Menuju konten utama

OJK: Ada Kesenjangan Literasi Keuangan Syariah & Konvensional

Indeks literasi keuangan syariah baru mencapai 9,14 persen dan indeks literasi keuangan konvensional 49,68 persen.

OJK: Ada Kesenjangan Literasi Keuangan Syariah & Konvensional
Pegawai Bank Syariah Indonesia (BSI) Kantor Cabang Mayestik menjelaskan fitur gadai dan cicil emas di BSI Mobile Banking kepada nasabah pemilik toko emas pada kegiatan Grebek Pasar BSI di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan, Rabu (15/12/2012). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/hp.

tirto.id - Kepala Departemen Literasi, Inklusi, dan Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aman Sentosa mengatakan jarak literasi keuangan syariah dan keuangan konvensional perlu terus diperkecil. Dia merinci berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi (SNLKI) yang dilakukan OJK pada 2022, indeks literasi keuangan syariah baru mencapai 9,14 persen, sementara indeks literasi keuangan konvensional 49,68 persen.

“Intinya memang masih ada gap antara literasi keuangan syariah dengan keuangan yang konvensional, tapi ini perlu tetap disyukuri karena meningkat, meski masih jauh dibawah literasi keuangan konvensional,” katanya dikutip dari Antara, Senin (22/6/2023).

Jarak antara indeks literasi keuangan syariah dengan keuangan konvensional perlu terus diperkecil. Salah satunya dengan upaya-upaya meningkatkan literasi keuangan syariah, termasuk dengan memberikan informasi terkait produk keuangan syariah pada siswa dan mahasiswa.

Lebih lanjut, dia mengatakan literasi keuangan syariah rendah dapat menyebabkan masyarakat mudah ditipu oleh oknum yang menyelenggarakan jasa keuangan ilegal hingga kehilangan kepercayaan terhadap lembaga jasa keuangan.

“Literasi keuangan yang rendah merupakan pangkal dari tingginya ketidakpuasan dan pengaduan masyarakat pada OJK terkait layanan jasa keuangan, termasuk pengaduan terkait investasi bodong, pinjol (pinjaman online) ilegal,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Astera Primanto Bhakti mengatakan, pemahaman masyarakat Indonesia terhadap ekonomi syariah masih belum cukup baik. Walaupun, terus meningkat setiap tahun.

“Selalu ada dikotomi konvensional dan syariah di tengah masyarakat, padahal di kehidupan sehari-hari banyak kegiatan terkait ekonomi syariah yang dilakukan masyarakat, misalnya terkait jual beli yang selalu diawali akad,” katanya.

Untuk meningkatkan literasi keuangan syariah terutama di kalangan siswa dan mahasiswa, OJK menyelenggarakan Indonesia Sharia Finansial Olympiad (ISFO) yang merupakan lomba cerdas cermat tentang ekonomi dan keuangan syariah.

Perlombaan tersebut dimenangkan oleh tiga juara dari tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan perguruan tinggi yang diharapkan oleh Astera untuk dapat terus menyebarkan informasi tentang ekonomi dan keuangan syariah.

Baca juga artikel terkait KEUANGAN SYARIAH

tirto.id - Bisnis
Sumber: Antara
Editor: Intan Umbari Prihatin