Obligasi Diproyeksikan Masih Jadi Primadona BUMN di 2020

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 11 November 2019
Dibaca Normal 1 menit
Kebutuhan untuk modal usaha dari BUMN tersebut semakin besar, sehingga opsi obligasi jadi opsi tepat untuk himpun dana.
tirto.id - Director Equity-Fixed Income Trading and CRM Bahana Skuritas Ermawati A Erman menilai pada 2020 merupakan masa yang tepat untuk perusahaan di dalam negeri, terutama BUMN menghimpun dana dari obligasi.

"Kita optimistis. Sekarang kalau keadaan market kita lihat banyak yang size yang enggak besar. Karena mungkin BUMN atau anak yang saham belum melantai tahun ini. Tapi tahun depan dengan beriringnya kebutuhan capex jalan terus, kita sih optimis," kata dia usai menghadiri Gathering Obligasi II KAI, Ballroom Hotel Ritz Carlton, Sudirman Central Bussines District (SCBD), Senin (11/11/2019).

Ia menilai, kebutuhan untuk modal usaha dari BUMN tersebut semakin besar. Terutama ia meyakini, kondisi ekonomi makro baik domestik maupun global tahun depan cukup stabil, sehingga menjadi waktu yang tepat perusahaan pelat merah menghimpun dana di pasar modal.

Pada Oktober lalu, World Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini bakal tetap terjaga pada angka 5 persen.


Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan untuk terus tumbuh dengan capaian sebesar 5,1 persen pada 2020 dan 5,2 persen pada 2021.

"Ya pasti karena kebutuhan untuk modal bertambah besar. Misalnya PT KAI aja baru 2-3 tahun ke pasar modal. Dia tunjukkan tren perusahaan besar BUMN akan ke pasar modal. It's very good time. Makro bagus, anggaran bagus, moneter juga ada stimulus rate cut [pemangkasan suku bunga]," jelas dia.

Hal serupa juga dikatakan Chief Economist PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro.

Menurut dia, obligasi masih akan jadi pilihan karena tren global menunjukan adanya penurunan suku bunga.

"Kalau dilihat ya sekarang itu sedang ada tren penurunan suku bunga secara global. Jadi misalnya, ini berdampak juga ke bantuan obligasi pemerintah tapi juga koorporasi. Kalau di lihat di seluruh dunia itu ada bahkan kayak di negara Eropa itu trennya suku bunga negatif," jelas dia.

Dengan demikian dia memperkirakan, penurunan suku bunga akan berlanjut sampai 2020. Namun, penurunannya tidak seagresif tahun ini.

"Masih ada ruang untuk penurunan suku bunga lanjutan. Meskipun tidak sedrastis tahun ini, yield-nya juga akan turun," terang dia.

Sebagai informasi, Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuannya atau BI7-Day Reserve Repo Rate (BI-7DRR) hingga empat kali guna menjaga momentum 2019.

Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG BI) tanggal 23-24 Oktober, BI kembali menurunkan BI7-DRR sebesar 25 basis points (pbs) menjadi 5 persen.

Sejak Juli 2019, BI telah menurunkan suku bunga kebijakan sebanyak 4 kali berturut (100 bps) dari tahun lalu yang mencapai 6 persen.

Respons tersebut dilakukan BI karena pertumbuhan ekonomi domestik mengalami perlambatan sepanjang 2019.


Baca juga artikel terkait OBLIGASI atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Zakki Amali
DarkLight