Menuju konten utama

Olimpiade, Seks, dan Kondom yang Tercecer di Brazil

"Lupakan sejenak pertandingan esok hari, bila engkau sedang tegangan tinggi. Jika engkau tak ingin infeksi, baiknya pakailah alat proteksi di alatmu yang seksi."  Ungkapan itu agaknya pas untuk menggambarkan Olimpiade Brazil tahun ini. Bagaimana ceritanya?

Olimpiade, Seks, dan Kondom yang Tercecer di Brazil
Seniman jalanan menari di pantai Kopakabana di Rio de Janeiro, kurang dari dua minggu jelang Olimpiade Rio 2016. [Antara foto/Reuters/Stoyan Nenov]

tirto.id - Dua pekan ini akan menjadi hari-hari yang sangat “panas” di Brazil. Di gelanggang olahraga, para atlet berlomba untuk menjadi yang tercepat, tertinggi, dan terkuat di seluruh dunia. Persaingannya panas, lebih panas dari cuaca di negara itu yang suhunya mencapai 28 derajat celcius di siang hari.

Tapi ada lagi yang lebih panas di luar arena olahraga. Arena syahwat di sana jauh lebih panas. Sebelum Olimpiade Rio 2016 dihelat, panitia telah membagikan sekitar 450 ribu kondom kepada para atlet. Tidak hanya itu, ada sekitar 100 ribu kondom perempuan dan 175 ribu bungkus pelumas dibagikan panitia, demikian sebut koran Brasil Folha de Sao Paulo seperti dikutip Quartz.

Jika kondom-kondom itu dibagi rata, maka tiap atlet mendapat jatah 42 kondom untuk digunakan selama dua pekan. Bila dihitung lagi, maka dalam sehari tiap atlet bisa menggunakan karet pengaman itu untuk tiga kali “pertandingan”. Cukup?

Jumlah kondom yang dibagikan ke atlet pada Olimpiade kali ini jauh lebih banyak dibanding dua Olimpiade sebelumnya. Pada 2014 lalu ketika Olimpiade musim dingin dihelat di Sochi, Rusia, kondom yang dibagikan “hanya” 100 ribu. Sedangkan pada Olimpiade London 2012, penyelenggara hanya membagikan 150 ribu kondom, itu pun sudah bikin heboh publik Inggris. Headline Daylimail ketika itu bahkan menulis “Oh, oh, Ohhh-lympics! Sebagai catatan, 150.000 kondom diberikan kepada sejumlah atlet. Apakah kemudian Olimpiade London menjadi ajang paling jorok yang pernah ada?”

Publik Inggris memang gampang heboh. Padahal pemberian kondom gratis kepada para atlet sudah dilakukan sejak Olimpiade Barcelona 1992. Belakangan pemberian kondom ini menjadi tradisi di tiap olimpiade. Bagi-bagi kondom ini juga masuk dalam mata anggaran yang dicantumkan sebelum olahraga terakbar itu digelar.

Tujuan bagi-bagi kondom itu bukan sekadar memfasilitasi para atlet untuk bisa indehoy tapi terutama untuk mencegah penularan HIV AIDS. Di Brazil, misinya bertambah satu: negeri itu sedang dilanda wabah wabah Zika. Wabah ini dapat menular melalui “aktifitas intim” itu. Jadi, pemberian kondom dimaksudkan untuk mencegah penyebaran Zika.

Prostitusi di Brazil

Tapi di Brazil persoalanya tak cuma Zika. Di negeri samba itu, pria dewasa dapat melakukan transaksi seksual secara legal. Pemerintah setempat tak melarang. Prostitusi bukanlah kejahatan di Brazil dan telah resmi diakui oleh Departemen Tenaga Kerja sejak 2012. Namun, usaha pembukaan rumah bordil atau mempekerjakan wanita penjaja seks dilarang. Alhasil para penjaja seks itu bertebaran di jalanan-jalanan dan tempat-tempat wisata di Brazil. Tidak sedikit dari mereka masih berusia anak-anak.

Namun, soal wisata lendir ini, regulasi di Brazil kontradiktif. Biro Demokrasi, HAM dan Buruh Amerika Serikat pada 2010 silam melaporkan pemerintah Brazil tak membuat regulasi khusus tentang sex tourism. Pemerintah menjerat para pelaku berdasarkan berdasarkan tindak pidana lain. Sebagai contoh, undang-undang di Brazil mengharuskan fasilitas kesehatan untuk menghubungi polisi jika menemukan kasus di mana seorang perempuan dirugikan secara fisik, seksual atau psikologis. Itu pun setelah korban memutuskan untuk menuntut. Alhasil, ada banyak celah pada regulasi tersebut untuk bisa dimanfaatkan para pelakunya.

Masih menurut laporan itu, di sisi lain kemiskinan di Brazil juga memicu anak-anak perempuan Brazil turun ke jalanan Brazil menjadi pekerja seksual. Pada 2009 Polisi Federal memerkirakan lebih dari 250 ribu anak terlibat dalam bisnis remang-remang ini.

Regulasi di negara itu menetapkan usia minimum untuk menjadi pekerja seks professional adalah14 tahun. Sementara untuk hukuman perkosaan berkisar antara 8 sampai 15 tahun penjara.

Berkaitan dengan persoalan itu, sebuah penelitian Universitas Brasilia pada 2006 menemukan bahwa sekitar seperempat dari 1.514 tujuan wisata paling ramai di Brazil memiliki pasar komersial seksual aktif yang melibatkan anak-anak dan remaja putri.

Sekarang di saat Olimpiade 2016 digelar, transaksi terlarang itu seperti makin menemukan momentum. “Ada sekitar 3,7 penonton olimpiade terbang ke Brazil,” demikian lapor Daily Star.

Di Rio, tempat Olimpiade dan penginapan atlet berada, ada 41 “rumah sundal” terselubung yang menyediakan daftar, rating, alamat, nomor telepon, biaya dan jika memungkinkan sebuah situs web untuk dijadikan rujukan lelaki hidung belang. Lelaki hidung belang yang tertarik dapat mengeluarkan kocek 750 real Brazil sekitar Rp3 juta untuk merasakan sauna plus plus mewah. Sementara orang-orang dengan anggaran mepet dapat membayar sedikitnya 30 real Brazil atau setara Rp125 ribu untuk kencan selama 10 menit, demikian Daily Star melaporkan.

Adakah atlet yang blusukan untuk mencari wisata lendir? BBC pekan lalu mewartakan seorang petinju Namibia telah ditangkap polisi Brazil atas tuduhan mencoba untuk penyerangan seksual terhadap seorang pembantu di pemukiman Olimpiade Rio de Janeiro Olimpiade.

Perempuan itu menduga Jonas Junius, 22 memaksa dan mencoba menciumnya. Perempuan itu juga menuduh Jonas menawarkan uangnya untuk berhubungan seks. Jonas apes hasratnya tak kesampaian dan salah alamat.

Seksualitas dan Performa Atlet

Di luar, moral perilaku asusilanya yang tidak dibenarkan, tindakan Jonas dari sisi ilmiah bisa dipahami. Saat ini, ada ribuan atlet di Olimpiade di Brasil selama dua minggu ini dalam kondisi bugar, terisolir dan tertekan untuk mengeluarkan kemampuan terbaik. Kondisi itu merupakan saat tepat untuk berhubungan intim.

Enam minggu menjelang Olimpiade Rio, jurnal Frontiers in Physiology, enam peneliti dari akademi-akademi Olahraga di Eropa, melaporkan hasil analisis mereka tentang keterkaitan antara seks dan kinerja atlet berdasarkan sembilan studi terbaik yang dilakukan selama 50 tahun terakhir.

Menurut para peneliti di masa Yunani kuno, tempat olimpiade pertama kali digelar, memang ada kepercayaan lama yang meyakini bahwa seks dan olahraga profesional seharusnya tidak dicampuradukan. Mereka percaya bahwa air mani mengandung energi ilahi dan bahwa kekuatan manusia dapat ditingkatkan dengan ejakulasi. Tidak hanya itu aktivitas seksual yang menggunakan energi, menurunkan agresi, sedangkan frustrasi seksual akan meningkat. Karena itu olahraga seharusnya menjadi janji murni, sebuah tanda iktikad seorang atlet. Oleh karena itu seyogyanya tenaga seorang atlet disimpan untuk berlaga di gelanggang bukan di tempat “lain”.

Mitos pantang berhubungan seksual sebelum bertanding itu masih dipercaya di kalangan atlet-atlet olahraga-olahraga maskulin seperti sepakbola atau tinju—meskipun dalam kasus Jonas terjadi sebaliknya. Namun, sejauh ilmuwan modern mengetahui, seks hampir tak punya andil yang signifikan untuk melemahkan kinerja seorang atlet.

Mereka berkesimpulan bahwa “para peneliti tidak menemukan pengaruh hubungan seksual pada kekuatan otot dan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam beban kerja fisik atau konsentrasi mental peserta.”

“Satu penelitian mencatat bahwa mungkin ada sedikit perubahan dalam waktu pemulihan, tapi selama hubungan seksual tidak kurang dari dua jam sebelum pertandingan, mungkin akan baik-baik saja,“ kata peneliti.

Jadi, apa yang harus dilakukan para atlet dengan 42 kondom itu? Mereka mungkin akan menggunakannya untuk menjadi yang tertinggi, terkuat, tapi tidak untuk yang tercepat.

Baca juga artikel terkait OLIMPIADE RIO 2016 atau tulisan lainnya dari Agung DH

tirto.id - Kesehatan
Reporter: Agung DH
Penulis: Agung DH
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti