Obsesi King Gizzard & The Lizard Wizard dari Negeri Kangguru

Oleh: M Faisal Reza Irfan - 7 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
King Gizzard & The Lizard Wizard bisa jadi contoh bagaimana band produktif dalam meramu karya.
tirto.id - Tame Impala bukan satu-satunya grup musik moncer asal Australia. Nama lain seperti Fazerdaze yang beberapa waktu lalu tampil di Rossi Musik Fatmawati, Jakarta Selatan mampu menghibur para hipster ibu kota.

Negeri Kanguru itu juga punya King Gizzard & The Lizard Wizard—kelompok irama nada psych-garage-rock—yang patut diperhatikan dengan segala pencapaian fenomenal.

Ada beberapa perbedaan antara King Gizzard & The Lizard Wizard dengan Tame Impala atau Fazerdaze. Pertama, Tame Impala maupun si indie-darling Fazerdaze sama-sama pernah mampir ke Indonesia untuk menyapa fans mereka.

Sementara itu, King Gizzard & The Lizard Wizard yang juga disebut KGATLW belum pernah sekalipun manggung di Indonesia. Mereka hanya main di Singapura dalam gelaran Laneway Festival 2017 yang dihelat saban awal tahun.

Kedua, apabila Tame Impala dan Fazerdaze hanya membuat satu album tiap tahun—atau bahkan tidak sama sekali dan memilih mendatangi undangan dari satu festival ke festival lain, maka KGATLW selama 2017 kemarin, mampu membuat lima album.

Lima Album Bukan Wacana

Rencana membuat lima album dalam satu tahun telah diapungkan jauh-jauh hari oleh KGATLW. Dilansir The Music Australia, keinginan merilis lima album dalam sekali jalan pertama kali diungkap pada 11 November 2016 lalu, bertepatan ketika KGATLW mengeluarkan video musik “Rattlesnake” yang menjadi bagian dari album Flying Microtonal Banana.

Bagi penikmat musik, keinginan KGATLW mungkin dianggap gimmick belaka atau mencari sensasi pemberitaan. Keraguan semacam itu tentu sah-sah saja. Namun, sayangnya, KGALTW membuktikan pada publik bahwa wacana itu bukanlah lips service semata. Buktinya: pada 31 Desember 2017, KGALTW resmi merilis kepingan terakhir dari lima album dalam satu tahun berjudul Gumboot Soup.

Baca juga: Ketika Indie Lebih Menjanjikan

Infografik King Gizzard & The Lizard Wizard



Kegilaan KGALTW dalam melepas lima album sepanjang satu tahun tentu mendatangkan pertanyaan: apa motivasinya?

Apa yang mereka kejar? The Quietus, dalam analisanya, menjelaskan ambisi lima album tersebut tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sosok sang leader, Stu Mackenzie, yang tidak bisa berhenti berkarya. Di pikirannya, terdapat ribuan ide liar yang mau tidak mau harus segera dituntaskan dalam bentuk lagu dan album. Mereka hanya ingin meluapkan kreasi alih-alih mengejar Piala Grammy atau status Top 200 di chart Billboard.

Selain itu, ambisi lima album yang mereka apungkan merupakan bentuk penyegaran selepas intensitas tinggi kala membuat Nonagon Infinity pada medio 2015 dan 2016. “Kami mengerjakan album itu dengan sangat keras yang membuat kami nyaris membakar diri, atau setidaknya meremas leher masing-masing. Kami lantas beristirahat sejenak, dan kemudian semua ide lagu yang acak keluar dari kekosongan,” jelas Mackenzie pada NME. “Saya harap kami bisa menyelesaikan lima album ini.”

Album pertama yang rilis adalah Flying Microtonal Banana. Album ini dirilis pada Februari 2017. Di dalamnya, warna musik Timur Tengah yang eksotis dengan dibumbui percikan efek gahar menjadi daya tarik utama. Nomor-nomor seperti “Melting” dan “Nuclear Fusion” merupakan contohnya.


Lima bulan berselang, KGATLW merilis album nomor dua bertajuk Murder of the Universe. Berbeda dari Flying Microtonal Banana, di album ini, KGATLW cenderung memainkan nada-nada gloomy yang identik dengan kehancuran dan kegelapan. Judul track di dalamnya pun terkesan sangar, seperti “The Reticent Recounter,” “The Balrog,” hingga “Vomit Coffin.”

Suasana seperti itu memang sengaja dipilih KGATLW sedari awal. Menurut pengakuan mereka, Murder of Universe dibuat untuk menggambarkan alam semesta dalam tiga tahapan distopia. Bahwa, total 21 nomor yang tertera di sampul album merupakan reaksi terhadap malapetaka politik, marabahaya teknologi, perang, dan masa depan dunia yang kiranya tidak bisa diselamatkan lagi.

Selepas bergumul dengan nuansa kegelapan, KGATLW merilis album sukacita hasil kolaborasi dengan Mild High Club, kolektif beraliran neo-jazz-indie-rock asal Los Angeles, berjudul Sketches of Brunswick East. Album yang dilepas pada Agustus lalu tersebut, memuat 13 nomor yang kental akan perpaduan jazz, vokal kurang bertenaga cenderung bermalas-malasan, dan irama catchy lagi membuai pikiran. Nomor-nomor semacam “The Spider and Me,” “Rolling Stoned,” serta “You Can Be Your Silhoulette” bisa jadi soundtrack jalan-jalan di pedestrian Malibu atau Sydney.

Usai album kolaborasi, pada November 2017, KGATLW melepas Polygondwanaland. Album ini cukup unik, sebab KGATLW membagikan master digital setiap lagu secara gratis. Dari sana, para penggemar KGATLW bisa membuat salinan mereka sendiri dan bila mereka mau, bisa dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan.

Terakhir, KGATLW melepas Gumboot Soup pada 31 Desember kemarin. Gumboot Soup, secara musikalitas, berhasil menjaga konsistensi warna psych-rock KGATLW. Track seperti “Beginner’s Luck,” “Barefoot Desert,” dan The Great Chain of Being” merupakan lanskap pencarian jatidiri yang seakan struktur harmoninya dibuat oleh Trent Reznor, vokalis grup industrial-rock, Nine Inch Nails.

Potensi Panas dari Melbourne

KGATLW berdiri pada 2010 di Melbourne, Australia. Anggotanya terdiri dari Stu Mackenzie (gitar, vokal), Ambrose Kenny-Smith (harmonika, vokal), Cook Graig (gitar, vokal), Eric Moore (drum), Joey Walker (gitar), Lucas Skinner (bas), dan Michael Cavanagh (drum).

Band ini dibentuk berdasarkan relasi tongkrongan. Semua anggota KGATLW dibesarkan dan mengenyam bangku pendidikan di daerah Deniliquin, Melbourne, dan Geelong. Nama KGATLW dipilih secara kebetulan. Suatu waktu, mereka diminta tampil dalam acara band kecil-kecilan oleh seorang kawan. Namun, menjelang tampil mereka masih tak punya nama. Akhirnya, Mackenzie mengusulkan nama ‘Gizzard Gizzard.’ Sementara yang lainnya, menginginkan ‘King Lizard’—merujuk pada julukan vokalis The Doors, Jim Morrison. Akhirnya muncullah nama King Gizzard & The Lizard Wizard.

Debut album panjang mereka terjadi pada 2012 lewat 12 Bar Bruise. Setelahnya, produktivitas mereka seolah tak tertahankan dengan konsisten merilis album dari tahun ke tahun. Jumlahnya tak hanya satu album, tapi bisa lebih di setiap tahun. Total, sudah 13 album panjang mereka hasilkan dalam kurun waktu 5 tahun.

Seiring waktu, popularitas mereka mulai menanjak. Album-albumnya banyak diulas positif oleh kritikus serta meninggalkan kesan menyenangkan bagi para pendengar. Ditambah lagi, festival-festival musik besar macam Glastonbury, Reading, dan Coachella rutin mereka sambangi.


Momentum tersebut lahir tatkala mereka membuat Float Along – Fill Your Lungs (2013), sebuah album dengan track andalan “God Is Calling Me Back Home” dan “Let Me Mend the Past.” Kemudian, Paper Mache Dream Balloon (2015) yang terasa begitu folk dengan sisipan napas jazz. Puncaknya, Nonagon Infinity (2016) yang atraktif dengan bunyi instrumen aneh namun memikat seolah mereka sedang mengajak Jimi Hendrix dan Syd Barrett mengisi part-part lagu sembari melinting ganja.

Pada dasarnya, KGATLW memang punya karakter sebagai sebuah band. Mereka unik, sebab, meski bertumpu pada psych-rock, musik mereka bisa menjalar hingga garage, acid, lo-fi, progressive, jazz, sampai experimental, tanpa harus mengubah struktur utama.

Selain itu, ciri khas lainnya adalah mereka mampu menghasilkan apa yang disebut microtonal tuning. Istilah teknis tersebut merujuk pada hasil modifikasi mereka dalam mengubah tune gitar agar bisa menghasilkan beragam varian nada. Kendati rumit, KGATLW paham betul bagaimana memaksimalkan kebutuhan ini.

Kombinasi kedua keunikan itu menghasilkan lagu-lagu yang mempertemukan Pink Floyd, The Rolling Stones era Brian Jones masih waras, Led Zeppelin, Motorhead, sampai The Grateful Dead, dengan tambahan alunan harmonika, flute, serta efek-efek mesin gitar aneh yang semakin membuat musik mereka eksentrik.

Keberadaan KGATLW membuktikan bahwa musik tidak sekadar berbasis Amerika-Eropa semata dan Australia tidak sebatas Tame Impala. “Kurasa sudah jelas, Tame Impala—band psych-rock veteran—mengambil alih dunia. Tapi, saya pikir ada banyak band Australia yang brilian. […] Anda bisa pergi ke banyak tempat di Melbourne dan melihat band bermain di hadapan 30 orang. Dan rasanya begitu menakjubkan,” kata Mackenzie, sang anggota Mackenzie.

Ada atau tidak ada lampu sorot, dan entah berapa album yang ingin mereka buat, yang jelas mereka hanya tujuh orang pemuda Melbourne yang ingin bersenang-senang dan menghasilkan musik rock paling menghipnotis, menyegarkan, dan membuat gendang telinga penggemarnya ketagihan. Namun, yang patut menjadi catatan, mereka lahir tak dari Amerika-Eropa yang selama ini jadi sorotan di jagat musik.

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya M Faisal Reza Irfan
(tirto.id - Musik)

Reporter: M Faisal Reza Irfan
Penulis: M Faisal Reza Irfan
Editor: Suhendra