Office 2019, Taktik Microsoft Kembali ke Era Jadul

Microsoft Office 2019. FOTO/Microsoft
Oleh: Ahmad Zaenudin - 26 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Microsoft merilis Office 2019 seharga $249,99, yang menerapkan sistem pembelian sekali bayar, berlawanan dengan skema varian Office mutakhir.
Michael Silver, analis firma riset Gartner, satu kali pernah berujar “kompetitor terbesar Microsoft Office bukanlah OpenOffice atau Google Drive, tetapi orang-orang lawas yang gagap teknologi baru.”

Microsoft Office berjaya bukan karena tidak ada pilihan lebih baik dan lebih murah, melainkan karena set aplikasi tersebut telah ada sejak lama dan populer. Microsoft bukan hanya bertarung melawan OpenOffice atau Google Drive, tetapi dengan versi-versi lawas Office lainnya.

Pada 24 September 2018, ucapan Silver terbukti. Perusahaan yang didirikan Bill Gates dan Paul Allen tersebut merilis versi baru Office, Office 2019. Apa yang ditawarkan Office 2019 tak ada beda dibandingkan Office 365 ProPlus, Officer varian cloud, yang bisa tersinkronisasi via internet.

Office 365 ProPlus adalah varian “internet-based” dan “subscription-based,” Office 2019 merupakan versi offline dengan teknis penjualan sekali bayar, gaya lama Microsoft dalam membuat dan menjual produk-produknya.

Dilansir laman resmi Microsoft, keputusan meng-offline-kan Office 365 ProPlus dilakukan karena “terdapat beberapa pelanggan yang belum siap dengan cloud dan sistem berlangganan.” Office versi cloud dijual seharga $8,25 per bulan, Office 2019 akan dijual seharga $249,99 untuk sekali bayar.

Office 2019 tak ada beda dengan Office 365 ProPlus, tapi ada beberapa kebaruan yang diberikan Microsoft pada Office 2019. Beberapa fitur yang baru di Office 2019 antara lain: Morph dan Zoom berkonsep sinematik bagi PowerPoint 2019, fitur analisis data terbaru di Excel 2019, dan fasilitas Learning Tools yang memudahkan pengguna membuat konten berbasis teks di Word 2019.


Perubahan


Microsoft Office merupakan paket aplikasi komputer buatan Microsoft yang ditujukan untuk tugas-tugas perkantoran. Diperkenalkan pertama kali oleh Bill Gates pada 1 Agustus 1988 dan meluncur secara resmi pada 19 November 1990.

Versi awal Microsoft Office memuat tiga aplikasi: Microsoft Word, Microsoft Excel, dan Microsoft PowerPoint. Setelah itu berkembang dengan berbagai aplikasi baru seperti Microsoft Access, Microsoft Outlook, hingga Microsoft OneNote.


Klint Finley, jurnalis Wired, dalam salah satu tulisannya menyebut Office menggenggam 90 persen pangsa pasar aplikasi bisnis perkantoran. Menyumbang setidaknya $20 miliar pendapatan pada Microsoft saban tahunnya.

Dalam laporan keuangan kuartal III-2018, “Productivity Group,” yang menaungi Office, menyumbang $9 miliar dari total $26,8 miliar pendapatan Microsoft. Melansir Ars Technica, sumbangan terbesar dari “Productivity Group” dilakukan oleh LinkedIn, media sosial profesional yang dimiliki Microsoft, dan Office 365, yang kini memiliki 30,6 juta pelanggan bulanan.

Sementara itu, Office "tradisional" yang offline dan sekali bayar mengalami penurunan kontribusi. Peluncuran Office 2019 dipercaya dilakukan untuk lebih meningkatkan kontribusi Office "tradisional".




Pendapatan “Productivity Group” hampir serupa dengan lini “Personal Computing” Microsoft. Lini “Personal Computing” merupakan lini yang menaungi Windows, sistem operasi sejuta umat milik Microsoft. “Personal Computing” menyumbang pendapatan $9,9 miliar.

Perusahaan yang kini dipimpin Satya Nadella itu tak berhenti mengembangkan Office karena merupakan salah satu lini bisnis terkuat dari Microsoft. Pada 28 Juni 2011, bagian dari merespons perkembangan teknologi cloud, Microsoft meluncurkan Office 365.

Chris Pratley, General Manager Microsoft Office Labs, pada Wired, mengatakan Office berbasis cloud tersebut dilahirkan “untuk dunia yang baru, yang ketika pengguna sign-up, file dan data hidup di alam cloud, alam internet. Tersinkronisasi dengan segala perangkat yang dimiliki.”

Selanjutnya, atas perkembangan perangkat mobile, seperti smartphone dan tablet, pada 14 Juni 2013 Office Mobile untuk iPhone diluncurkan. Berselang sebulan, pada 31 Juli 2013, Office Mobile bagi Android meluncur. Hampir setahun kemudian, Office kemudian meluncur di iPad.

Meskipun menghadirkan Office bagi perangkat berbasis iOS dan Android terlihat merupakan strategi bisnis biasa, Ryan Tate, jurnalis Wired, melihatnya berbeda. Dalam tulisannya, Tate mengatakan “Microsoft akhirnya membebaskan diri dari dogma lawas.” Dogma lawas tersebut ialah memaksa pengguna sebisa mungkin menggunakan Office di komputer berbasis Windows.

Dengan cara lama, Microsoft menerapkan “strategy tax.” Membuat produk untuk perangkat di luar ekosistem asli mereka biasa saja untuk tidak menyebutnya buruk. Office bagi komputer Mac misalnya, memiliki beberapa fitur yang hilang dari versi “original.” Misalnya fitur Open and Repair, Embed Fonts, Digital Ink, dan Document Inspector.

Joel Spolsky, pencipta bahasa makro bagi Excel, pada Wired, mengatakan keputusan Microsoft keluar dari cara lamanya ialah karena “dunia telah berubah.” Microsoft harus mau membuka diri jika tetap ingin eksis.

Meski Banyak Virus


Pertengahan 2017, McAfee mengidentifikasi bahwa file berekstensi .doc, file yang tercipta dari Office, bisa digunakan peretas menyisipkan eksploit atau pemicu malware untuk bekerja. Ada cukup banyak varian malware yang bisa dipicu oleh file .doc, semisal Coin miners, Ransomware, Rootkits, hingga Trojan.


Namun, meskipun cukup rentan, aplikasi-aplikasi dalam set Office tetap dipakai oleh pengguna setianya. Mengutip laman Tom’s Hardware, dua pertiga dari 1.168 profesional di bidang IT di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris, menggunakan Office. Dari dua pertiga itu, Office varian XP, 2003, dan 365 yang terunggul dibandingkan varian-varian lain.

Peter Tsai, analis dari firma pasar Spiceworks, mengatakan masih tingginya pengguna Office di kalangan profesional karena perusahaan-perusahaan tak memiliki biaya lebih untuk mengajari pada profesionalnya menggunakan aplikasi pesaing Office, bahkan mengajari OpenOffice yang gratis.

Namun, Michael Silver punya pendapat berbeda. Alasan mengapa Office tetap digunakan, meskipun rentan terhadap serangan IT dan ada beberapa alternatif ialah faktor “visual fidelity.”

“Jika Anda menulis dokumen di sebuah aplikasi dan membuka dokumen yang telah ditulis itu di aplikasi berbeda, hampir pasti tampilan dokumen tak akan sama,” kata Silver. Bagi dunia bisnis, “ini celaka.”

Para profesional ingin dokumen yang dibuatnya terlihat sama persis ketika dibuka di perangkat lain. Membuat dokumen di Microsoft Word dan membukanya di Google Docs adalah sesuatu yang dihindari karena perbedaan di antara keduanya. Akibatnya, Office masih berjaya hingga hari ini, dan Microsoft mencoba memanfaatkannya dengan Office 2019.

.

Baca juga artikel terkait MICROSOFT atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Suhendra
DarkLight