Tarantino menyebut Bannon sebagai orang konservatif dari zaman Eisenhower?

Tarantino mungkin punya jawaban template seperti yang pernah ia lontarkan kepada para pengkritik Pulp Fiction saat menerima penghargaan di Cannes 1994: “Aku bikin film bukan untuk menyatukan orang. Aku bikin film untuk memisahkan orang.” Para penggemarnya pun bisa tetap menyanjungnya dan mengatakan, “Tarantino mah bebas!”

Inglourious Basterds (2009) memutar musik pengiring operasi militer dari Battle of Algiers, mencuri shot film John Ford, memperagakan ulang kebrutalan Sam Peckinpah di The Wild Bunch, lalu menghabisi Nazi dengan heroiknya. Sepuluh tahun kemudian, ia membuat film yang memang tidak buruk, tapi makin membuatnya terlihat tua dengan mengutip diri sendiri.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight