Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan Pekerja Profesional

Olimpiade dan Islam Kaffah

12 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Salah satu foto dari arena Olimpiade 2016 adalah foto pertandingan bola voli pantai antara tim Mesir melawan Jerman. Pemain Mesir Doaa Elghobashy memakai baju lengan panjang, celana panjang, dan penutup kepala, tampak kontras dibanding dengan lawannya di sisi lain, Kira Walkenhorst dari tim Jerman, yang memakai bikini. Elghobashy bisa tampil dengan baju ini setelah ada keputusan di saat-saat akhir yang membolehkan dia memakainya. Cerita di balik layar ini menjadi penting, karena baju seperti itu bukanlah baju yang lazim untuk olah raga bola voli, khususnya di pantai.

Di satu sisi foto ini menggambarkan dunia kita yang beragam. Sebagaimana menjadi keterangan foto tersebut, ini adalah gambar tentang suasana antar budaya. Pakaian adalah budaya, dan sesungguhnya orang-orang di tiap negara berpakaian dengan cara yang berbeda. Olimpiade adalah pertemuan orang dari berbagai negara, otomatis menjadi pertemuan antar budaya pula. Keputusan Federasi Bola Voli Internasional untuk menerima seragam yang tak lazim tadi mewakili semangat olimpiade sebagai wadah keragaman budaya.

Bagi kita yang paham tentang Islam gambar ini lebih dari soal budaya. Baju yang dikenakan Elghobashy itu mewakili sebuah semangat yang disebut dengan Islam kaffah. Apa itu? Yaitu keyakinan bahwa Islam bukan sekedar agama dalam pengertian vertikal-ritual. Islam dipercaya sebagai ajaran yang lengkap, mengatur mulai dari hal-hal kecil seperti cara membersihkan badan dan berpakaian, sampai kepada tatanan negara. Umat Islam harus tetap menjaga syariatnya dalam setiap kesempatan, termasuk saat berolah raga. Pakaian ini mencerminkan semangat tersebut.

Perlu dicatat bahwa semangat Islam kaffah itu sendiri tidak tunggal, melainkan merupakan sebuah spektrum. Foto tadi mewakili suatu titik pada spektrum tadi, bisa kita sebut sebuah titik ekstrim. Pada titik ini orang berprinsip bahwa Islam itu inklusif, ia bisa tampil bersama ajaran dan budaya lain, berinteraksi dan bersinergi. Dari titik ekstrim yang lain, olimpiade dipandang sebagai sebuah kegiatan di luar Islam, tidak mengusung nilai Islam, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai fundamental Islam. Nilai-nilai yang dimaksud tergambar pada busana yang dikenakan oleh Walkenhorst dan rekan-rekan dari tim Jerman.

Di luar kelompok Islam kaffah tadi, ada kelompok lain yang bolehlah kita sebut kelompok sekuler, meski mungkin istilah ini tidak tepat benar. Mereka memandang ajaran Islam itu sebagai tuntunan moral saja. Adapun soal-soal detil teknis hukum dan sebagainya hanya menyangkut pada soal-soal yang terbatas. Sedangkan hal-hal lain sepenuhnya diserahkan kepada manusia untuk memikirkannya.

Bagi orang Islam sekuler, olimpiade adalah sesuatu yang dipandang biasa saja. Tidak ada ciri tertentu yang akan membuat mereka tampak berbeda dari orang-orang lain. Pakaian, misalnya, bagi mereka bukanlah hal yang diatur secara detil oleh Islam, sehingga pakaian mereka akan tampak sama saja dengan atlet lain.

Dari sudut pandang Islam kaffah, atlet berjilbab bisa jadi adalah sebuah paradoks atau inkonsistensi. Status perempuan dalam perspektif ini tidak sesederhana soal menutupi seluruh tubuh dengan kain seperti pemain voli Mesir tadi. Bila dirunut secara teliti, aturan berbusana menurut dalil-dalil sahih jauh lebih ketat dari sekedar baju yang menutupi seluruh permukaan kulit, kecuali muka dan telapak tangan. Baju haruslah longgar, menyamarkan lekuk tubuh, menutupi tonjolan dada, dan seterusnya, sehingga bila semua aturan itu dipatuhi seorang perempuan tidak mungkin akan dapat bermain bola voli. Tidak hanya itu. Perempuan juga tidak diperkenankan tampil di depan laki-laki dengan begitu bebas, apalagi diabadikan dengan kamera dan disiarkan ke seluruh dunia. Memakai baju tadi sekilas seperti sebuah usaha untuk menjaga syariat Islam, tapi sebenarnya tidak.

Terlebih lagi, dari sudut pandang Islam kaffah, mengapa seorang muslimah perlu bertanding di olimpiade? Atau lebih umum lagi, mengapa kaum muslim perlu ikut dalam olimpiade dan meramaikannya? Olimpiade adalah produk kaum pagan, yang dalam sejarah Islam disebut jahiliyah. Mengapa pula kini umat Islam perlu menjadi bagian dari kejahilyahan?

Atlet berjilbab di olimpiade adalah sebuah gambaran kegamangan sebagian wajah umat Islam saat ini. Ada semangat kuat untuk menjalankan Islam seperti yang tertuang dalam teks (Quran dan hadist). Namun juga ada kesadaran bahwa mereka hidup di zaman yang berbeda, situasi yang sangat berbeda dengan situasi saat teks tersebut diperkenalkan. Atau, mereka ingin hidup dengan gaya abad XXI, tapi tetap ingin berpegang pada nilai abad VII. Maka dilakukanlah sejumlah upaya modifikasi dan kompromi. Bagi saya ini konyol, seperti orang naik unta di jalan tol.

Semangat tadi muncul dalam setting yang lebih serius, yaitu soal bunga bank. Meski secara fundamentalnya berbeda dengan praktek rentenir abad VII, banyak pemikir Islam yang mengambil menyamakan bunga bank kini dengan praktek tersebut. Maka mereka mengharamkan bunga bank, karena bunga itu riba. Untuk menghindari riba, maka didirikanlah bank syariah. Konon transaksinya sesuai dengan syariat Islam. Tapi bagaimana dengan uang yang dipakai? Uang itu adalah produk bank sentral yang dikelola dengan sistem berbasis bunga, atau riba. Itu sama saja dengan membuat lumpia dengan kulit yang halal tapi isinya terbuat dari daging babi.

Salah satu dalih yang dipakai untuk membenarkan praktek-praktek ini adalah, lebih baik melaksanakan sebagian daripada tidak sama sekali. Masalahnya, yang sebagian-sebagian itu diklaim sebagai kaffah (menyeluruh). Bagaimana bisa?

Dalam cara pandang lain, atlet berjilbab memberi gambaran pilu, yaitu Islam yang terkooptasi di bawah hegemoni kekuatan lain, entah itu kapitalisme atau sekularisme.


*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.
DarkLight