Nyepi 2018: Umat Hindu Bersihkan Alam Semesta di Acara Tawur Agung

Oleh: Mohammad Bernie - 16 Maret 2018
Dibaca Normal 1 menit
Ada sejumlah hewan yang dikurbankan untuk Tawur Agung ini, di antaranya kambing, anjing, angsa, dan bebek.
tirto.id - Sekitar 5 ribuan orang memadati pura Aditya Jaya Rawamangun Jakarta Timur, Jumat (16/03/2018). Dengan menggunakan udeng dan pakaian putih khas Hindu Bali untuk laki-laki, dan kebaya aneka warna untuk perempuan, mereka membaur dalam upacara Tawur Agung.

"Ini adalah rangkaian dari kegiatan Nyepi yang disebut Tawur Agung, itu adalah pecaruan, pembersihan buana agung, pembersihan alam semesta ini dengan upacara pecaruan," kata Made Romyasa Ketua Pelaksana kegiatan Upacara Agung di Pura Aditya Jaya.

Upacara Tawur Agung di Pura Aditya Jaya sendiri dimulai pukul 09.00 WIB. Pecaruan atau pengorbanan menjadi inti dari acara ini. Meskipun begitu, proses penyembelihan hewan tidak dilakukan di tengah upacara tapi sebelumnya.

Made Romyasa mengatakan, ada sejumlah hewan yang dikurbankan untuk Tawur Agung ini, di antaranya kambing, anjing, angsa, dan bebek.

"Sebelum hewan itu disembelih kita upacarai dulu," kata Made.

Semua hewan ini kemudian akan dikumpulkan di tempat bernama caru sebagai persembahan kepada hal-hal negatif di bumi ini, guna menetralisir hal-hal negatif itu supaya tidak mengganggu manusia.

Pada akhirnya lewat upacara Tawur Agung ini umat Hindu berharap alam semesta dapat bersih dari segala bentuk kejahatan sehingga ke depannya umat Hindu akan lebih suci, lebih tenang, dan lebih baik lagi dalam menjalani hidup.

Setelah melalui proses pecaruan, umat Hindu akan mengambil Tirta atau air suci dari pura. Tirta akan dibawa ke rumah masing-masing untuk jadi bagian dari upacara pengerupukan. Upacara pengerupukan sendiri bermakna sebagai upaya membersihkan energi negatif yang ada di rumah dan sekelilingnya.

Keesokan harinya umat Hindu akan menjalani caturbrata atau penyepian yang terdiri dari tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak berpergian (amati lelungan), dan tidak mendengarkan hiburan (amati lelanguan).

Menurut Made Sudarta dari Suka Duka Hindu Dharma DKI Jakarta, Nyepi memiliki arti menahan diri yang pada akhirnya mendorong umat Hindu untuk bertoleransi

"Dengan begitu kita bisa bertoleransi dengan berbagai lingkungan, berbagai umat beragama, untuk kemajuan rakyat indonesia supaya damai dan sejahtera," kata Made Sudharta

Sebelum melaksanakan upacara Tawur Agung, umat Hindu di Jabodetabek sudah lebih dulu melakukan penyucian diri sendiri di Pura Segara Cilincing pada (11/03). Acara ini pun turut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Perayaan Nyepi tahun 2018 ini sendiri mengambil tema "Melalui Caturbrarata pemyepian kita tingkatkan soliditas sebagai perekat keberagaman dalam menjaga keutuhan NKRI"


Baca juga artikel terkait HARI RAYA NYEPI atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Alexander Haryanto